SEKANTONG JAMBU AIR IBU SRI
Sudah bertahun-tahun saya mengenal ibu yang satu ini dan makin lama makin saya paham betapa hangatnya pribadi beliau.
Dua minggu yang lalu beliau masuk rumah sakit karena DBD dan saya sempat menjenguknya dua kali. Kali pertama adalah hari pertama, itupun tidak sengaja.
Saya sengaja pulang cepat hari itu (Senin May, 2008) karena dua alasan:
- Permintaan tolong untuk meleraikan pertengkaran beberapa teman saya.
- Asam lambung saya naik dan terasa sangat perih tidak kuat menehan mual dan perih.
Di patas AC 138 jurusan Blok M-Tangerang saya mencoba menghubungi seorang teman kecil saya, Latifah Danirmala (8 tahun, putri pertama Mbak Wulan, sahabat saya) yang buat saya adalah seorang teman curhat yang bisa mengerti saya tanpa saya harus menjelaskan apa masalah saya. Kami saling menghibur dengan tatapan dan cerita-cerita lucu kami.
“Bu Rike, Mbah Titi di rumah sakit dianter ibu tadi pagi. Tapi aku nggak tahu sakitnya apa dan rumah sakitnya dimana. Aku bangunin ayah dulu ya.”
Dari ayah Lala saya mendapat info bahwa mbah putri Lala yang bernama Ibu Sri Murwani dirawat di RS Sari Asih Tangerang.
“Oke Mas, aku langsung kesana aja. Ntar aku tanya ke Mbak Wulan ruangnya apa.”
Segera saya menelpon teman saya yang ternyata urung memerlukan jasa saya sebagai juru damai, yang berantem udah pada nangis nyesel Mbak, kata yang menelpon saya. Dengan bersenjatakan sekantong plastik susu beruang (pada saat diperah si induk beruang harus dibius dulu kali ha ha ha) dan dua bungkus biscuit Roma saya menyambangi Ibu Sri yang ternyata sedang sendiri karena ibu Lala harus pulang dulu mengurus anak-anak. Karena bertepatan dengan makan siang maka saya merasa terpanggil untuk menyuapi beliau. Menunya: nasi putih, sop rasa Aqua, empal dan tempe goreng rasa hambar. Beliau diet garam rupanya.
Kali kedua adalah hari ketiga beliau dirawat, malam hari setelah saya dikabari ayah Lala via Yahoo Messenger bahwa Ibu Sri terserang DBD. Saya bawa Poccari Sweat kalengan untuk si sakit serta CocaCola dan Nescafe untuk yang menemani beliau. Disitu saya punya kesempatan pertama dalam hidup saya untuk mengerjai Ibu Sri: Ayo Ibu, minum angkaknya. Ayo dong. Ini saya maksa lhoo…
Minggu pagi saya menerima sms “Ibu pulang Jumat pagi. Sekarang sudah sembuh berkat bantuan doanya. Semoga sehat selalu”. Karena Ibu Sri hobi jalan-jalan maka saya jawab “Alhamdulillah. Semoga cepat segera kuat biar kita bisa jalan-jalan lagi”.
Minggu June 8, 2008. Saya sedang browsing internet ketika Ibu Sri menantang akan datang sendiri ke tempat saya demi mengantarkan jambu air andalannya. Saya jadi tidak enak karena seharusnya saya yang lebih muda yang harus berkunjung ke beliau yang sudah hampir 60 tahun itu.
Seperti biasa kami saling bertukar cerita dan pengalaman terkini dan ketika saya menunjukkan majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2008 beliau kembali mengenang perjalanan beliau ketika bergabung rombongan Coca Cola Foundation melancong ke Kasepuhan Ciptagelar di Gunung Halimun sana. Ngomong punya ngomong akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan bersama. Ke Kasepuhan Ciptagelar? Tidak… Kami akan ke Green Canyon Cijulang saja yang lebih mudah untuk ditempuh oleh beliau. Andai ibunda saya bisa bergabung ya…
Sambil makan jambu air yang pemiliknya belum pulang saya menunjuk-tunjuk kalender dan sepakat untuk berkunjung kesana bulan Agustus mendatang. Kami tertawa-tawa gembira. Aduh senangnya hati saya, dikunjungi piyantun sepuh (orang tua – bahasa Jawa). H
anya gara-gara setas plastik jambu air belaiu rela nyetir mobil sendiri malam-malam. Pasti bukan hanya karena beberapa buah jambu air yang takut habis dibagi-bagi sedangkan saya yang sudah ngiler sejak beberapa bulan lalu tidak kebagian. Pasti ini demi sebuah silaturahmi.