SENTINELS

SENTINELS

Tonight

Piano is played by dancing fingers of a lady from above.

Should I sing?

Or should I fall asleep?

Music of footsteps

Are running through my silent heart—

Sentinels are ready to conquer.

Should I fight?

Or should I surrender?

Sentinels

Have come to me again and again

Asking for my permission to build a colony—

Agreement upon disagreement

And finally I stay sanely dumb;

None of choices is better.

Raindrops

Caressing my black hair in dark night tonight

Dictate symbols upon symbols through notes.

Do re mi fa so la ci do

8 and 9 along with the alphabets

I am deciphering my life.

And the sentinels are still waiting…

Solo – 21 February 2012 – 9:03pm

JANGAN DITIRU (Ceu Nana keparat!!!)

JANGAN DITIRU

(Ceu Nana keparat!!!)

Sudah sekitar tiga bulan terakhir ini saya menjadi orang yang emosian. Ngamuk-ngamuk saja kerjanya – mencari apa saja di luar diri dan kemampuan untuk dkambinghitamkan.

Idealnya seorang yang dewasa bisa mengendalikan emosi terutama yang berupa kemarahan. Jika belum mampu mengarahkan rasa marah menjadi energi yang lebih bermanfaat dan hanya sekedar bisa mencari kambing hitam maka yakin pasti si dewasa itu belum dewasa; mungkin hanya sekedar tua atau merasa dewasa.

Ada sebuah kisah.

Nasi uduk yang biasa terhidang di meja majikan setiap pagi tak muncul juga. Sang pembantu belum juga pulang membawa sebungkus nasi Betawi. Pesan majikan “jangan pulang kalau nggak bawa nasi uduk ya, Yem”.

Rupanya malang tak bisa ditolak sial tak bisa dihindari, nasi uduk Ceu Nana tak bisa dibawa pulang tepat waktu karena ternyata hari itu Ceu Nana tidak berjualan karena sakit mencret berat. Dan, sebungkus nasi uduk Ibu Kartini pun dibawa pulang oleh si Iyem, itu pun terlambat satu jam karena warung Ibu Kartini ada di kota Rembang he he he…

Walhasil, si majikan makan nasi uduk yang tidak sesuai order, terlambat berangkat kantor pula.

Pekerjaan yang menumpuk terlambat dikerjakan san puncaknyaadalah macet yang menyiksa membuat sang majikan terlambat sampai di rumah juga. Kesempatan bermain dengan sang anak hilang akhir pekan ini. Lalu sampai rumah apa yang dilakukan sang majikan?

“I hate Jakarta traffic! Ini semua gara-gara Ceu Nana yang sakit mencret! Ceu Nana keparat!!! Kamu juga gara-gara kamu nggak bisa nasi uduk jadinya kayak gini!!!”

Sang pembantu hanya melongo.

Lalu apa hubungannya dengan emosi saya? Yah, saya sempat menyaksikan seorang sahabat yang melampiaskan kemarahannya hari itu pada seseorang di posisi Ceu Nana dan si Iyem. Pada saat itu saya dengan goblognya bukannya berpikir jernih tapi malah mengamini dalam hati “Iya, kok Ceu Nana sama si Iyem bego bener. Mau-mau aja mencret pas harusnya jualan nasi uduk dan satunya lagi nggak bisa masak nasi uduk kesukaan majikan”. Padahal yang bego ya saya, ngapain ikutan orang emosi gak puguh gitu?

Makanya, Rike… Jangan mau jadi orang goblog!

Pulau Penang – 3 Februari 2012 – 11:22 WITA

Gambar dipinjam dari http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/05/03/lontong-nasi-uduk-makanan-wajib-pagi/

BELOVED

Here, we worship together bringing our hearts truthfully and longingly to God. Find Hope, Love and Encouragement, this a fellowship of and in, The BELOVED.

thoughts and entanglements

A collective of poems and photos.

Rusted Honey

Poetry, haiku, tanka, and micropoetry

OwnShadow

Looking for people to share the written word

Madamsabi's Blog

Coffee For The Mind, inspiration for the soul!

unbolt me

the literary asylum

THE RIVER WALK

Daily Thoughts and Meditations as we journey together with our Lord.

Inner Peace

True wealth is the wealth of the soul

Luna

Pen to paper.

(Metanoia)

Fan of GOD

The Art of Blogging

For bloggers who aspire to inspire

Verona

- Renee verona -

The Travellothoner

Travel, Running, Fitness, Life, Writing.

Learning to write

Just your average PhD student using the internet to enhance their CV

a.mermaid'spen_

Be careful, I might convince you.. You are art.✨

New Lune

A blog full of tips, inspiration and freebies!

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

%d bloggers like this: