Pause

It’s been quite long I haven’t posted anything in this site. Too busy? Or not able to manage the time? Oh my goodness, how life lasts long yet runs so fast that it rolls in like a useless scroll.

Alas!
What will I give to Life?
Nothing?
Ya, nothing as I have nothing.
Yet, I still do things with my nothing.

Life,
Please guide me through my nothingness to the Light at the end of the scroll.

No, not at the end. It is along the scroll…

Glad to be here again….

The Estuary, Temasek – Nov. 30, 2018 – 9:47pm

cropped-img_07341-31.jpg

PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Sebentar lagi Ramadhan tiba disusul oleh Idul Fitri tentunya dan saat pulang kampung pun datang. Saya harus siap sowan kepada orang tua saya di kampung, namanya juga pulang kampung ya harus disebut kampung walaupun kenyataannya daerah asal kita sudah sangat layak disebut kota.

Nah, saya ada sebuah kebiasaan “tidak membawa oleh-oleh banyak’ saat pulang kampung. Alasan utamanya adalah malas jinjing-jinjing dan junjung-junjung. Tapi syukurlah orang tua dan saudara-saudara saya tidak punya kelangenan yang susah dipenuhi sehingga saya tidak harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkannya.

Oleh-oleh favorit mereka adalah buah-buahan segar. Selain itu terserah saya. Bisa Anda bayangkan alangkah tenangnya saya menjelang pulang kampung. Disaat rekan-rekan saya kebingungan belanja ini-itu dan sibuk mengepak, saya hanya harus memikirkan bagaimana mendapatkan tiket tanpa harus mengantre di stasiun Juanda atau mikir naik bus apa yang tidak macet di jalan atau sibuk menghubungi rekan-rekan saya yang bekerja di maskapai-maskapai penerbangan publik supaya mendapatkan tiket pesawat dengan cepat, mudah dan murah. Orang-orang model saya sih akhirnya mendapat tiket dengan sangat terlambat karena tidak mau mengantri, tidak bisa pulang jauh hari sebelum lebaran sehingga bisa naik bus atau travel, dan teman-teman saya hanya bisa menyediakan tiket yang mepet dengan hari H sehingga harganya tinggi dan mau tidak mau saya harus berpikir ulang untuk pulang kampung naik pesawat pada (H-). Biasanya saya akan pulang hari (H) setelah usai sholat Idul Fitri. Untung jarak bandara dengan perumahan tempat saya tinggal tidak jauh sehingga saya bisa bersilaturahmi ke para tetangga sebelum pulang kampung. Teman-teman lokal saya dengan senang hati mengantar saya ke bandara dan jika pesawat delayed, teman saya yang sedang bertugas di bandara akan dengan senang hati ngerumpi sampai saya ready for boarding. Surga dunia.

2500-Abang-Becak-Dapat-Sembako-1

Gambar dipinjam dari http://www.tulungagung.go.id/index.php/component/content/article?id=1003:2500-abang-becak-dapat-sembako

Sesampai di kota saya, saya akan segera meluncur naik becak ke arah rumah ibu saya. Disinilah saya baru berpikir buah apa yang akan saya bawa. Ada sebuah kios buah langganan ibu saya yang selalu saya kunjungi setiap pulang kampung. Beliau sudah menjadi langganan ibu saya sejak saya es em a jadi ya sudah hapal betul dengan saya dan keluarga. Berikut ini percakapana standar yang telah saya hapal urutannya:

Ibu buah

:

Pulang kampung!!! (sapaan standar)

Saya

:

Inggih, Bu.

Ibu buah

:

Mau yang mana? Kemarin ibu kesini juga lho, Mbak. Nyari jambu bol habis. Ini ada nih, beli aja biar ibu seneng. (padahal ibu belum tentu datang kemarin, bisa saja seminggu yang lalu)

Saya

:

Iya deh Bu. Dua kilo ya Bu.

Ibu buah

:

Ok. Apa lagi?

Saya

:

Salak pondoh lima kilo. Besok pasti banyak sodara datang. Duku. Klengkeng. Semua lima kilo.

Ibu buah

:

Bapak nggak dibelikan jeruk to, Mbak. (dia hapal buah favorit anggota keluarga saya)

Saya

:

Pasti, jeruk favorit bapak dua kilo. Kapan-kapan bisa beli lagi.

Ibu buah

:

Apel?

Saya

:

Iya. Buah kesukaan saya lagi nggak ada nih, Bu?

Ibu buah

:

Duren petruk? Lagi kosong. Udah ganti anggur aja.

Saya

:

Iya deh, itu yang di plastik semua aja ya Bu. Semangka kuningnya satu, melonnya dua. Besok jualan nggak Bu?

Ibu buah

:

Besok yang jualan bapake anak-anak. Bukanya agak siang mau sujarah ke rumah embah di Blitar dulu.

Saya

:

Bu, tambah duku satu setengah kilo dipisah ya. Bapak tua yang jualan kelapa ijo mana, Bu?

Ibu buah

:

Ok. Pak, Pak! Klapa ijo lima. Taleni. (Pak, Pak! Kelapa hijau lima. Diikat.)

Saya

:

Wis. Ditimbang terus diitung. Harganya jangan naik tinggi-tinggi ya. Sekalian harga kelapanya buat Bapak itu, Bu.

Ibu buah

:

Langganan lama tak murahi. Pak, duite ki. (Pak, ini uangnya.)

Walhasil saya membawa banyak sekali kantong plastik yang memenuhi becak saya. Sesampai rumah biasanya ibu saya yang menyambut saya dan meminta abang becak untuk menurunkan semua bawaan. Kantong duku saya berikan kepada abang becak untuk kudapan segar sambil menunggu penumpang.

langsat2

Gambar dipinjam dari http://sebuahkabar.blogspot.com/2010/04/saya-yakin-anda-sudah-sering-mendengar.html

Itulah kebiasaan saya pulang kampung baik saat lebaran maupun bukan lebaran. Biasanya ada satu lagi percakapan standar yang akan saya lakukan dengan seppu-sepupu saya.

Sepupu 1

:

Mana oleh-oleh dari Jakarta (kebanyakanmereka menyebut Jabodetabek sebagai Jakarta)

Saya

:

Tuh…

Sepupu 1

:

Buah pasti ya. Aku sih tahu itu kan dagangannya Ibu buah Karangrejo.

Saya

:

Ha ha ha…

Sepupu 1

:

Mbok sekali-kali bawa oleh-oleh yang orisinil dari sana to Rik, Rik…

Saya

:

Apa Mas?

Sepupu 1

:

Apa ya?

Sepupu 2

:

Empek-empek.

Saya

:

Palembang kaleee…

Sepupu 3

:

Baso.

Saya

:

Malang, Solo, Pak Min…

(Mereka pun sibuk mengabsen barang-barang yang pada akhirnya semua bisa mereka dapatkan di kota saya atau paling tidak di Surabaya yang bisa ditempuh sehari pulang pergi sambil berekreasi. Beberapa dari mereka bahkan pulang kampung dari Bali, Kalimantan, Sumatera, Irian, Singapura, Malaysia dan Inggris. Mungkin oleh-oleh mereka lebih spesial sesuai khasanah budaya dan alma daerahnya.)

Sepupu 1

:

Iya, ya. Kenapa di tivi aku lihat orang-orang pulang kampung pada gendheyotan bawa bawaan yang nau’dzubillah gitu? Padahal di tempat kita ada semua.

Sepupu 4

:

Ya biar kelihatan berhasilnya mereka. Tanda-tanda orang sukses kan membawa hasil. Memangnya Mbak Rike, tiap pulang bawaannya buah Ibu buah Karangrejo. Udah gitu nyari tiketnya yang murah, kapan bawa kendaraan sendiri? Berarti kamu belum berhasil, Nduk.

images

Gambar dipinjam dari https://www.flickr.com/photos/doremiphoto/6846224063/

Saya hanya tersenyum kecut sambil berikrar dalam hati, “Sebentar lagi saya akan bawa tugu Monas atau menara ATC Soekarno-Hatta deh biar dibilang sukses, saya bawa pesawat Hercules”.

Pulang kampung, pulang kampung…

TULISAN SAYA DAN PEMAHAMAN SAYA

TULISAN SAYA DAN PEMAHAMAN SAYA

Saya menyukai membaca sejak saya masih bernapas dengan insang. Kata ibu saya, dia sangat gemar membaca ketika sedang mengandung saya. Saya tidak bisa berpisah dengan bacaan. Saya penyuka buku yang keranjingan. Tapi saya bukan pula pembaca cerdas yang seketika itu memahami bacaan saya kemudian memilah-pilah dan kemudian mengamalkan ilmu yang saya dapatkan dari membaca tersebut. Saya juga tak terlalu tertarik menghapal nama-nama ilmuwan yang bisa saja namanya saya jadikan “hiasan” tuangan ide-ide saya. Saya masih rote reader – membaca hanya sekedar membaca.

Ada sebuah episod masa es de saya yang masih sangat membekas dan menempati sebuah bilik istimewa di jiwa saya. Ketika saya kelas enam es de, saya (dan satu kakak perempuan saya) dititipkan kepada Budhe karena orang tua saya sedang sibuk mengurusi kepindahannya ke kota lain. Saya harus rela berjauhan dengan mereka. Saya yang masih kecil ini harus menahan rindu pada ibu, bapak dan saudara-saudara yang lain. Saya terpaksa mencari pengalih rasa rindu saya berupa aktivitas yang menyenangkan.

Sepulang sekolah saya punya kegemaran yang sangat dikenal oleh tetangga dan teman-teman. Mendengarkan kethoprak di radio dan sembunyi di gudang membaca majalah berbahasa Jawa, Jayabaya. Mendengarkan radio – terutama kethoprak dan sandiwara radio – adalaha hal yang lazim dilakukan masyarakt desa kami. Biasnaya kami saling bertukar pikiran tentang cerita yang telah kami denganr lalu membuat prediksi-presiksi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya atau malah mengkritisi perbedaan cerita di radio dengan cerita yang pernah kami denganr dari budaya cerita rakyat yang kami dengar tiap padhang mbulan (bulan purnama, Bahasa Jawa). Fyi, di kampung saya dulu saat saya masih kecil masih ada budaya mbeber kloso (menghampar tikar, Bahasa Jawa) di pelataran rumah setiap malam bulan purnama sebagai wadah orang tua menceritakan cerita rakyat atau kisah moyang keluarga pada anak-anak kecil diselingi dengan indoktrinasi kudu begini kudu begitu, nanti kuwalat kalau tidak menurut; tidak hanya anak keluarga yangboleh hadir, everybody is invited – the more, the merrier. Satu lagi kegemaran rahasia saya: menulis diary, cerita pendek dan ulasan tentang orang di sekitar saya.

Jika saya hubungkan buku-buku yang saya baca dengan kegemaran masa kecil saya, kok rasa-rasanya tak jauh beda. Saya sangat tertarik pada kisah-kisah yang mengandung kemandirian atau sosial budaya. Saya kurang begitu suka pada kisah yang berbau ilmiah murni dan teoritik. Saya juga lebih suka menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian hari per hari serta sosbud daripada menulis sesuatu yang berlandaskan ilmu murni. Tak heran ketika saya menulis skripsi, saya sempat ditegur oleh seorang dosen. Menurut beliau skripsi saya miskin ilmu. Skripsi saya kering landasan. Skripsi saya hanya bualan tanpa kerangka berpikir yang ditawarkan oleh para theorists yang telah dikenal di bidangnya. Dosen tersebut bahkan sempat mengatakan bahwa skripsi saya bisa dibilang sekedar bullshit karena hanya merupakan hamparan kicauan burung Rike yang belum dikenal oleh orang. Dia juga bilang skripsi saya tak akan laku kalau dijual. Lebih baik dibuang ke tempat sampah. Untung saya menyadari kebodohan saya, sehingga pada saat itu saya hanya bilang “Masak segitu jeleknya tulsian saya ini, Bu? Teori sastra saya udah cukup kuat dan saya ambil beberapa teori sosial dan psikologi untuk menguatkannya. Gak laku gak papa lah, Bu yang penting saya lulus kuliah tepat waktu trus saya mau kerja. Nggak pengen jadi ilmuwan tulen. Gak ada otak.” Si Bu Dosen tertawa riang menyambut kelakar saya.

Kembali lagi pada bacaan dan tulisan saya. Saya bukan orang yang membaca dan kemudian segera memahami apalagi menghapal apa yang telah saya baca. Saya hanya mampu menyerap apa yang bisa masuk kedalam pori-pori pemahaman saya yang ternyata tak cukup peka sebagaimana seharusnya spons menyedot air. Saya hanya mampu mengolah dan mencocok-cocokkan apa yang saya pahami dengan apa yang saya temui.

Menuliskan sesuatu tanpa teori menjadi sebuah kegemaran buat saya. Saya tidak mau memaksakan diri saya untuk selalu memulai pernyataan saya dengan “Berdasarkan si anu…”. Saya ingin menulis secara orisinil. Saya ingin menuliskan sesuatu dengan cara saya. Saya memang mengenal teori-teori tapi saya tak pernah merasa bahwa saya harus menisbatkan ide-ide saya kepada penemu teori tersebut. Tapi saya juga tak akan mengatakan bahwa saya mengetahui ini secara otodidak karena nyatanya saya pernah membaca apa yang mereka tuliskan. Saya hanya berusaha “menemukan teori itu” dalam mikrokosmos saya.

Ah, dunia ini memang luas. Tiap kavling di-klaim menjadi milik seseorang. Tak beda juga dengan ilmu pengetahuan, luas dan dalam dan tak sedikit kavling-kavlingnya di-klaim sebagai milik si anu atau si anu. Saya tak peduli. Saya adalah penduduk semesta yang – walaupun tak punya lisensi – berhak mengklaim sebagai pengembara yang bisa saja menemukan permata dan menyimpannya dalam saku baju saya tanpa mengatakan pada siapapun bahwa saya memiliknya.

Dedicated to: all readers especially someone loving to read my writings.

September 20, 2008

PENIPUAN TERORGANISIR

PENIPUAN TERORGANISIR

Sejak bekerja di lapangan, saya ketemu hal-hal yang diluar ekspektasi bahkan diluar bayangan. Apapun yang selama ini saya anggap sesuatu yang wajar menjadi tak wajar lantaran mata saya melek semelek-meleknya terhadap hal yang cuma kuketahui secara tebak-tebak buah manggis.

Industri adalah kata kuncinya. Bertahun lamanya saya hanya menjadi konsumen yang nggak tahu apa dibalik apa, apa dibalik siapa, siapa dibalik apa dan siapa dibalik siapa. Beli barang, murah, titik. Tak terpikir biaya (terjemahan dari cost) yang keluar selama proses produksi.

Karena bukan orang pemasaran, saya nggak ngomongin biaya berupa uang. Biaya yang saya omongin adalah social cost yang ternyata membuat rahang saya jatuh (terjemahan dari falling jaw).

Ngobrol dengan sekurangnya lima belas buruh di pabrik setiap hari, membuatku serasa tidak tenang memakai baju merk tertentu lantaran biasanya biaya proses produksi (uang) ditekan serendah mungkin dengan merelokasikannya ke social cost yang artinya mengorbankan hak karyawan. Apa lagi kalau akhirnya yang terjadi adalah: lembur tidak dibayar atau dibayar kurang, UMR tidak dijamin, jamsostek tidak dibeli, cuti tidak diberi, tidak boleh ke toilet kecuali waktu tertentu, rela diteriakin oleh para ekspatriat (utamanya Korea) yang lagaknya sudah seperti centeng pasar (makanya aku suka bete kalau ada yang nge-fans banget sama produk Korea entah film atau yang lainnya he he he…), dan kenyataan-kenyataan lain yang mau tak mau membuat hati kebat-kebit setiap memasuki kawasan pabrik tertentu yang udah “langganan” melanggar ketentuan yang berlaku.

Jangan dikira semua praktik tersebut dengan mudah ditemukan karena biasanya pelanggaran-pelanggaran tersebut telah disusun dan disembunyikan dengan rapi. Semua pihak “diharapkan” mendukung hal ini termasuk karyawan produksi sebagai “sol sepatu” karena kalau tidak, “Orderenya bisa tidak turuneee kalau banyak findingnya… Nanti karyawannya tidak bisa dapat kerjanyaaa, uang dari mana untuk anak sekolah…”. Itu masih cukup ramah.

Bayangkan kalau Anda menjadi buruh pabrik dan dipaksa untuk berbohong dan kalau tidak dikeluarkan. Kalau Anda dikeluarkan dari tempat kerja, mungkin masih bisa memutar otak mencari tempat kerja baru atau membuka bisnis dari uang pesangon. Kalau mereka? Bisa-bisa dikeluarkan juga tanpa pesangon, belum lagi harus menanggung susahnya nyari kerjaan baru.

Yah itulah sekelumit kisah tentang bi-partite (perusahaan dan karyawan) yang disalahgunakan keberadaannya – bahu-membahu menyembunyikan kebusukan otak top management yang kemaruk keuntungan buat disetor pada owner. Masih banyak lagi borok yang kalau diceritakan bisa menjadi sebuah novel.

Sebut saja karyawan yang berani curhat “Ibu, saya dikatain anjing, goblog, tai dan kata-kata lain ama supervisor padahal palingan salah jahit bisa dipermak, permak juga kagak dibayar lembur saya mau. Tadinya saya kagak tahu soalnya dia pakai bahasa sono, lama-lama saya tahu itu artinya anjing dan kata-kata buruk lain. Saya mah kagak betah tapi belon ada kerjaan lain…”

Terima kasih, Tuhan… Telah mengantarku ke pekerjaan ini sehingga ku tak mesti bangga tatkala memakai baju ber-merk terkenal. Sekarang saya sedang rajin memakai baju yang dijahit oleh penjahit yang kubayar dengan layak; walau kain bahannya belum tentu terjamin dibuat di pabrik yang memanusiakan manusia atau tidak. Paling tidak inilah bentuk keprihatinanku pada kebobrokan praktik industri dunia dan pengurangan resiko menginjak tengkuk karyawan produksi.

Semoga keadaan semakin membaik… Amin

Balaraja, 3 Juni 2011 – 12:18 siang

SURAT KUASA

Dear Multiply Indonesia,

Dengan surat ini, saya:

Nama: Rike Anggraeni a.k.a. Rike Jokanan
Multiply id: http://rikejokanan.multiply.com

memberikan kuasa kepada :

Nama: Wahyu W.
Multiply id: http://wib711.multiply.com

yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di rikejokanan.multiply.com (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya. 

Terimakasih

Dear Multiply Indonesia, Dengan surat ini, saya: Nama: Rike Anggraeni a.k.a. Rike Jokanan Multiply id: http:rikejokanan.multiply.com memberikan kuasa kepada : Nama: Wahyu W. Multiply id: http:wib711.multiply.com yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di rikejokanan.multiply.com (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya. Terimakasih

Dear Multiply Indonesia, Dengan surat ini, saya: Nama: Rike Anggraeni a.k.a. Rike Jokanan Multiply id: http://rikejokanan.multiply.com memberikan kuasa kepada : Nama: Wahyu W. Multiply id: http://wib711.multiply.com yang pada hari jumat tanggal 7 September 2012 akan datang ke kantor Multiply Indonesia untuk memberikan DVD kepada Multiply Indonesia, agar Multiply segera mendownload semua isi blog saya di rikejokanan.multiply.com (termasuk yang personal/privacy) ke dalam DVD tersebut. Saya mohon kerjasamanya.  Terimakasih

JIKA TEMANKU PELANGI

JIKA TEMANKU PELANGI

Ketika seseorang membelimu

Dengan seporsi makanan enak dan segelas minuman segar

Dengan selembar voucher belanja

Dengan voucher handphone untuk tetap bisa bicara

Dengan ongkos taksi supaya kau bisa pulang malam

Apakah kau serta-merta menerimanya?

Aku tidak!

Aku tidak menerimanya.

Aku hanya menerima

Orang-orang

Yang membeliku dengan warna pelangi.

Pelangi di jiwaku:

Merahku memberanikan

Jinggaku menguatkan

Kuningku memenangkan

Hijauku menyegarkan

Biruku menenangkan

Nilaku menghargai

Unguku menghormati

Terima kasiku pada mereka

Kutinggalkan pembeli teman untuk kembali pada pelukis pelangi jiwaku.

Rumah kecil di tepi Kali Cisadane

8 Agustus 2012 – 4:26 sore

Foto dipinjam dari http://www.perutgendut.com/media/read/Pelangi-didalam-sebuah-kue/443

RINDU

RINDU

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan rindu?

Ikatan antar jiwa kah?

Apa yang menyebabkan setiap jiwa terikat pada jiwa yang lain?

Adakah zat kimiawi yang menyebabkannya?

Atau inikah yang dinamakan spiritual?

Alangkah rumitnya rindu.

Rindu Bob Kucing

Phnom Penh, 17 Juli 2012 – 7:47 malam

Foto dipinjam dari http://www.fanpop.com/spots/maria-050801090907/images/27986990/title/miss-already-photo

HONG KONG DALAM SEKEJAP

HONG KONG DALAM SEKEJAP

(ocehan orang lapar)

Syukur alhamdulillah nyampai juga di Hong Kong… Malahan besok udah mau mbalik ke rumah mungil di pinggir Kali Cisadane…

Lima hari di kota eks wilayah Inggris yang sekarang menjadi wilayah administratif khusus di bawah negara tirai bambu ini cukup memberikan saya warna. Pengalaman kecil seperti remahan bolu yang menjadi bagian dari deconstructed cake. Saya bertemu dengan orang-orang yang sedang menggapai cita-cita yang membuat saya makin terbuka dalam berpikir hanya karena saat ujian saya jejer dengan seorang teman yang gigih berjuang agar lulus ujian dengan cara yang kurang terhormat – nyontek bow.

Oh saya tidak ingin bicara tentang perjuangan dengan cara mencontek. Saya hanya ingin membicarakan Hong Kong yang modern-nya ya model-model Singapura gitu deh. Gedung-gedung tinggi yang kalau dipanjat tiap hari melalui tangga sepertinya akan bikin saya segera langsing. Jalan-jalan yang dilengkapi dengan rambu lalu-lintas berbagai macam: belok bow, terus aje, berhenti yak, jangan parkir sembarangan, lanjut coi, jalan euy, buruan udah hampir merah, dan lain-lain. Apakah semua tertib?

Kalau dibilang tertib ya jauh lah dibanding kita yang selebor seenaknya pakai jalan milik simbah kita. Tapi kalau dibanding dengan warga Singapura, warga Hong Kong masih kalah tertib. Mereka masih mau nyeberang saat lampu merah, mobil ada yang mbleyer-mbleyer biar pejalan kali minggir padahal itu daerah rame bebih…. Macem pasar Tanah Abang gitu deh tapi ini lebih modern, bersih dan rapi namanya Tsim Sha Tsui. Ramainya ya gitu deh… Kalau mau beli oleh-oleh di sana tempatnya. Sepertinya saya memang mencintai kulkas saya lebih dari apapun sehingga tiap pergi ke daerah baru saya selalu beli tepelan kulkas ha ha ha…

Di daerah Kwun Tong tempat saya menginap jarang ada pepohonan. Yang menacap di bumi hampir seratus persen beton dan tulang baja. Pepohonan mungkin hanya nempel di antara ruwetnya rangka metal dan adonan semen. Hong Kong cantik karena listrik dan alat elektronik. Yups. Kalau saja lampu mati beberapa jam dan genset tidak berfungsi makan Hong Kong akan menjadi kota yang mengerikan. Yang di dalam rumah kegelapan dan kepanasan, yang di luar gedung akan bertabrakan. Wah…. Nggak kebayang. Hush! Bayangkan yang bagus-bagus saja.

Apa yang kusukai tentang Hong Kong?

Oh. Waktu saya di MRT saya berpapasan dengna seorang mbak yang mungil dengan wajah lugu seperti wajah tetangga saya sebelah. Kami saling melempar senyum.

“Dari Indonesia?”

“Ya, Bu.”

“Mari….” kata saya mengakhiri percakapan yang tak pernah berlanjut karena kereta telah membuka pintunya.

Ah… Kota ini sungguh tidak mengajarkan silaturahmi karena begitu masuk ke dalam gerbong pun kami akhirnya terpisah oleh penumpang lain yang juga sedang mengejar waktu dan bersedia berjubel berdiri bergelantungan di gerbong yang sejuk dan nyaris tanpa bau apek ini. Dimana-mana orang sibuk dengan handphone atau tabletnya. Ini pemandangan yang lumrah. Mereka sedang berkomunikasi karena banyak diantaranya yang tersenyum sendiri, cemberut, wajah berekspresi lucu…. Oh… Beginilah mereka bersilaturahmi. Jadi, memang gaya hidupnya sudah beda bow…

Kalau kata teman saya smartphone dia punya tagline “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”. Inilah bukti massal: di gerbong itu mungkin kurang dari 10% yang sedang ngobrol dengan orang di sebelahnya; 90%-nya sedang bersilaturahmi dengan saudara yan
g secara maya ada di depannya. Rupanya konsep komunikasi dan silaturahmi telah bergerah ke arah yang di luar prediksi saya. Salah jika saya mngatakan mereka tidak suka bersilaturahmi. Mereka bersilaturahmi dengan cara yang bereda.

Sama dengan kita di Multiply. Berapa banyak dari kita yang sebenarnya sangat ramah dan baik hati di antara kita tapi mungkin dengan tetangga sebelah standar saja. Bukan sebuah hal yang salah karena dunia ini memang bergerak senantiasa. Komunikasi dibingkai dengan virtual boundary yang hampir tidak ada kecuali oleh power of choice. Mana yang kita pilih maka itulah teman kita. Power of choice telah menjadi kekuatan yang tak terelakkan yang membuat orang tua kadang jengkel “kok anakku ini nggak nurut sama aku to?”

Ya begitulah Sudaraku, ocehan saya di awal hari. Saya mau siap-siap meninggalkan kota Hong Kong yang entah kapan saya injak lagi karena kalau nanti punya uang saya nggak mau main ke Hong Kong. Saya akan lebih memilih sebuah area di China bernama Guilin yang mungkin akan mengajari memilih cara komunikasi yang berbeda.

Hong Kong, terima kasih telah secara brilian mengajariku untuk menghargai gaya hidup orang lain dengan cara legowo…

L’Hotel ‘elan, Kwun Tong – 23 Juni 2012 – sambil ndengerin Selena Gomez nyanyi “Who Says”

ADIK MALAS (ATAU BODOH?)

ADIK MALAS (ATAU BODOH?)

Saya lagi bener-bener dicoba untuk sabar menghadapi para pemalas (atau orang bodoh?).

Saya nggak mudeng apakah memang standard lulusan perguruan tinggi saat ini jauh menurun dibanding beberapa tahun yang lalu. Jujur ya para pembaca, saya sedang bicara tentang lulusan Universitas Indonesia.

Maafkan jika saya terdengar seperti Marzuki Ali yang cocotannya kurang bermutu tapi memang itulah kenyataan yang sedang saya hadapi.

Seorang lulusan UI angkatan 2007 menjadi pegawai baru di bagian operation sejak bulan lalu. Layaknya orang baru, dia dipasangkan dengan orang yang telah bekerja dahulu.

Sebagai chaperone (saya nggak mau disebut senior karena terkesan superior) saya meminta dia untuk melengkapi laporan sebagai proses pembelaran seperti dulu chaperone saya menugasi saya dengan aktivitas yang sama. Bahkan laporan yang saya berikan kepada dia sudah terisi 30%. Dulu jaman saya, senior saya cuma ngasih template kosong dan saya benar-benar menulis semuanya sendiri hanya berbekal daftar temuan hari itu.

Hasil pekerjaan sang adik saya ini sungguh menggelikan. Selain dari segi bahasa tidak memenuhi syarat saya – please deh dia bekerja di perusahaan multinasional kok bahasa Inggrisnya nggak pokro (tidak cukup bagus, Bahasa Jawa Timuran) dan yang lebih mengecewakan adalah dia tidak menulis report sesuai dengan instruksi yang secara gamblang telah ditulis bahkan dilampirkan bersama jadwal kerja kami. Contoh laporan juga sama sekali tidak tecermin dalam laporan yang dikirimkannya padaku. Indikasinya: dia tidak membaca instruksi penulisan dan/atau laporan contoh.

Wahai Sudaraku baik yang lulusan UI maupun bukan. Apakah yang sedang terjadi terhadap lulusan kita? Kalau orang yang pernah jadi Asisten Dosen di UI aja kayak gini, gimana yang nggak pernah jadi Asdos ya?

Maafkan, Sudaraku…
Aku memang negativist.
Aku tidak menua gracefully (menua gracefully adalah menua tanpa pernah marah-marah dan/atau berkonflik dengan teman) karena menua gracefully bukan target hidupku. Target hidupku adalah hidup dengan benar dan gamblang walau keanggunan jauh dariku.

Silakan komen baik gracefully maupun disgracefully. Jujur, saya kehilangan kepercayaan pada lulusan UI secara lulusan UI di kantor saya cuma dua yang tidak kacrut; selebihnya (ada empat) bikin emosi aja policy dan decision-nya ha ha ha…

Rumah kecilku di bantaran Kali Cisadane – 26 Mei 2012 – 6:55 petang
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!