Advertisements

MAY DAY 2

MAY DAY 2

(yang telah terjadi terjadilah)

Masih tentang para pekerja yang sedang semangat memperjuangkan nasibnya. Ada hal-hal menarik yang mungkin belum pernha sudara dengar tentang beberapa kegiatan yang tak bisa dihindari oleh para pekerja kita.

BERBOHONG

Kalau ingat para buruh yang pernah saya ajak bicara dan bagaimana kadang perasaan jadi bete karena mereka dengan sadar memberikan keterangan palsu, saya jadi merasa makin miris.

Apa yang harus mereka lakukan selain hanya menurut kepada pihak pengusaha yang memerlukan “dukungan” pekerja supaya tidak banyak kebobrokan yang terungkap selama audit. Akhirnya para pekerja mau “menghafalkan” berbagai template pertanyaan-jawaban auditor yang telah diantisipasi sebelumnya. Kesuksesan “membohongi” auditor adalah prestasi yang mereka rayakan dengan kerlingan mata diantara mereka, senyum bangga di depan supervisor atau bahkan mereka melonjak gembira karena sejumlah uang menanti mereka.

Mengapa harus berbohong? Karena memang itulah salah satu cara survival mereka. Ancaman dikeluarkan adalah senjata sakti para pengusaha untuk membuat para pekerja manut (menurut, Bahasa Jawa). Percaya atau tidak kadang belum ditanya pun mereka sudah menjawab.

“Kita nggak pernha lembur kok, Bu”.

Biasanya ya kita Cuma bisa tersenyum atau bercandain mereka saja.

“Ho oh, saya nggak mau nanya lembur, saya udah tahu kalian nggak pernah lembur. Tadi HRD-nya juga udah bilang kok.”

Ada satu informasi menarik: sebuah pabrik di China menjadikan “menghafal template pertanyaan-jawaban auditor” sebagai syarat diterimanya seseorang untuk bekerja disitu. Jadi test wawancaranya adalah seperti interview antara auditor dengan karyawan. Kalau salah satu saja, seorang pelamar tidak bisa bekerja di pabrik itu karena dianggap punya potensi untuk mengungkap kebenaran terhadap auditor.

MENGHAFAL LAGU

Beberapa pabrik menyediakan musik yang dimainkan selama jam kerja dengan tujuan menghibur para pekerja yang bisa saja bosan pada pekerjaannya. Kebanyakan sih pabrik garment yang mempraktikan ini. Lagu-lagunya bisa di-request oleh para pekerja. Biasanya lagu yang sedang nge-trend akan jadi favorit para pendengar.

Tapi eh tapi…. Ada juga lagu wajib lho…. Lagu wajib ini harus dihafalkan oleh para pekerja. Apa lagu wajibnya? Indonesia Raya? Bukan. Ibu Kita Kartini? Bukan. Padamu Negeri? Bukan juga… lagu wajibnya adalah lagu yang sudah disepakati bersama (entah disepakati entah ditetapkan oleh manajemen ding). Gunanya adalah untuk memberikan tanda pada me
reka bahwa ada “buyer” yang sedang berkunjung dan mereka harus siap dengan segala macam perlengkapan alat kerja, bersih dan rapi dan siap ketiban pulung (menerima wahyu, Bahasa Jawa) dipilih untuk diajak ngobrol.

Ada pengalaman menarik di sebuah pabrik garment di Kawasan Industri Candi, Semarang. Dua kali saya berkunjung dan ada satu lagu yang selalu diperdengarkan ketika saya masuk ek area produksi. Diam-diam saya mencari tahu dan lagi itu memang lagu wajib ketika ada “tamu”.

MENDADAK LUPA

Jangan harap Anda akan mendapati pekerja yang “waras” ketika berjumpa. Sering kali mereka mengalami amnesia. Semua jawaban adalah “lupa” atau “lupa lagi”.

“Kemarin gajian ya?”

“Lupa, Bu.”

“Lho?”

“Eh, iya iya gajian, Bu. Maaf, lupa, Bu.”

“Terima berapa?”

“Lupa lagi, Bu.”

“Ah, masakan baru kemarin udah lupa ya?”

Diam di seberang sana.

“Ada struk gajinya nggak?”

“Lupa, Bu.”

“Maksud saya, ada slip gajinya nggak? Kertas yang ada tulisan angka gajinya.”

“Nggak tahu, Bu lupa.”

“Nggak tahu apa lupa hayo..?”

“Nggak tahu eh lupa, Bu.”

“Gajiannya langsung uang tunai apa transfer ke ATM?”

“Aduh, Bu saya lupa…”

Alamaaaaak buteeeetaaaaaah!

Biasanya saya langsung jayus dan mendadak jadi pengen ngakak dan mempersilakan sang pekerja balik ke tempat kerjanya.

GEJALA APAKAH ITU?

Yang jelas para pekerja itu memang takut kehilangan pekerjaan sehingga sedapat mungkin menutupi apa yang seharusnya tidak dilihat oleh pihak luar yang bisa berakibat pada penurunan skala bisnis. Beberapa pekerja cukup cerdas untuk berakting dan memanipulasi data sesuai dengan instruksi umum pihak tertentu, beberapa pekerja malas bersinggungan dengan hal ini dan cenderung menjawab sekenanya dan ada juga pekerja yang tidak punya cukup keahlian dan/atau keberanian untuk mengolah informasi sehingga membuat blokade salah satunya berlagak lupa itu ha ha ha…

May Day! May Day!

Sebuah gejala penyakit sosial yang bernama ketakpedulian, kemiskinan & pemiskinan, kebodohan & pembodohan, dan silakan sebutkan sendiri yang lain yang kau suka.

Baiknya kita salurkan energi positif kepada para kaum pekerja yang sedang bekerja itu sehingga mereka tak lagi harus berbohong atau berlagak amnesia hanya untuk membuat pengusaha bertambah kaya sementara supporter-nya tetap kere dan tidak sejahtera.

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 1 Mei 2012 – 9:51 pagi

Advertisements

MAY DAY 1

MAY DAY

(kepedulian kepada buruh)

May day, May day!

Waduh tanda bahaya tuh…

Sudara-sudara, sudah dengar belum akan ada aksi buruh besok tanggal 1 Mei 2012 dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia yang dikenal juga dengan May Day*? Sepertinya akan ada aksi besar.

Buruh. Kata ini sudah saya kenal dari saya kecil. Dulu waktu saya masih sangat polos saya menyebut pembantu di rumah kami sebagai buruh. Lalu ibu dan bapakku menegurku mengingatkan bahwa Yu Yat, Yu Bit, Yu Jah, Kang Met bukan buruh, mereka adalah saudara yang membantu kami semua menyelesaikan pekerjaan di rumah supaya nggak ada namanya telat ke sekolah atau ke kantor dan rumah menjadi tidak sepi kalau bapak dan ibu sedang tidak di rumah.

UPAH MINIMUM & KEDAMAIAN

Buruh. Kata ini yang sekarang jadi urusan saya setiap hari. Tiap hari ke pabrik dan bicara dengan para pekerja pabrik (yang oleh sebagian dinobatkan sebagai buruh) membuat saya tahu bahwa hidup mereka jauh lebih buruk daripada Yu Marti, Lik Yadi, Yu Surip dan para buruh tani lainnya. Buruh tani yang saya kenal hidupnya cukup layak; mereka memang tidak punya ukuran upah minimum yang terukur di rekap gaji seperti buruh pabrik tapi penghasilan mereka cukup membuat mereka hidup layak di desa. Bisa saja dalam tiga bulan penghasilan mereka jika dirata-rata per bulan bisa lebih daripada upah minimum setempat. Plus, mereka masih punya kebun kecil yang penuh dengan tanaman yang bisa diolah dan ternak yang masih bisa dikonsumsi atau dijual hasilnya. Ketenanganlah yang membedakan buruh pabrik dengan buruh tani.

Terakhir saya berkomunikasi dengan pemilik pabrik yang mengatakan pada saya “upah minimum itu bisa ditawar, mbak Rike. Mbak Rike harusnya tidak membawa standar Amerika ketika mengobservasi pabrik saya bla bla bla…” Eh, ibu yang katanya lulusan Amerika, upah minimum ini aturan pemerintah Indonesia bukan aturan Amerika. Bete!

Oh tunggu… Upah minimum itu berlaku untuk lajang lho… Jadi kalau ada buruh pabrik yang dibayar upah minimum belum berarti keluarganya sejahtera, sudara.

Buruh. Mereka adalah pekerja yang punya tanggung jawab kerja tetapi tidak punya otoritas apa-apa di tempat kerja. Mereka hanya tahu kerja, kerja, kerja. Kalau ada yang ilmunya lebih sedikit maka pihak yang punya otoritas akan mengebiri ketahuan pekerja dengan berbagai cara, mulai dari memberikannya posisi supaya pengetahuannya mandul, mengeluarkannya atau mengancamnya. Itulah kehidupan buruh pabrik. Hanya sedikit pabrik yang tidak melakukan itu. Tidak heran para pekerja menginginkan perbaikan.

OUTSOURCING

Ini dia si jali-jali… Outsourcing – ada juga yang menyebutnya contractor – adalah badan usaha yang menyediakan tenaga kerja untuk badan usaha lain; pekerja bekerja di perusahaan pengguna jasa tapi status kontraknya adalah antara karyawan dengan outsourcing. Awalnya ada sebagai solusi terhadap sulitnya pengadaan tenaga kerja. Namun belakangan outsourcing disalahgunakan untuk memangkas biaya operasional perusahaan pengguna jasa. Perusahaan pengguna jasa tertentu membayar lumpsum* seluruh jam kerja seluruh pekerja lalu pihak putsourcing yang akan membayarkan gajinya pada karyawan. Jam kerja itu bisa saja bukan jam kerja aktual melainkan jam kerja yang disepakati antara kedua perusahaan. Walhasil, pekerja lah yang yang dirugikan karena bisa jadi jam kerja yang dibayarkan hanya sebagian saja. Banyak juga pekerja outsourcing yang dianaktirikan karena tidak ternaungi Jamsostek, pelayanan kesehatan dan fasilitas lain seperti cuti, THR, dll. Masihkah pemerintah belum paham kebutuhan rakyatnya?

Menurut peraturan perundangan Indonesia (bukan Amerika ya, bu…) perusahaan harus mempunyai skema untuk membedakan mana aktivitas utama bisnis dan mana aktivitas tambahan. Aktivitas utama bisnis adalah aktivitas atau proses produksi yang apabila tidak ada maka perusahaan itu tidak jalan, misalnya: kalau Anda punya pabrik pembekuan udang, proses deheading (potong kepala, sadiiiis), peeling (kupas) sampai packing adalah proses utama. Nah, outsourcing ini hanya boleh masuk ranah aktivitas tambahan alias yang sekali-sekali doang ada kerjaan.

PKWT

Apa ini? Perjanjian Kerja Waktu Tertentu alias karyawan kontrak. Menurut peraturan perundangan Indonesia (bukan Amerika ya, bu…) seluruh aktivitas yang sifatnya permanen (aktivitas utama bisnis) seharusnya dilakukan oelh karyawan yang dipekerjakan secara permanen juga alias karyawan tetap… PKWT alias karyawan kontrak itu hanya bisa dipekerjakan di bagian aktivitas tambahan itu. Kalau menurut perkiraan sin sekitar 90% pabrik membuat PKWT ini untuk hampir seluruh aktivitas utamanya. Tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk mengantisipasi pengeluaran. Bayangkan kalau semua pekerja bersifat permanen; pengusaha harus menyediakan tunjangan untuk seluruh karyawan dan mereka menganggap itu pemborosan. Belum lagi bayar pesangon kalau ada yang dipecat, uang penghargaan kalau ada yang mengundurkan-diri. Intinya, semua dilakukan demi penghematan dimanapun bisa dilakukan alias menghalalkan segala cara asal duitnya nggak berkurang banyak.

SO WHAT GITU LOH?

Itulah yang sedang diperjuangkan para buruh itu. Penjelasanku di atas mungkin sangat sederhana dan terkesan nggak ilmiah tapi itulah inti dari permasalahan industri kita: hilangnya kesederhanaan dan intelektualitas. Semua dibikin rumit (bikin aturan sendiri) dan pembodohan dilakukan pada para buruh – demi uuuuuaaaaang….

Semoga para buruh melakukan ini dengan sepenuh ketulusan mereka dengan melibatkan seminim emosi yang mereka punya dan menghasilkan kesusksesan seperti yang emreka harapkan demi kesejahteraan industri tanpa harus merugikan pihak manapun. Pengusaha pasti akan harus membelanjakan uangnya lebih banyak (jika tuntutan buruh dipenuhi) namun saya yakin mereka tidak akan miskin karenanya. Pekerja juga harus bekerja sebaik mungkin karena memang mau nggak mau mereka hanya punya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dan otoritasnya hanya pada dirinya sendiri.

* untuk sejarah May Day, sudara bisa membaca artikel berikut namun ini bukan satu-satunya: http://flag.blackened.net/daver/anarchism/mayday.html

** lumpsum: perusahaan memberikan sekaligus dalam jumlah tertentu yang meliputi uang saku, transport, akomodasi atau unsur biaya lainnya, tanpa harus dimintakan pertanggungjawaban dan bukti atas penggunaannya (penjelasan ini dipinjam dari http://dir.groups.yahoo.com/group/forum-pajak/message/16550)

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 30 April 2012 – 1:53 siang

Inner Peace

True wealth is the wealth of the soul

Luna

Every now and then my head is racing with thoughts so I put pen to paper

(Metanoia)

Fan of GOD

The Art of Blogging

For bloggers who aspire to inspire

Verona

- Renee verona -

The Travellothoner

Travel, Running, Fitness, Life, Writing.

Learning to write

Just your average PhD student using the internet to enhance their CV

a.mermaid'spen_

You can't deny Art!

New Lune

A blog full of tips, inspiration and freebies!

GLITCHY ARTIST

MarkovichUniverse@gmail.com

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

%d bloggers like this: