UNTUK SIAPA MENULIS

UNTUK SIAPA MENULIS

Dulu sekali saya pernah ngobrol dengan seorang teman tentang tulisan dan pembaca. Temanku ini gemar facebooking; dia juga punya Multiply account. Kuperhatikan dia suka menulis tapi tak banyak tulisan yang dipublikasikannya. Mungkin beliau terlalu sibuk bekerja.

Sekarang saya tahu buatnya menulis adalah salah satu kepuasan jika tulisannya telah memberikan manfaat bagi orang lain dengan kata lain jika tulisannya dibaca orang dan makin banyak yang membaca makin bermanfaatlah dia dan tulisannya. Jadi, dia akan menimbang-nimbang dulu apakah tulisannya akan dibaca orang atau tidak. jika ya, di-share. Jika tidak, simpan. Awalnya saya terdiam dan terpaku setelah beliau dengan wajar bertanya bagaimana jika tulisanku di facebook note dan di Multiply atau di tempat-tempat lain ternyata tak banyak pembaca atau bahkan tak ditengok sama sekali.

Saya terpaku bukan karena disadarkan akan begitu percaya dirinya saya dengan tulisan dan kegiatan menulis padahal tidak ada yang sudi membaca. Saya justru keheranan karena tak sedikitpun terbersit sebelumnya bahwa beliau akan menanyakan hal itu. Buat saya menulis adalah sebuah kegiatan yang personal mungkin hampir sepadan dengan kegiatan saya beragama. Tak ada yang bisa menyuruh dan/atau meminta saya untuk memulai dan/atau berhenti menulis. Tidak juga jika tak ada yang menggemari tulisan saya.

Tak sedikit celaan dan kritikan saya tuai karena menulis. Dan itu tak pernah membuat saya surut belajar menulis. Hanya diri saya sendiri yang bisa memutuskan kapan melalukannya atau tidak. Tuhan telah memberikan privilege pada saya untuk itu.

Maka saya jawab dengan percaya diri juga,”Nggak papa, Mbak… Nggak ada yang baca bukan masalah. Karena toh itu untuk bahan perenunganku. Atau kalau boleh agak kerennya porto folio yang tidak laku ha ha ha…”

Beliau hanya ber-hmmmmm panjang entah apa artinya.

Itu tak berpengaruh karena sampai saat ini saya masih menulis baik ada atau tidak yang mengomentarinya.

Salam batin untuk saudariku yang telah menyadarkanku bahwa ternyata niat benar-benar membuat suatu kegiatan yang sama menjadi sangat berbeda.

Jogja – September 18, 2010 – 5:48 sore

MENELPON MACAN

MENELPON MACAN

Saya dan ibu bukan ibu-anak yang sangat dekat. Saya lebih dekat dengan almarhum bapak; ibu lebih dekat dengan kakak lelaki saya. Sering juga kami cek-cok gara-gara hal yang menurut saya bisa diomongin kalau dengan orang lain. Dengan ibu lebih banyak yang enak diperdebatkan daripada dikompromikan J

Dulu pernah saya dan beliau berantem dan akhirnya saling menahan diri untuk tidak bicara satu sama lain. Bahasa Jawanya satru… anak durhaka? Ya, mungkin tapi saya dan beliau mengenangnya dengan tawa dan canda. Kadang saya meledek beliau dengan “aaah… kalau ada ibu durhaka mungkin banyak juga yang masuk, Bu… banyak ibu yang memaksakan kehendak pada putranya dan akhirnya sang anak merasa salah jalan dan menyesali langkah hidupnya he he he” dan beliau pun mengatakan “bisa jadi… orang tua kan manusia, bisa juga salah langkah”.

Ibu saya galak? Tidak. Beliau hanya over-protective pada putra-putranya. Ibarat macan dia sangat marah jika ada pihak yang mengganggu gogor-nya (gogor: anak macan, Bahasa Jawa). Macan makan daging, memang itu sudah dari sononya. Macan bertaring, itu memang sudah takdirnya. Tapi siapa yang mau memperhatikan bahwa macan sangat bersih, seperti kucing. Macan juga pemberani, ingin tahu, cepat beradaptasi dengan lingkungan, menghormati teritori sesama dan yang paling membuatku terkesan adalah rasa sayang yang luar biasa pada gogor-gogornya.

Dan, secara fisik mereka juga kuat, seimbang dan cantik… Kuat? Tentu saja, harimau adalah yang terkuat diantara jenis kucing yang ada. Seimbang? Menurut literature yang kubaca macan memakai ekor sebagai penyeimbang tubuh terutama ketika melompat. Cantik? Ya iya laaah… Lihatlah warna lorengnya. Perfecto!

Itulah ibuku. Membandngkannya dengan macan tidak sama halnya menganggapnya garang. Ibuku adalah macan dengan segala kelebihan dan kelemahanannya. Rasa sayangnya tetap memancar dalam keadaan marah sekalipun. Dan, itu akan kuhargai selalu. Biarpun kadang aku melarikan diri darinya, itu hanya untuk sementara karena aku juga perlu mandiri sebagai gogor yang nantinya jadi macan juga… J

Ibuku, tak bosan rasanya menelponmu tiap hari. Love, love

Jogja – September 19, 2010 – 4:57 sore

SEDANG TIDAK PUNYA IDE JITU UNTUK BERBAGI

SEDANG TIDAK PUNYA IDE JITU UNTUK BERBAGI

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menulis ide yang brilian dengan lancar buat seseorang yang suka menulis. Mampetnya saluran ide membuat orang tersebut tersiksa seakan merasakan nyerinya bisul yang tak kunjung meletus.

Sudah dipaksa ditulis tetap saja tak tertuliskan dengan manis. Alih-alih yang dating hanya rasa bete dan kemudian mengkambinghitamkan kesibukan yang menumpuk sebagai penyebab ketidakproduktifannya. Kasihan.

Saya juga begitu. Yang diatas itu memang tentang saya.

Bagaimana kalau menulis sesuatu yang enteng dan bikin orang terinspirasi? Ya memang itu yang kumau. Ok, mari kita coba!

Puisiku ini tentang tersumbatnya idea-pipeline di sistem mentalku.

KOSONG

Kucoret

Kuhapus

Kucoret lagi

Kuhapus lagi

Lagi-lagi nulis

Lagi-lagi kuhapus

Mau apa otakku

Ada ide tak bisa mengungkapkan

Mau apa tanganku

Mau bersaksi

Tapi tak juga menuliskan yang disaksikan

Jika waktu tetap berputar

Tanganku tetap menuliskan kejujuran

Bahkan ketika tak ada apapun yang bisa diungkapkan.

Keramat

8 Agustus 2010 – 9:27 malam

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: