
RAMADHAN NOT FOR SALE, PUISI HATI MERANA
Ramadhan…
Rasanya kok biasa saja
Tidak ada rasa lapar
Tak ada pula rasa dahaga
Yang mencekam hanya segala ritual
Yang jika tak kukerjakan diancam dosa
Jika kukerjakan, duhai alangkah beratnya…
Ramadhan …
Rupanya telah menjelma menjadi sebuah annual guest
Hanya sebentuk tamu
Hanya sebuah kesementaraan
Yang bisa saja menaburkan suka-cita
Namun di balik hati yang lara,
Mungkinkah dia sebuah mala petaka?
Ramadhan …
Sebegini utamakah kau sebagai bulan?
Sebegini istimewakah kau sebagai masa?
Sebegini tinggikah kau dipuja-puja?
Kemudian sebagian manusia mengeramatkanmu,
Seakan engkau Tuhan mereka
Yang ternyata telah diumpetin dibalik ketiaknya?
Ramadhan …
Menangis aku serupa anak tiri
Yang kehilangan ayah dengan ibu baru atau
Yang kehilangan ibu dengan ayah baru atau
Mengais barokah yang dijanjikan
Dengan perasaan tertekan karena pandangan mata
Yang berlinang menangisi kebodohanku
Ramadhan…
Tivi saja menayangkanmu
Radio saja melagukanmu
Internet saja banjir olehmu
Media cetak saja tak kurang huruf buatmu
Tanah
Abang juga menjualmu
Adakah aku ini satu-satunya yang tak menghargaimu?
Ramadhan…
Jika ternyata aku ini salah memahamimu
Maafkan
Karena aku tak punya lagi kepentingan terhadapmu
Jika ternyata aku ini salah memperlakukanmu
Maafkan
Karena sungguh ku tak mau keintimanku dengan kekasihku tergadai karena aku harus berbagi denganmu
Ramadhan…
Maafkan aku tak bikin kolak
Maafkan aku tak makan 7 butir kurma
Maafkan aku tak tarawih ke masjid
Maafkan aku tak berbuka bersama
Maafkan aku hanya punya Aqua, kacang Garuda dan Kraft sisa
Jika kau tak doyan, aku tak tahu mesti sahur dan buka pakai apa
Ramadhan…
Jika aku satu-satunya yang melalaikanmu
Maafkan
Karena aku membaca langit yang gelap
Jika tak banyak aku berlomba merengkuhmu
Maafkan
Karena berlomba adalah untuk juara, sedangkan aku adalah seorang terpenjara
Ramadhan…
Biarlah disini aku berpesta dengan atau tanpamu
Biarlah disini aku menangis dengan atau tanpamu
Tolong jangan kau marah karena cemburu
Karena kekasihku tak mungkin mencintaimu lebih daripada dia mencintaku
Ramadhan…
Duduklah di tikar pandanmu sesuai janjimu
Lihatlah aku menari
Tari gemulai di depan kekasihku
Dengan atau tanpamu
September 3, 2008 (12:09am)