Advertisements

duhai Tuhan… aku lelah main petak umpet dengan-Mu. jikalau ada, sajikan saja Al-Maidah padaku jikalau tidak, timbun saja aku dengan Al-Ahqaf sudah berkali kubuka Al-Fatihah tapi tak juga kutemui para Al-Ikhlas yang ada hanya Al-An’am… lama-lama kuabaikan saja An-Naba ini kuberpaling saja menuju Al-Hujurat di bukit Al-A’raf biar kupuas tidur dalam pelukan Al-Lail ditemani sekelompok An-Nahl yang berdengung hingga Al Fajr tiba. *gundah dan nyeri punggung selama sebulan*

HOW MUCH WE ARE ENGAGED

HOW MUCH WE ARE ENGAGED

How much are we engaged?

It is as locked as my breath and air.

How much are we engaged?

It is as closed as fish’ breath and water.

How much are we engaged?

It is as probable as root and nitrogen.

How much are we engaged?

It is as famous as freezing and ice.

How much are we engaged?

It is as united as heat and fire.

How much are we engaged?

It is as dangerous as chemical with elements.

Bintang Mulya, Jember – 4:21 adzan Subuh berkumandang

MAKIN KEATAS MAKIN HANGAT

MAKIN KEATAS MAKIN HANGAT

Perjalanan saya dua hari ini bisa saya simpulkan dengan judul diatas. Makin ke atas, makin hangat.

Keramahan adalah bagian dari budaya yang (entah dulu saja atau sekarang juga) menjadi bagian dari kepribadian masyarakat Jawa. Dulu waktu masih tingla di desa saya hobi banget mengatakan kata “Monggo…” lepada orang-orang yang saya lewati dalam perjalanan jkra kecepatan saya tidak melebihi 60km/jam. Bahkan ketika kecepatan 60km/jam pun saya masih berteriak “Monggo…” kepada sesama pengguna jalan atau kepada mereka yang sedang menikmati duduk manisnya. Dasar bengal!

Namur sekarang saya pribadi telah lupa bahwa keramahan adalah hadiah bagi pribadi yang hangat baik pelaku maupun objek pelakunya. Sedangkan sekarang saya sudah tak punya lagi namanya kehangatan pribadi digerus oleh keangkuhan yang saya bangun semenjak saya mengenal “Time is Money”. Uang telah membuat saya berkejaran dengan waktu dan mengabaikan sisi kiri kanan yang saya lalui sepanjang perjalanan. Saya seperti kelinci yang sedang ngibrit takut diburu kura-kura yang dengan segenap energi kesabaran dan keikhlasannya berjalan lambat. Kelinci mengejar garis finish dengan keyakinan penuh bahwa dia akan mengalahkan si kura-kura. Sedangkan kura-kura bersungguh-sungguh berjalan dengan keyakinan dia akan mencapai garis finish tanpa pretensi hanya mau membuktikan bahwa yang menjadi bahan tertawaan bukan saja sesuatu yang lucu melainkan sesuatu yang serius.

Kembali kepada keramahan: kemarin saya traveling dari Djogja perbukitan Menoreh tempat kelahiran embah-buyut-canggah-wareng-udhegudheg-gantungsiwur-gedebogbosok saya yang telah lama tak saya sambangi. Dari hotel saya pakai taxi karena ternyata Terminal Umbulharjo sudah deactivated (kayak fesbuk aja…) dan sekarang siganti Terminal ngGiwangan. Sari ngGiwangan saya naik yang jurusan Kenteng. Disana saya dijemput sepupu saya.

Dalam bus jurusan Kenteng itulah saya merasa kok semakin bus saya merayap memanjati dataran tinggi kok penumpangnya semakin ramah ya? Ada seorang ibu yang serta-merta menebak bahwa saya bukan orang Jogja melainkan “wong dolan” (traveller) padahal sebisa mungkin saya menerapkan kosakata-tatabahasa-dialek Djogdja yang diwarisi oleh bapak saya.

Ada lagi seorang anak kecil yang dengang percaya diri duduk dan sendhen (bersandar) di pundak saya yang pasti tidak akan terjadi di Jakarta tanpa ibunya turut cambur melindungi anaknya dari kejahatan orang asing.

Ada lagi seorang ibu yang menjelaskan dengan gamblang tanpa saya tanya bahwa kalau saya disuruh mbayar Rp. 6000 berarti memang benar nanti saya akan diturunkan ke Kenteng nDekso bukan Kenteng yang masih lingkup Djogdja dalam.

Dan terbukti naik sedikit si daerah Samigaluh sepupu saya benar-benar jadi amat sangat ramah (usuran saya). Me-monggo-i hampir setiap orang yang berpapasan dengan kami, menyenyumi ibu-ibu dan bapak-bapak tua yang melambaikan caping atau tangan. Waktu saya tanya “Emang kenal?”, dia bilang “Ya ora ning kan apik yen gelem cluluk”.

Saya terkesima.

Tapi pagi (1 Agustus 2010) saya ke pasar. Dan makin tambah merasa jadi selebriti karena ada satu blok yang pedagangnya langsung mengenali siapa saya. “Panjenengan punapa putranipun Lik Jokanan ta, Mas”, spontan saya bilang “Lho kok panjenengan pirsa?”, dan sebagian besar jawabannya adalah “Lha wong persis jebles bapakne…”

Olala… Kalau di Yakarta mungkin nggak berlaku. Mungkin para pedagang itu hanya akan membatin “Kayak si Jokanan sih? Anaknya kali ya?”

Itulah. Keramahan. Prasangka baik. Persaudaraan yang tanpa pamrih apapun itu pamrihnya. Saya berharap saya masih punya itu. Amin…

Djogdja, August 1, 2010 – 10:30pm