RENGGINAN DI RUMAH KOST
Orang Jawa tulen pasti tahu rengginan. Rengginan dikenal di seluruh telatah (wilayah) tanah Jawa dengan nama yang berbeda tergantung pemberian masyarakatnya. Dia bisa rengginan, arang-arangginan atau rengginang. Bagi Sudara yang belum tahu rengginan, ketahuilah bahwa dia adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang ditanak lalu dibumbui bawang dan garam, dibentuk bulat besarnya sesuai selera lalu dijemur dan jika sudah kering bisa digoreng dan dihidangkan. Rasanya renyah dan gurih. Warna bisa mulai dari putih (warna asli ketan putih), ungu kehitaman (warna asli ketan hitam), merah, kunih, hijau. Sampai saat ini belum ada warna lain.
Bagi anak muda Jawa jaman sekarang rengginan bukan lagi makanan istimewa. Dia sekedar pajangan pelestarian budaya yang kalau tidak di-uri-uri (dilestarikan) akan kualat pada nenek moyang. Terciptalah rengginan dengan rasa manis, rasa keju dan segala rasa yang ujung-ujungnya rengginan-rengginan yang tradisional juga. Makanan kampung.
Kenapa saya pilih rengginan? Karena bagi saya rengginan adalah sebuah perlambang sekaligus kenangan saya pada saat saya kuliah, kost jauh dari orang tua.
Saya dulu kost berpindah-pindah. Dari Gubeng Airlangga III ke Gubeng Airlangga I ke Gubeng Airlangga VI ke Asrama Putri ke Gubeng Kertajaya ke Karangmenjangan. Di salah satu tempat itulah rengginan mendapatkan kehormatan tiada tara.
Saya biasa pulang sebulan sekali ke kota saya yang waktu tempuhnya 3 jam kalau naik bis patas (patas di Jatim selalu pakai AC) atau 4 jam pakai bis non patas. Tiap kembali ke Surabaya saya tak lupa membawa oleh-oleh yang tidak selalu enak dinilai lidah teman-teman saya yang juga berasal dari luar Surabaya; saya yakin mereka kenal rengginan tapi tidak menggemarinya.
Pada suatu hari saya balik ke Surabaya membawa rengginan mentah titipan ibu saya. Saya pribadi bersedia membawa rengginan itu karena saya telah membuktikan bahwa rengginan yang dititipkan itu rasanya Recommended. Sangat tidak biasa. Lezat. Ibu kost dan keluarga mengakuinya.
Namun sayangnya teman-teman saya tidak mempercayainya. Begitu tahu bahwa saya hanya membawa rengginan mereka kecewa dan tertawa-tawa.
Kurang ajar benar mahasiswi-mahasiswi yang mengaku sholehah ini.
Di akhir bulan, biasanya kondisi keuangan kami menipis dan terpaksa kami mengirit termasuk beberapa orang yang uang jatahnya berlipat ganda dibanding uang jatah saya. Mereka inilah yang mengejek rengginan saya.
Dengan kreatif saya dan teman sekamar saya mengeluarkan makanan sakti kami berupa rengginan yang tentu saja telah berkurang karena saya dan dia menikmatinya setiap hari sambil belajar.
Ternyata orang-orang kaya yang sedang melarat itu mau juga memakannya. Awalnya malu-malu, lalu coba-coba kemudian… Wah, ternyata mereka doyan bahkan mereka makan lebih banyak. Kabar baiknya, saya masih ingat merekalah yang menghabiskan rengginan saya.
“Enak lho Mbak… Siapa yang bikin?”
“Ini pasien ibuku melahirkan, trus gak bisa bayar penuh nglunasinnya pakai rengginan. Bener nih enak?”
“Iya. Bener. Masih ada nggak yang mentah? Kita goreng lagi yuk. Biar aku yang beli minyak.”
Saya terkagum-kagum lalu tercenung. Apa benar mereka menikmati rengginan ini? Atau hanya karena mereka sedang mengurangi pengeluaran sambil menunggu ATM mereka penuh kembali?
Saya membayangkan orang-orang kaya di sekitar saya saat ini sebagai teman-teman kuliah saya yang kaya yang menghabiskan rengginan malang itu. Apakah mereka memang menikmati “penjarahan” itu karena mereka menyukai rasa hasil jarahan atau karena mereka mengadakan “perburuan” karena kebutuhan? Saya tidak pernah tahu karena saya tidak menawarkan rengginan lagi sejak saat itu.
aku ra nduwe usia ha ha ha… lho, kalau cuma nyebut nama pak iskak iso mumet nggolekine. aku lali asmane bapak kosku. sing mesti aku ning karmen III, cedhak kuburan hiiii…
LikeLike
halah…ge errrrr…yuswamu piro mbak? ojo2 tuo aku..tapi aku ora kuliah no kono..praktek ning sutomo thok..karmen piro yo..lali..tapi omae pas ishak..pak kos paling edan no 2 sing tak temoni
LikeLike