June 30, 2008
rike jokanan

2 comments

GURU SAYA 1

GURU SAYA – 1

Sepuluh tahun yang lalu saya mengikuti kuliah Sejarah Pemikiran Modern. Dosennya adalah seorang wanita Madura yang kritis dan adil. Kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, seringkali bikin mahasiswanya jengkel karena tak ada artinya alias tidak logis. Saat diam, dia berpikir sehingga kami mengira beliau melamun. Suatu hari saya merasa sangat bosan; bukan dengan mata kuliah dan pengajarnya melainkan dengan teman-teman yang berulang kali menguap menahan kantuk, teman-teman lain yang ngerumpi (termasuk ngerumpi-in Bu Dosen) dan bosan dengan kebodohan saya sendiri. Saya pun mengacungkan tangan dan bertanya.

“Silakan,” kata Bu Dosen.

“Siapa sebenarnya yang bisa disebut sebagai guru kita, Bu?”

“Yang mengajarkan tentang makna hidup.”

“Orang tua kita?”

“Bisa.”

“Bagaimana kalau orang tua tidak bisa mengajari anaknya pelajaran hidup?”

“Berarti memang dia tidak bisa disebut guru bagi anak-anaknya.”

“Bagaimana kalau ternyata Ibu belajar tentang hidup justru kepada saya?”

“Maka Anda adalah guru saya.”

“Bagaimana kalau saya ternyata tidak belajar pada siapapun?”

Bu Dosen diam. Para mahasiswa mengomel lirih karena khawatir diskusi ini akan panjang lebar menghabiskan energi mereka. Saya merasa bersalah membuat teman saya terancam lemparan pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawabnya sendiri tapi dia lebih menginginkan para pendengarnya aktif bicara (dengan berpikir sebelummnya tentunya). Saya merasakan panas cubitan sahabat di kiri kanan saya sebagai tanda protes.

“Apa maksud Anda tidak belajar pada siapapun? Apakah Anda benar-benar tidak belajar? Atau Anda belajar namun tidak “diajari”?”

“Saya belajar tapi tidak dengan diajari.”

“Sesungguhnya metode belajar seperti itulah yang paling tepat untuk manusia. Anda ingat sebuah ajaran China yang pernah kita bahas. Aku melihat dan aku lupa. Aku mendengar dan aku lupa. Aku mengalami dan aku ingat.”

“Apakah bisa dibilang bahwa saya adalah guru bagi diri saya sendiri?”

“Apakah Anda ingin menyebutnya demikian?”

Saya bingung. Oh, Ibu Dosen, saya bertanya, jangan ditanya, batin saya pilu. Pertanyaan saya mulai menyiksa tidak hanya mahasiswa yang jumlahnya mencapai 70 orang tapi juga saya sendiri yang dirambati rasa sesal. Ruang tar ber-AC ini menjadi makin panas. Aku mendengar salah seorang merutuk “Dasar, sok pinter. Rasain sekarang bingung sendiri dihabisi Madura.”

“Tidak.’

“Jadi menurut Anda, adakah guru yang tidak kasat mata?”

Wadaw… Apa pula ini bah!

“Tidak mungkin Anda tidak belajar jika tidak ada guru. Guru tidak selalu manusia yang bisa kita berikan penghargaan karena tiap petatah-petitihnya atau tindak-tanduknya diterima sebagai makna oleh seseorang. Guru adalah fasilitator. Perantara.”

Bu Dosen diam sengaja memberi jeda bagi saya (mungkin juga bagi teman-teman) untuk merenung.

“Guru adalah perantara dari tersampaikannya makna kepada seseorang sehingga dia memahami sesuatu.

Jika Anda, Saudari Rike…”

Saya terperangah karena ternyata Bu Dosen ini tahu nama saya. Bagaimana bisa? Saya bukan mahasiswa brilian. Ah, saya tidak mau ge er, bisa saja dia mendengar secara tidak sengaja bahwa mahasiswa goblog ini bernama Rike Jokanan.

Jika Anda tidak merasa ada yang mengajari namun Anda belajar maka carilah perantara itu.”

Saya tidak ta
hu mengapa saya ingin menangis saat itu. Yang saya rasakan adalah suasana sentimentil tak beralasan. Jangan-jangan karena tahu Bu Dosen tahu nama saya ha ha ha…

Jika perantara itu tak bisa Anda definisikan, jangan khawatir. Pada saatnya Anda akan menemukan Guru tersebut. Teruslah belajar dengan metode Anda dan jangan takut untuk tersesat karena Anda memiliki guru. Jangan membayangkan perantara disini sebagai kabel yang menghantarkan listrik atau angin yang menghantarkan suara…”

Suara Bu Dosen Madura makin ringan mengipasi hati saya. Ketika bel tanda jam kuliah habis, suara sorak-sorai lega teman-teman terdengar dan dengan tenang seperti biasa Bu Dosen beruluk salam, saya duduk tertinggal masih berusaha mencari-cari makna kata-kata Bu Dosen. Saya melihat Bu Dosen tersenyum tipis pada saya sebelum meninggalkan ruangan. Teman-teman saya memaki-maki saya. Dan saya tidak juga memahami apa maksud Bu Dosen guru saya tersebut… Hingga 10 tahun kemudian.

Terima kasih Bu Dosen. Anda ternyata guru saya.

Dosen tersebut sekarang masih aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Pada saat itu beliau juga mengajar mata kuliah Kesustraan Indonesia dimana saya berkenalan dengan karya-karya Zawawi Imron.

June 29, 2008

2 thoughts on “GURU SAYA 1

  1. inspiring, bu.Makasih sudah berbagi cerita

    Like

  2. abahsaidan said: inspiring, bu.Makasih sudah berbagi cerita

    terima kasih, Pak :-)semoga bermanfaat.

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: