… because

… because

… because considering is way farther from trusting, let me just notice when you really lay your hand on me.

… because blurred is way worse than dark, let me just close my eyes and see where you halt.

… because nowhere is “now and “here” combined together, let me just chew your signs and carve words of wisdom with my teeth.

… because having you is way later than supper, let me just continue fasting until you really make me sick of waiting.

… because this is a poem to describe what hope can do to itself, let me just let myself go.

… hi you and You, how come you let me go without your letting yourselves go?

October 12, 2009 – 1:40am

PINGIN

PINGIN

Pingin makan tapi tak lapar

Pingin minum tapi tak ngelak*

Pingin tidur tapi tak ngantuk

Pingin istirahat tapi tak payah

Ya sudah, kumakan saja

Ya sudah, kuminum saja

Ya sudah, kutidur saja

Ya sudah, ku leren** saja

Akhirnya…

Banyak yang tertunda

Gara-gara pingin

Gara-gara maksa.

Pingin ikut Pesta Blogger 2009 tapi ada undangan walimah

Pingin bisa melakukan semua

Dalam waktu yang sama

Aaaahhhh… aku ini asli menungsa*** biasa

Keterangan tanda (*)

* ngelak: haus

** leren: rehat

*** menungsa: manusia

October 23, 2009 – 4:49 sore

Barito II – of wanting many things

PROMOSIIN GUE DONG

PROMOSIIN GUE DONG…

Salah seorang teman saya berkesempatan mendapat promosi jabatan. Dia sekarang atasan kami. Yang tadinya bisa jenggut-jenggutan, sekarang jenggutan untuk dia melembut. Yang tadinya menyumpah-serapahinya, sekarang rem cacian-nya lebih pakem. Yang tadinya berani ngomongin kesalahan dia apa secara langsung, sekarang…. Hmmm….

Yang terakhir itu yang sedang dicurhatkan kepada saya.

Ceritanya nih ada yang lagi hobi banget main game baru yang baru dipromosikan oleh teman. Jadi bos baru main game baru. BARU + BARU = GOSIP SERU…

“Kok Si Heboh main game melulu sih, Ke? Bukannya promosi jabatan berarti nambah workload ya?”

Saya cuma bisa bengong karena memang rasa penasaran sempat ada di benak juga. Hanya saja saya tidak terlalu ambil pusing lantaran workload sudah cukup berat untuk berbagi rasa tentang workload orang lain. Biarlah orang lain mengeluh tentang kerjaannya yang susahnya minta ampun, hanya Allah yang tahu. Biar saya menghayati bagaimana beratnya keluhan bertemu dengan sulitnya dokumen yang sedang di- review.

Tapi, jujur saja saya sempat menyentil bos baru itu dengan nada guyon. Ini terjadi sebelum teman ini curhat.

“Aduuuh… mau dong naik pangkat, naik gaji tapi bisa banyak-banyak main game ha ha ha….”

Karena saat itu semua sedang geguyonan, saya mendapat kesan yang mendalam bahwa guyonan saya itu benar-benar diterima sebagai sekedar guyonan. Syukurlah… Jangan cari musuh!

Kembali pada curhatan teman tentang bos yang main game baru, saya mulai berpikir berbeda. Saya rasa bos saya itu memang menanggung workload yang jauh lebih tinggi tetapi bentuknya berbeda dengan yang dulu dia ampu. Kalau sekarang dia hanya harus mengawasi kami bekerja dengan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar; walhasil dia tetap bisa bekerja sambil main game agak lamaan dikiiiit daripada orang lain yang suka main game di kantor….

Lalu saya bergumam dalam hati,”Ah, mengapa mesti saya pikirkan hal init oh bos saya dijadikan bos karena dia berkualitas menjadi seorang bos. Jadi kalaupun dia banyak main game, itu hanya luarnya saja. Mungkin otak dia sedang memikirkan flow-chart dan beragam dokumen yang tidak pernah saya kuasai sebagai seorang anak buah. Udah, kerja, kerja, kerja… ngempi dan fesbukan kadang kala saja… Jangan sampai kerjaan pekan ini sampai terutang pekan depan. Amin.”

Lalu saya lihat ada orang lain yang nge-game di fesbuk dan komputernya kenceng juga melebihi bos; makin males lah saya mengurusi hal itu.

Saya jawab kalimat teman yang curhat pada saya itu:

“Gimana ya, Bos. Aku masih banyak kerjaan jadi gak bisa ikutan bos main game juga he he he…”

Kerja yuk kerja….

October 21, 2009 – 12:51pm – obrolan di YM dengan teman kantor

KUDENGAR LANTUNAN KITABKU

Sehari lima kali kubuka kitabku

Melantunkan ayat-ayat yang kadang terlalu asing

Mengetuk-ketuk hatiku

Menanyainya apakah aku mengenalnya.

Datangnya bagai tamu jauh

Yang singgah di rumah

Demi segelas air

Menanggulangi dahaga

Yang harus sirna sebelum perjalanan dilanjutkan.

Kadang enam kali

Di penghujung malam kala ketakutan diwakili oleh remang kudukku.

Kadang tujuh kali

Di saat yang tak kutahu apa sebabnya.

Kitabku seperti mulai menghafal

Bahwa sekali, dua kali, tiga kali, emapt kali, lima kali, enam kali, tujuh kali atau kali lain terlewati.

Aku tak lagi membacanya.

Maka kitabku membaca dirinya sendiri.

Lantunannya lebih indah

Daripada suaraku yang mengharapkan ramainya pujian.

Dengarkan.

Lantunan kitabku

Meramaikan jiwa sepiku

Yang menggapai-gapai dari sedotan lumpur hidup

Yang rakus menghisapku

Sampai dunia tak mengenalku lagi.

Kudengar lantunan kitabku

Menjatuhkan jemarinya

Menarikku

Entah kemana

12 September 2009 – 3:25 pagi menjelang sahur

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: