MENANGIS SAMBIL TERTAWA

MENANGIS SAMBIL TERTAWA

Rasanya kok nggak ada energy untuk menuliskan perjalanan saya ke Dhaka tanggal 16 – 21 April 2012 lalu. Banyak sekali yang bisa saya bagi dengan sudara sekalian namun butuh waktu yang cukup untuk mengendapkan kekeruhan yang saya tangguk dari kunjungan ke sana dan perlu penjagaan jarak yang cukup sebelum tertuang apa yang perlu dipetik sebagai hikmah diantara sekian ribu peristiwa dalam hitungan hari itu.

Ada satu hal yang biasa tapi jadi membekas sebagai kenangan yang luar biasa bagi saya selama berkunjung ke negeri yang sebagian besar terhimpit oleh India dan oleh Myanmar di bagian tenggara. Bangladesh, sebuah negara yang tak saya sangka-sangka akan saya kunjungi. Mungkin sudah lebih dari 100 tenaga kerja Bangla yang pernah saya ajak berbincang tentang nasib yang membawa mereka ke negeri Malaysia namun tak sekalipun saya membayangkan bisa menginjakkan kaki saya di negeri kecil itu. Rasa haru ada walau tak saya wujudkan dalam setitik air matapun.

Negeri ini adalah tempat orang dengan daya survival tinggi. Apakah Anda kuat bertahan hidup dengan hanya USD30 per bulan? Mereka para buruh di Bangladesh bisa!!! Mungkin ada yang bertanya berapa harga sekilo telur disana? Sama dengan harga di Indonesia. Jadi bayangkan keluarga mereka akan memasukkan telur ke dalam daftar makanan mewah. Konon kalau mereka mau makan ikan maka mereka harus memancing sendiri. Kalau mereka mau makan ayam, mereka harus menunggu hingga ada kesempatan khusus semacam selamatan atau perayaan. Teman-teman saya mengatakan bahwa banyak sekali orang miskin papa di Bangladesh tapi ada juga orang kaya yang tak peduli dengan nasib saudara yang kemalangan.

Yah sudahlah tak kan habis kesedihan yang saya ingat dari kunjungan saya yang singkat tapi penuh makna itu.

Ada pengalaman menarik yang tak akan saya lupa.

Ketika sore telah menjelang maka empat teman saya: Nawrin, Fahrin, Faiz dan Barik berniat mengantar saya kembali ke hotel tempat saya nginep di daerah Gulshan. Saya sudah dinaikkan rickshaw berangkatnya; maka pulangnya mereka akan mengajak saya bertualang naik CNG – bajaj yeeeeeaaaahhhh!!!

Tak disangka mereka bilang bahwa CNG tak mudah didapat maka mau tak mau kita naik satu CNG berlima. Serius looooo?

Jadi pembagiannya adalah sebagai berikut: Barik di depan bersama pak supir.

Nawrin masuk dulu ke bangku belakang lalu saya, menyusul kemudian Fahrin dan terakhir Faiz.

Oh teman… kau tak akan bisa melakukannya di Jakarta karena supir bajaj belum-belum sudah menolaknya. Taxi pun tak mau jika harus mengangkut lima orang dengan perawakan bongsor ini (kecuali Fahrin kami semua L dan XL sizes). Nyatanya pak supir senang hati melakukannya bahkan dia mengobrol dengan Barik yang duduk bersamanya. Kami terbahak sepanjang jalan saling meledek pantat siapa yang paling makan tempat. Tak peduli lagi keringat siapa yang paling menyengat. Bisakah kalian bayangkan mengendara bajaj (yang punya pintu jeruji dan ditutup rapat) selama 30 menit dalam kondisi tersebut jika tidak bersama teman yang hatinya luas dan bening?

Oh, Bangladesh… How kind you are.

Aku masih ingat ucapan salah satu dari mereka. “Rike, we are poor but we are doing our best to serve our friend, you…”

Thank you, sambut saya dengan mata berkaca.

Duh, alangkah mulianya hati kalian. Jika kalian berkunjung ke Jakarta akan kujamu kalian dengan tulus hatiku. Doakan aku punya kendaraan yang cukup besar untuk emngangkut kalian semua tanpa harus dusel-duselan (berdesakan, Bahasa Jawa) seperti ayam mau diberangkatkan ke RPA ya….

Suatu saat nanti saya ‘kan berkunjung kesana lagi dalam kondisi saya yang lebih siap dan lebih bermanfaat.

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 29 April 2012 – 11:44 malam

Gambar CNJ (bajaj) dipinjam dari: http://jen2bangladesh.wordpress.com/