Diving – haiku

In a rough dark sea
She is diving all alone.
Tridacnas await.


Are you ready? At the end of an abyss you’ll see a beauty beyond description.

 

Picture borrowed from this link, you can also learn what is Tridacna in it. Thank you! http://www.advancedaquarist.com/2016/1/aafeature

 

Or, watch below video

Temasek – April 1, 2017 – 22:35

Circle – haiku

Moving a circle,
Connecting two dots: She is
Making a Zen Art.

 

 

I am the one holding Zen Art T-shirt and Zen Art painting. The smiling lady is the artist – the one making the Zen Art.

Chiang Mai, Thailand – September 16, 2016 – 00:30am

Lark Is Singing For Moppy

I met Moppy last Monday in Jakarta. Hugging him for about 10 minutes at one time plus several minutes after that…. The sensation was he was saying “I am ok, never mind. It’s all right now.”

I felt that it would be my last time seeing him. The coming weeks would be a very hectic time and won’t probably good space to fly in to Jakarta again. That’s why I forced myself to meet him this week; whatever it takes to do…. But if he still wants to spare some time to be hugged, I’ll take his lead.

I feel a lark lingering around. She is singing songs telling me a handsome boy named Moppy is the messenger who brings messages to each of warriors around him – to keep striving for perfection in life. The songs are like flowing river, going to the ocean – ocean of growing love.

The lark is singing while perching, while flying – it’s a sign that the messages are constantly delivered – never stop even the warriors are focusing on something else.

IMG_1692

Moppy, if it’s your time, please don’t wait until the warriors are stopping to sit with you. Please take the lead and the warriors are following your way. The warriors are here to stay, deciphering the messages you have brought to them. Even some messages you bring are now not read, those unread would be found in time.

Moppy, throw away your little worry. The warriors have made their pledge that they would be faithful to their missions. That they would be on the right path until they meet you in the other side.

It’s a beautiful chance to be with you in life for just several hours. Been a precious time to hug you and to sing some songs for you….

My heart is filled with love and gratitude and forgiveness that may lead our way to the Light.

Sending my love, blessings and forgiveness to a handsome boy named, Moppy. Be comfortable…..

Singapura – June 3, 2015 – 10:29pm

Free – haiku

Pearls are sliding through
A long thread; falling down to
The floor — to be free.

=======

Free falling, I want to be free.
Free from others’ eyes…. from others’ ears….
Can I do, oh can I do?

If I can, then what should I do?
Dancing in the dark space like this moment?
So, why do I need to be free?

Let me travel in the space, dark space of Light,
Spiralling to and meeting you.

IMG_1025

Singapura – April 12, 2015 – 9:42pm

Prayer – To Beloved Moppy

Prayer is a bunch of energy circulating through words, imaginations, deeds to materialise. So, when we’re praying we are changing the energy into materials which can be seen, heard, tasted, smelt, touched with our physical senses.

But is it only physical that gives the sensation? No, there is something un-seen, un-heard, un-tasted, un-smelt, un-touched but still can be felt…That’s why 6th sense exists.

After six, then there is 7, 8, etc? For sure…. But I want to say that that 6 covers all above 5.

So, if our prayer won’t materialise the energy into those five physical sensations, it means the energy is lingering as the 6th sensation. You still can feel it.

Pray. Even if it doesn’t happen as the eyes want to sense, ears want to sense, tongue wants to sense, nose wants to smell, hands want to sense; your heart never fails to sense it.

Pray.
Pray.
Pray.

Materialize!

Dedicating this prayer to Moppy, the dog that is traveling from Palembang to Jakarta to be cured. I love you, Moppy…. Cured, cured, cured….

IMG_0729

Singapore – April 8, 2015 – 9:06pm

Exchanging Blessings With The Gentle Giants

I went to Oslob, Cebu, Philippines — for whale shark watching last week. Butanding is the local language for whale shark (Rhincodon Typus). I wanted to exchange blessings with them.

With Michelle and Jerry – a tour guide and a driver – I left Mactan at 5am.

IMG_0452

Deciding not to plunge in to the water, I didn’t bring any swimsuit. Ok, a boat was rented….

IMG_0454

The boatman is part of the conservation team…. See the T-shirt worn.

IMG_0455

Many people already swam around something…. A group of butanding enjoying their breakfast

IMG_0457

The gentle giant was peeping below my boat. Please let me offer you my love, dear butanding….

IMG_0472

Look at the spots on the body….

IMG_0473

…. on the tail

IMG_0501

He is deeply, seriously giving his blessings…. Or her blessings….

IMG_0494

Blessings to the feeder on the boat….

IMG_0484IMG_0502

To the onlookers on and beneath the water…..

IMG_0505

And, to me….

Before I finally left the site, I put both my feet into the water and prayed in my heart, telling huge blessings then leaving them into the sea. Thank you, butanding…. For the blessings we exchange.

Singapore – February 15, 2015 – 4:48am

For more information about whale shark, please go to:

http://animals.nationalgeographic.com/animals/fish/whale-shark/

LUPUS LUPIS LEPAS

LUPUS LUPIS LEPAS

Bertahun lalu saya membaca cerita seri Lupus karya Hilman Hariwijaya. Ceritanya lucu bener dan sangat menarik untuk orang “daerah” seperti saya yang hanya bisa membayangkan kehidupan para remaja Jakarta. Saya masih ingat saya bertanya-tanya pada diri sendiri apa arti lupus. Saya sempat berpikir apakah lupus artinya permen karet ya? Ya maklum lah waktu itu saya masih SMP, akses pada informasi sangat terbatas – ndeso, bow – dan terutama internet belum terjangkau.

Sampai akhirnya saya menginjak usia SMA. Saya mulai berkenalan dengan ensiklopedia milik sekolah saya yang saya buka kapanpun ada kesempatan ke perpustakaan. Ternyata lupus itu artinya srigala. Ada juga sih arti lain tapi yang paling pas dengan yang saya harapkan adalah srigala itu.

HOMO HOMINI LUPUS

Istilah ini saya kenal ketika saya kuliah. Artinya sih katanya “manusia adalah srigala bagi manusia lain” atau “manusia memangsa manusia lain”. Sangat mengenaskan kalau memang istilah ini sudah ada sejak jaman dahulu kala; indikasi “istilah lama” ini karena pertama kali diucapkan oleh Plautus dalam karyanya Asinaria pada tahun 195 SM yang tepatnya berbunyi “lupus est homo homini”.

Yang dialami teman saya ini mungkin semacam “homo homini lupus”, dia dimangsa oleh teman yang lainnya.

Seorang karyawan kontrak di sebuah pabrik – sebut saja namanya si Gopel – menjalani kerja sampingan sebagai tenaga harian lepas di pabrik lain. Di pabrik siang dia bekerja sebagai tenaga di bagian pengemasan (packing) dan di pabrik dengan shift malam dia bekerja sebagai tenaga kuli angkut di bagian gudang bahan dan kadang diperbantukan di bagian pengemasan (packing).

Suatu hari, teman-temannya merasa bahwa si Gopel ini hidup lebih makmur daripada dia. Gopel bisa tetap bertahan hidup: membayar kontrakan dan ada indikasi akan mencicil rumah di pinggiran kota tangerang, mencicil motor lewat koperasi perusahaan, membeli sembako di koperasi dan juga menyekolahkan dua anaknya di sekolah negeri yang berlokasi di dekat alun-alun Kota Tangerang. Gopel tidak pernah menyadari bahwa ada sekelompok orang yang menginginkan kemakmurannya. Gopel hanya menjalani hidupnya secara polos tanpa aturan main kecuali norma kesetiaan kepada keluarga dan kesholehan sosial dalam pergaulan.

Tanpa piker panjang, teman-teman itu melaporkan pada pabrik siang dan pabrik malam tentang apa yang dilakukan oleh Gopel. Mereka memprotes apa yang dilakukan Gopel berdasarkan peraturan ini dan itu yang intinya adalah Gopel telah menyalahi hokum karena memiliki 2 pekerjaan yang sama di 2 tempat yang berbeda.

Gopel hanya bisa menarik napas panjang, sepanjang usus dan seluruh otot di tubuhnya jika disambungkan menjadi satu. Gopel kemudian teringat pada gajinya yang selalu hanya bersisa Rp.100.000 karena sisanya telah dipotong hutang koperasi. Dengan bekerja di malam hari sebagai harian lepas maka dia akan mendapatkan tambahan Rp.700.000 per bulan, jumlah yang cukup untuk membayar uang sekolah dua anaknya dan biaya hidup sehari-hari. Seringkali istrinya dan dia harus berpuasa; dia berucap syukur karena anak-anaknya juga ikut berpuasa jika orangtuanya berpuasa.

LUPIS

Istri Gopel bermaksud menjual lupis, makanan yang menjadi kesukaan keluarga. Maka dengan modal kecil dia membeli beras ketan, kelapa, daun pandan dan keperluan lain. Maka di hari itu, di hari Gopel kehilangan pekerjaan sebagai tenaga packing di pabrik tempat dia bekerja sebagai karyawan kontrak karena HRD di pabrik itu mengatakan bahwa itu tidak etis. Gopel hanya pasrah maka dia hanya bisa menjadi karyawan harian lepas di shift malam. Dia memutuskan untuk membantu sang istri di pagi dan siang hari termasuk membuat kue lupis dan menjualnya. Laris juga tapi tetap saja belum cukup untuk menutup kebutuhan keluarga.

LEPAS

Tiba saatnya Gopel mendapat panggilan untuk menerima gaji di pabrik tempat dia bekerja di shift malam. Hati tenangnya mengatakan bahwa Rp.700.000 akan masuk ke kantongnya. Hati galaunya mengusiknya bahwa bulan depan dia akan mengalami krisis keuangan karena tabungan mereka hanya cukup untuk satu bulan ke depan. Dua bulan yang akan datang dia terancam tak bisa membayar kontrakan, cicilan motor dan kehilangan hak mengutang pada koperasi untuk kebutuhan sembako.

Setelah memarir motor, Gopel langsung menuju ADM (petugas administrasi) di bagian packing yang biasanya bertugas membagikan gaji pada karyawan harian lepas.

“Gopel.” Gopel mendengar namanya dipanggil. Dengan langkah tegap dia menghampiri petugas ADM.

“Dipanggil HRD sekarang.”

Gopel merasa tulangnya dilucuti dari tubuhnya; lemas. Dia tahu apa yang akan terjadi padanya. Dia akan kehilangan pekerjaan sampingan yang sekarang telah menjadi pekerjaan utamanya. Kepasrahan memenuhi relung hatinya. Wolo-wolo kuwato, kata orang Jawa.

“Gopel ya?”

“Iya, Pak. Saya mau ngambil gaji tadi trus disuruh ke sini.”

“Iya. Kamu tahu nggak kenapa dipanggil?”

“Mau dipecat ya, Pak?”

“Enggak, siapa yang bilang kamu dipecat.”

“Saya sudah dipecat dari pabrik siang, Pak.”

“Iya, saya tahu kok.”

Gopel diam seribu bahasa.

“Gini Gopel, kamu pernah jadi operator genset ya?”

“Pernah, Pak tapi sudah lama. Sebelum saya pindah ke packing di pabrik siang.”

“Operator genset kita pindah ke Sukabumi, nggak ada lagi yang bisa ngoperasiin genset. Kamu mau nggak jadi operator genset?”

Gopel bengong.

“Beneran ini, Pak?”

“Bener lah masak saya main-main. Tuh orangnya tanyain aja, mulai minggu depan udah keluar. Mau nggak?”

“Mau, mau, Pak. Saya mau banget.”

Manager HRD tersenyum-senyum lega, pekerjaannya tuntas sudah.

“Gini, Gopel. Kamu nanti probation dulu 3 bulan trus habis itu langsung diangkat jadi karyawan tetap ya. Nanti ada training dulu ya.”

Gopel makin bengong karena dia tidak paham arti probation. Tapi kata-kata karyawan tetap membuatnya tersenyum bahagia.

Gopel menyambut tangan Manager HRD yang memberikannya selamat.

Hari itu juga Gopel dan keluarga lepas dari himpitan mangsaan srigala yang bernama manusia.

Jatiuwung, 14 November 2012 – 1:34 siang

Gambar dipinjam dari http://mikebrandlyauctioneer.wordpress.com/2012/02/02/how-ethical-are-auctioneers/