RUJAK BUAH ISTIMEWA ALA RIKE JOKANAN

Description:
Rujak adalah salad khas Indonesia. yang bikin rujak saya special adalah karena kacangnya kacang panggang bukan kacang goreng minyak atau sangrai. silakan mencoba resep saya. semoga pas di lidah dan ketagihan.

kabar-kabar rasa rujaknya ya..

Ingredients:
Bahan bumbu:
– Kacang tanah panggang (Dua Kelinci atau Garuda)
– Gula merah
– Cabai rawit sesuai selera
– Air asem matang atau asem kawak (asam Jawa yang diawetkan) dua sendok makan
– Garam secukupnya

Buah (semua dipotong dengan ukuran sedang):
– Mentimun muda
– Kedondong tua
– Nanas matang
– Bangkuang segar
– Jambu monyet tua (jambu yang tua bukan monyetnya…)
– Jeruk bali matang
– Buah jamblang merah atau putih
(Silakan tambahkan buah apa saja yang Anda suka)

Directions:
Cara membuatnya:
– Haluskan dulu kacang tanah panggangnya sampai halus.
– Tambahkan gula merah dan garam
– Masukkan dua sendok makan air asem kawak
– Masukkan biji mentimun untuk mengencerkan bumbunya, tidak perlu menambahkan air lagi.
– Uleg lagi hingga tercampur rata.

CUMI-CUMI DAN CAMELIA EBIET G ADE

CUMI-CUMI DAN CAMELIA EBIET G ADE

Bukan Ebiet kalau tak puitis. Dan bukan Ebiet kalau tak berpuisi tentang manusia dengan simbolisasi alam raya. Ebiet, sebagai penyair, menempati genre yang sejenis dengan Robert Frost, penyair dari daerah perbatasan USA dan Canada. Mereka berdua sama-sama “mengandalkan” alam untuk merayu pembaca dan pendengar puisi mereka.

Ada sebuah syair lagu Ebiet yang sampai sekarang tak bisa saya pahami.

Mengapa dia memakai istilah “berenang bersama cumi-cumi”?

Saya lebih bisa memahami jika dia menuliskan sajaknya itu dengan kata “berenang bersama ikan-ikan”. Saya membayangkan cumi-cumi itu bertinta, kalau tak berkenan akan menyemprotkan tinta ke muka lawan. Apa Ebiet sedang bermain makna cumi-cumi yang jinak pada manusia yang baik? Apakah Ebiet ingin sekedar berbeda dengan menuliskan cumi-cumi dan bukan ikan-ikan? Bagaimana seandainya saya ganti kata cumi-cumi tersebut dengan ikan ayam-ayam ubur-ubur atau lumba-lumba atau jenis penghuni laut lain yang berbeda?

Ebiet memang sebuah fenomena yang berbeda. Dia berhasil menggugat hati penggemarnya untuk senantiasa berpikir bahwa jagad raya mengandung kekayaan makna yang bisa dibaca oleh manusia dalam keadaan apapun. Ingatkah Anda pada bunga camelia yang dia jadikan lagu sampai beberapa jumlahnya. Jika Camelia adalah sebuah bunga yang indah bagi Ebiet, maka tak pelak lagi bahwa keindahan itu tetap menjadi misteri karena sesungguhnya Ebiet hanya ingin mencitrakan sebuah keindahan sempurna yang even tak didapatkan pada istrinya.

Camelia, buat saya pendengar Ebiet, tak hanya keindahan seorang wanita yang konon mewakili keindahan dunia. Camelia adalah sebuah kecantikan misterius yang dikandung oleh sebuah kebenaran. Wanita yang bernama Camelia itu saya yakin tak ada. Wanita yang secantik kecantikan Cameli-nya Ebiet juga tak ada. Camelia muncul begitu saja, sebagai sebuah ekspresi Ebiet untuk dia ucapkan saja. Camelia yang disebut cantik dan indah ideal menurut Mas Ebiet jelas bukan wanita. Dia jelas bukan kecantikan yang terindera karena jika ya, maka Mas Ebiet akan menggambarkannya dengan bunga lain.

Kembali kepada kata cumi-cumi. Mengapa cumi-cumi yang diajak berenang? Sungguh saya bertanya-tanya apakah cumi-cumi ini muncul sebagaimana munculnya kata Camelia di lagu Ebiet yang lain. Kata cumi-cumi muncul karena tak ada lagi kata yang bisa Ebiet jadikan wakil untuk mengekspresikan keterkesimaannya terhadap kenyataan bayangan yang dia tangkap pada ilhamnya.

Mas Ebiet, selamat atas Camelia dan cumi-cuminya! Saya bukan penggemar setia Anda, tapi saya merasakan syair-syair Anda telah mencambuk batin saya untuk terus bertualang berenang bersama cumi-cumi untuk mencari Camelia.

September 20, 2008

BUKA BERSAMA LIA TARUNA

BUKA BERSAMA LIA TARUNA

September 19, 2008

Jumat tanggal 19 September, 2008 saya mendapat undangan berbuka bersama di LIA Taruna Tangerang, tempat saya mencari angin segar ketika pikiran penat gara-gara deadline.

Segera saya minta cuti di kantor demi menghadiri acara langka ini karena di acara semacam inilah saya bisa ketemu teman-teman yang jadwal mengajarnya tidak memungkinkan kami untuk setiap saat berjumpa.

Acara berbuka bersama baru mulai Maghrib tapi saya sudah siap di LIA sejak sebelum Dhuhur. Berdasar rencana pribadi saya, saya ingin mengabadikan peristiwa thunan ini untuk koleksi album saya. Canon usang saya yang mulia telah siap sedia.

Segalanya disiapkan bersama oleh para staff yang dengan suka rela datang awal. Karena sedang term-break (liburan tiga bulanan), guru tak datang awal. Hanya saya yang tinggal dekat dengan LIA saja yang sok rajin he he he…

Keluarga LIA berdatangan dari segala penjuru, dari Kota Bumi, Rajeg, Modernland, Cipondoh, Pengayoman, Perum 2, Serpong, Kali Deres, Pasar Baru, Pasar Lama, bahkan dari Jakarta Barat, Jakarata Selatan. Muslim dan non-muslim hadir semua; gak ada tuh sungkan marsungkin (boso opo ikiii), semua guyub rukun. Salam-salaman menjadi sebuah acara yang sangat berharga karena tak setiap waktu kami bisa berkumpul (hampir) lengkap seperti ini. Mr. Bagja yang berdomisili di Depok tak kunjung tiba hingga akhir acara. Ms. Heryanti dari Teluk Naga juga gak nongol juga. Ria sudah mudik ke Palembang bersama suami dan bayi tercinta. Ibu Kantin juga tidak bisa hadir. Tak apa, mungkin mereka ada keperluan yang jauh lebih penting.

Menjelang berbuka, acara demi acara dirangkai sederhana. Pak Agus Em membuka acar dengan gaya nyantainya. Lalu Janitor Sahid dengan kefasihannya menyanyikan ayat-ayat Al Quran yang sangat menyentuh jiwa kami. Selanjutnya Mr. Nurzan, staff LIA yang memang jebolan Ilmu Hadits Al Azhar mesir didapuk memberi petuah penyejuk jiwa kami. Gaya Mr. Nurzan – nickname pemberian siswa untuk beliau adalah Mr. Bean – membuat kami tak bosan mendengarkannya walau kadang harus meringis tersindir khotbahnya. Apalagi tak sungkan Mr. Bean gadungan ini menyebut nama-nama kami untuk meminta respons. Dasar sudah kenal banget, ya kita malah balik ngeledekin Mr. Bean yang alim ini. Tak pelak suasana akrab menghangatkan suasana.

Tepat pukul 5:52 WIB, kami mendengar adzan Maghrib dari televisi dan berdoa bersama pun dimulai dipimpin oleh Mr. Nurzan.

Setelah minum seteguk dua teguk, kami melaksanakan sholat Magrib berjamaah di ruang 109.

Acara berbuka berat dilaksanakan setelah sholat.

Disinilah ajang kangen-kangenan itu berlangsung. Suara anak-anak kecil bercampur dengan tawa canda ABG dan sapa ramah orang dewasa.

Hidangan disiapkan sendiri oleh para staf. Sederhana tapi lezat dan nikmat karena semangat kebersamaan kami. Nasi dan makanan berat disiapkan oleh Mbak Nung dan Mbak Yanti. Ada capcay, daging masak paprika, sup ala Cimone, rujak Juhi, sate ayam dan kerupung udang tersaji di ruang 103. Snack berupa martabak dan bolu gulung bumbu spekuk disiapkan oleh Azizah, istri Janitor Lilik. Es podeng dibeli di Pasar lama Tangerang oleh Janitor Lilik. Rasanya semua spesial karena dimasak dengan keikhlasan dan cinta he he he… Oh ya ada jeruk medan dan Aqua juga.

Ah, kapan lagi bisa ya bisa berbuka bersama. semoga tahun depan masih ada kesempatan. Amin.

September 20, 2008

BERJUALAN TERNYATA TAK SEGAMPANG MENULIS

BERJUALAN TERNYATA TAK SEGAMPANG MENULIS

(sharing pedagang batik baru)

Seorang teman saya sekarang tinggal di Pekalongan dan mejadi juragan batik mengikuti jejak sang ibunda. Sebelum menetap di Pekalongan, teman saya ini mengajar di LIA Kelapa Gading kemudian di LIA Yogyakarta. Karena mengikuti sang suami tercinta, dengan suka rela dia mengurus anak-anaknya yang lucu-lucu dan pintar; saat itulah dia berganti profesi dari mengajar ke berjualan.

Awalnya saya ragu apakah dia bisa mempertahankan bisnisnya itu sedangkan selama di Jakarta dia tak pernah sekalipun “menyentuh” dunia bisnis. Kerjanya hanya sekolah dan klenceran (bepergian, Bahasa Jawa) ke luar negeri menikmati fasilitas sebagai anak tunggal berorang tua berada tak pernah kekurangan apa-apa. Haah…

Ternyata memulai dari nol dan sekarang dia berhasil. Bisnisnya maju dan dia menjadi bosnya juragan-juragan batik. Suatu hari dia sms saya dan menawari saya memasarkan batiknya kepada teman-teman di Jabodetabek+sekitarnya dengan harapan cita-citanya menjadi penguasa alam batik berhasil dan (dengan sengak berpretensi) membantu saya untuk lebih cepat mewujudkan cita-cita menjadi bos sayuran organik ha ha ha…

Oke… kirim saja batik elu, kali aja laku. Tapi jangan salah ye, gue gak pernah berdagang secara sukses. Dulu waktu es em a pernah jualan sampul buku dan laku karena memang gambarnya Tommy Page. Waktu kuliah jualan sandal kulit tapi gak untung karena akhirnya sandalnya gue gave away ke para pembeli yang gak kunjung bayar cicilan dengan berbagai alasan. Akhirnya elu tahu sendiri gue cuma bisa jualan omongan dan tulisan, itupun gak terlalu laku, alias sering ditolak he he he…

Sekarang ini saya sudah memasarkan kiriman Nur Dyah (nama teman saya) pada putaran keempat. Saya tidak berjualan sendiri melainkan menyerahkannya kepada teman yang lain. Saya hanya menjadi talang saja. Untung tipis gak papa, yang penting lancar… Sepertinya saya udah kayak Mas Karyo aja ha ha ha…

Itu saja udah bikin saya pusing gak karuan dengan urusan hitungan ini-itu dan kiriman barang yang telat dll.

Sekarang saya sedang belajar untuk menjadi pedagang batik yang lebih teliti mencatat dan meghitung sehingga barang dan labanya jelas larinya kemana. Waduh… Ternyata berdagang itu lebih sulit daripada menulis.

Wish me luck ya…

September 20, 2008

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

Lebaran sudah dekat. Saya ingat waktu kecil dulu tiap Lebaran saya ribut minta dibelikan baju baru. Sebenarnya itu terjadi hanya sampai kelas empat es de karena sesudahnya saya sudah belajar bahwa baju baru tidak penting. Yang lebih penting adalah baju yang bersih.

Dulu saya dan dua kakak perempuan saya selalu mendapat baju baru menjelang Lebaran. Kami digiring untuk diukur badan di penjahit handal langganan keluarga kami, Mbak Nyo. Mbak Nyo ini adalah salah satu dari dua bersaudara yang berprofesi sebagai penjahit. Mereka adalah peranakan Tionghoa yang menghabiskan hidupnya di tanah air Indonesia ini. Mereka penganut Kong Hu Chu tapi selalu turut merayakan Riyoyo (Lebaran, Bahasa Jawa) bersama kami. Mbak Chu, kakak perempuan Mbak Nyo sering menghantarkan kue-kue kering kepada ibu saya seminggu sebelum Lebaran dan saat mereka memperingati hari besar mereka. Mbak Her, adik terkecil mereka – sekolah bidan saat itu – membantu memberikan sentuhan akhir berupa benik (kancing, Bahasa Jawa) atau sulaman cantik di bagian-bagian tertentu busana kami. Fyi, busana yang mereka buat untuk kami selalu haute couture – one special design for one person one time. Hebat!!!

Berkat Mbak Nyo lah kami tampil rapi dan bersih ditambah lagi elegan memakai baju jahitan Mbak Nyo dan Mbak Chu yang tergolong halus dan mahal di daerah dan jaman kanak-kanak kami. Anak kecil semanis kami memang menjadi manequin hidup yang mempromosikan jahitan mereka.

Ada satu lagi keperluan kami yang lain yaitu mukena. Jaman dulu, mukena gak model-model. Kami menyebutnya mukena blanjuran (one piece, Bahasa Jawa). Warnanya pasti putih dan pasti terbuat dari kain mori (kain yang lazim dipakai untuk membungkus mayat). Mbak Nyo dan Mbak Chu juga yang menangani ini. Mereka membuatkan kami bertiga mukena yang rapi dan berjahit halus. Kata mereka, mereka hanya membuat rukuh (mukena, Bahasa Jawa) untuk Mbak Andri, Mbak Yuda dan Mbak Rike (kami bertiga) tidak untuk orang lain. Orang lain tak bolehi ndandakne (menjahitkan, Bahasa Jawa) baju saja.

“Biar pejabat ndak tak ladeni, Bu. Ndak mau bikin buat sembarang orang. Buat Bu Jokanan thok ae. Ndak mbayar juga ndak papa. Ijoli kaine aja,” kata Mbak Nyo pada ibu saya. (Biar pejabat saya tidak mau melayani, Bu. Tidak mau bikin untuk sembarang orang. Buat Bu Jokanan saja. Tidak dibayar tak apa-apa. Ganti harga kain saja.)

Kalau ingat mereka, saya terharu dan bangga. Di seluruh kecamatan hanya kami bertiga yang memakai mukena bikinan peranakan Tiongkok, dan mereka membuatnya tanpa diminta. Bu Camat (istri Pak Camat), Bu Ndanramil (istri kepala Koramil), Bu Ndansek (istri kepala Polsek), Bu Dokter (istri dokter kecamatan) dab ibu-ibu pejabat lain tidak berhasil sekalipun merayu Mbak Nyo dan Mbak Chu untuk membuatkan mukena yang unik. Sedangkan kami, hanya anak Bu Bidan tapi memakai mukena buatan penjahit kelas satu hue he he he…

Menjelang Lebaran ini, saya teringat kembali keluarga Tiongkok yang sangat baik hati pada kami itu. Koh Chuan, anak tertua di keluarga itu pasti sudah tua sekarang. Koh Chuan ini suka sekali memetikkan jambu gelas untuk kami setiap kami datang untuk ukur badan. Mbak Nyo dan Mbak Chu mungkin sudah punya anak-anak buah yang karyanya pasti juga sehebat mereka. Mbak Her mungkin sudah menjadi bisan teladan dan disayang masyarakat tempat dia bekerja. Saya merindukan mereka setelah 23 tahun tak bersua.

Mereka adalah tetangga-tetangga yang mulia. Yang tidak takut berbaur dengan kami tapi tetap menunjukkan dignity-nya dengan cara menolak membuatkan sesuatu yang memang hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki keberanian yang serupa.

Saya memandang mukena putih dan blus putih yang diberikan oleh Lala, Isal dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun. Saya sempat kepikir kapan ya saya bisa memakai baju baru dan mukena baru bikinan Mbak Nyo dan Mbak Chu lagi atau at least baju baru dan mukena baru yang dijahit dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih manusia?

Dedicated to all my brothers and sisters of the same kind with Mbak Nyo, Mbak Chu, Mbak Her and Koh Chuan. Let’s live in harmony.

September 20, 2008

BERANI BELAJAR, BELAJAR BERANI

BERANI BELAJAR, BELAJAR BERANI

Sejak hari pertama saya dilahirkan sebagai manusia melalui ibu saya, saya telah menjadi seorang makhluk pembelajar. Sadar atau tidak, saya telah menjadi murid daris eorang guru yang bernama semesta. Saya belajar bernapas dengan benar, menangis dengan benar, makan dengan benar, bermain dengan benar, bersosialisasi dengan benar dan tentunya satu hal terpenting adalah belajar belajar dengan benar.

Tak selamanya menjadi seorang pembelajar itu menyenangkan. Kadang saya merasa lebih baik tidak belajar sama sekali daripada harus menanggung rasa malu atau sakit tak terkira akibat posis sebagai pembelajar.

Saya telah menikmati udara dunia ini lebih dari seperempat abad. Saya telah melewati masa kanak-kanak, remaja dan dewasa saya jauh dari keluarga. Jika dihitung secara matematis, 75% hidup saya jauh dari orang tua. Bentukan makhluk mandiri itu berupa saya yang sekarang hanya memiliki dua pilihan dalam hidup: belajar secara mandiri dalam segala hal atau tidak survive sama sekali.

Berani belajar adalah sebuah tekad yang telah saya canangkan demi kelangsungan hidup saya yang kata teman-teman saya untuk sementara ini “solitary”. Apapun akan saya usahakan pelajari supaya saya tidak jatuh pada lubang yang sama. Apapun akan saya pikir dan analisis secara agak njelimet sehingga kadang merugikan diri sendiri. Tak heran 12 tahun lalu sepupu saya menyebut saya worry sister karena terlalu banyak mikir ini-itu sebelum melakukan sesuatu. Saya tak ingin hidup saya menggelinidng seperti bola bowling dihantam pelempar amatir. Saya ingin bola bowling saya meluncur cepat dan tepat sasaran menghantam dan menjatuhkan semua pin di ujung sana. Saya tak mau salah sasaran walaupun sesekali menggelindingnya masih melenceng kesana-sini.

Saya makhluk pembelajar yang tak mau berhenti hanya karena seorang atau banyak orang menentang saya. Kalau saya harus mundur itu semata karena memang saya harus belajar mundur BUKAN karena saya menyerah.

Namun saya punya sebuah jurus jita untuk mengimbangi worry yang datang seperti air bah sebagai akibat pancingan terlalu keras berpikir tersebut. Apakah itu?

Saya belajar berani. Saya tak takut dengan akibat perilaku saya karena saya telah memikirkan bahwa selalu ada resiko yang mesti ditanggung. Ada cost yang harus ditunaikan. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Bahkan Tuhan “berjual-beli” dengan kita. Dalam bahasa Arab disebut tijaroh. Dalam agama saya, Allah SWT ditafsirkan membeli amal kita – ini hubungannya dengan motivasi terhadap pemeluk agama untuk berbuah baik dalam kehidupan di dunia sehingga tak merugi sebagai manusia.

Keberanian saya menguji cara belajar saya. Apakah saya berani menanggung malu jika saya mengaku sebagai pelajar di depan anak kecil yang ternyata mengajari saya belajar melupakan kesalahan temannya? Seorang lelaki balita bernama Isal segera berbaikan dengan teman kecil bernama Billy hanya beberapa detik setelah mereka berantem. Padahal saat itu saya berpikir bahwa Isal tak akan segera memaafkan Billy yang telah (saya yakin) dengan sengaja tapi tak tahu resikonya mencopot roda penyeimbang sebelah kiri sepeda kecil Isal. Aksi Billy menyebabkan sepeda Isal terlalu miring ke kiri.

Apakah saya berani belajar berani mengakui ketidakdewasaan saya menghadapi musibah orang lain dengan aksi cepat? Saya segera berkaca pada sepupu saya waktu kecil dulu. Mas Ongko suka sekali meludahi makanan di piringnya supaya tak seorang pun saudara kami yang lebih tua mengambil bagiannya. Fyi, sepupu-sepupu kami yang lebih tua itu jahilnya minta ampun… Suatu hari saya menghindari “musibah” berupa sepupu yang jauh lebih tua yang dengan kemaruk mencicipi makanan saya di piring dengan ganas sambil tertawa-tawa penuh kemenangan. Menconth Mas Ongko, saya segera meludahi makanan saya, sepupu tua saya itu berhenti tertawa menyadari kemarahan saya. Bukannya menghibur, dia malah kabur. Mas Ongko dengan sangat sabar memberikan makanannya yang masih bersih dan kemudian dengan tenang menghabiskan makanan saya yang sudah saya ludahi berkali-kali tadi. Halaaah… Dewasa sekali kamu Mas… Sedangkan sepupu tua tadi tak muncul bertanggung jawab.

Saya sedang mencari format hidup saya yang paling tepat sambil terus berjalan diantara belantara guru berupa semesta. Seperti Diagram Venn, saya bisa saja berganti semesta pembicaraan. Semesta pembicaraan saya b
isa meluas dan menyempit tergantung kodisi saya alami. Jika saya harus berapa pada sebuah lingkaran mandiri itu karena semata saya harus berpikir sendiri. Jika saya harus menjadi irisan itu semata saya harus bersifat netral, bukan mendua. Jika saya hanya diluar lingkaran, maka saya memagn harus tak terlibat pada konflik manapun.

Saya menikmati hidup ini dengan berani belajar dan belajar berani.

Ayo, ajari saya Sudara-Sudara dengan apapun yang membuat saya merayakan kemanusiaan saya.

Revised on September 21, 2008

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

Winnetou adalah idola masa kecil saya, jaman es de dulu.

Kepala suku Apache ini memberikan inspirasi bagi seorang Rike kecil untuk bersikap outstanding terhadap dirinya sendiri yang selama itu (sebelum membaca komik Old Shatterhand dkk) sebagai seorang pengecut diantara teman-temannya.

Saya termasuk anak yang pemalu dan sedikit bicara waktu kecil walaupun saya termasuk anak yang banyak teman. Biasanya saya akan menjadi pemerhati diantara teman-teman saya yang bicara blah blah blah… lalu saya ikut tertawa terbahak-bahak dengan suara yang membuat teman saya makin kencang tertawa. Tapi ada satu urusan yang teman-teman saya tak punya dan saya punya. Saya berani tampil di depan umum sedangkan teman-teman yang banyak bicara itu hanya sekedar menjadi supporter.

Tak pelak lagi ini berkat Winnetou salah satunya. Winnetou, anak dari Intschu-Tschuna, adalah seorang Indian Apache muda yang berjiwa ksatria yang kemudian “terpaksa” memimpin sukunya setelah ayahnya (dan adiknya, Nscho-tschi) dibantai oleh Santer, bandit tengik tak beradab, pencuri emas kelas kakap (Silakan baca Winnetou I-III, ditambah Winnetou IV lebih ok).

Awalnya saya sangat terkesan dengan si Old Shatterhand karena dia ini bule baik hati yang berbaur dengan suku asli di Amrik sana. Dia bagaikan pahlawan bagi saya; terbayang bagaimana dia menyelamatkan seorang anak Indian ketika kampungnya diserbu suku lain yang sedang terbakar emosi. Keahliannya menembak membuat saya terbuai dengan mimpi “bule keren”. Namun setelah membaca ulang komik lecek karena saking seringnya menjadi rebutan Mbak Andri, Mas Herin, Mbak Yuda, saya dan teman-teman mereka, saya lebih terkesan dengan pribadi Winnetou karena kebijakannya dan keterbukaan alam pikirnya terhadap Old Shatterhand tersebut.

Bagi saya pikiran terbuka sangat penting, jauh lebih penting daripada kepandaian itu sendiri. Banyak orang pandai yang terjengkang oleh jaman karena tak mampu mengulas kemajuan dan perubahan dengan alam pikirnya yang jumut. (Saya sendiri tidak pintar dan masih tertutup ha ha ha…)

Winnetou membiarkan jiwanya direngkuh semesta. Dia menjadi Indian yang saleh karena dia mampu menjaga tradisi Indian-nya dan sekaligus memahami “kesalehan baru” yang dibawa oleh kawan Old Shatterhand itu. Old Shatterhand menganggap bahwa Winnetou masuk agamanya (Katolik) karena selama hidupnya Winnetou menjalankan kesalehan hidup yang dapat dipahami secara Katolik dan masyarakat Indian menganggap bahwa Winnetou masih Indian tulen karena tak satupun dari kemuliaan kepala suku mereka itu yang janggal dimata hukum Indian.

Winnetou seperti sebuah ikon moral bagi saya yang kanak-kanak dan tinggal jauh dari kota besar saat itu. Winnetou “mengajari” saya untuk bersahabat dengan alam. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan perbedaan. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan ketakutan. Winnetou mengajari saya bersahabat dengan kesabaran. Dan, Winnetou mengajari saya bersahabat dengan cinta kasih. Winnetou mengajari saya tentang keterbukaan dan prinsip budaya. Winnetou mengajari saya tentang arti persahabatan. Winnetou mengajari saya bagaimana menemukan emas berkilauan di diri sendiri maupun orang lain.

Winnetou lebih saya kenal daripada saudara saya. Winnetou lebih saya kenal daripada orang tua saya. Winnetou lebih saya kenal daripada guru agama saya. Sempat saya meraskan de javu ketika kuliah dan tinggal di asrama putri lantaran Mbak Aminah Lubis and the gang memanggil saya dengan “Hey you, Indian muslim!”.

Oalah Winnetou, seandainya saya ketemu kau orang, pasti kamu tak taksir habis-habisan. Saya mau kamu ngajari saya naik kuda. Saya mau kamu ngajari saya memanah, berburu kelinci dan menggiring kuda liar. Winnetou sempat menjadi pacar bayangan sebelum akhirnya saya mendapatkan pacar
beneran.
J

Terima kasih Winnetou yang telah tercipta karena adanya Pak Karl May, penulisnya si orang Jerman yang katanya sakit jiwa itu. Terima kasih pada Allah yang telah menciptakan Pak Karl May yang katanya sakit jiwa itu. Orang sakit jiwa kok bisa “mencipta” pribadi sekelas Winnetou. Kata sakit jiwa itu pasti hanya karena mereka tak mampu menjelaskan fenomena.

Revised on September 20, 2008

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: