PENYIAR

PENYIAR

Sepulang kantor saya biasanya segera menghidupkan radio (maklum gak punya tivi) dan mendengarkannya sambil menyelesaikan tugas hari itu, mulai ganti baju hingga menyelesaikan pekerjaan kantor yang kadang harus diajak pulang sebagai teman ronda malam.

Ada seorang penyiar yang suaranya terdengar sangat merdu dan menenangkan. Dia seperti mempunyai sebuah power yang menarik hati pendengar untuk betah menjadi kambing congek hingga tengah malam saat dia mengucapkan kata “Bye-bye”.

Lagu-lagunya tidak terlalu spesial karena bisa didengarkan di stasiun manapun. Coba simak:

  1. Terbalik oleh Delon
  2. Sadis oleh Afgan
  3. Satu Jam Saja oleh Asti Asmodiwati
  4. Firasat oleh Marcel
  5. Cinta Sejati oleh Ari Lasso
  6. Kirana oleh Dewa

Biasa-biasa saja bukan? Memang kekuatannya adalah pada penyiar yang membawakan acara tersebut. Sehebat apapun lagunya kalau bukan dia penyairnya saya akan segera meninggalkan gelombang tersebut dan mencari “pengganti” yang benar-benar berbeda, bisa jadi malahan saya loncat ke radio yang sama sekali tidak berlagu kecuali jingle iklan.

Penyiar itu selalu sabar dan menguatkan mengomentari curhat-curhat para pendengar yang beragam; mulai dari kangen suami yang tugas jauh hingga dalam keadaan hamil ditinggal pacar yang ternyata punya istri.

Saya berpikir bahwa penyiar ini adalah orang ter-happy sedunia karena begitu sempurnanya petuah dan komentar yang dilontarkannya pada pendengar yang berinteraksi baik melalui telepon maupun sms dan email. Saya sangat terkesan pada penyiar terutama pada penyiar ini.

Saya juga pernah berpikir bahwa penyiar adalah selalu orang yang paling sedikit masalahnya sehingga bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah atau paling tidak meringankan beban mental yang ditanggung oleh si pencurhat yang sedang on-air. Tahu tidak, saya dulu pernah bermimpi jadi penyiar ha ha ha… Namun, pikiran saya itu telah runtuh segera setelah mengetahui bahwa teman saya yang tak sedikit masalahnya menjadi penyiar di kota tempat saya sekarang bermukim.

Saya pernah diajak ikut siaran sebagai nara sumber pura-pura, daripada nggak ada teman ngobrol katanya. Saya mau, untuk menjawab mimpi saya yang pernah ada di masa lalu tersebut. J

Sekarang saya telah berubah pikiran. Mungkin justru dengan banyak masalah itulah teman saya ini menjadi penyiar. Untuk menghibur diri, untuk meratap tanpa terlihat bahwa dia sedang mengalami masalah itu atau apapun itu yang pasti saya berkesimpulan bahwa penyiar yang baik adalah yang dapat “menyimpan” perasaan pribadinya setiap sedang bertugas kendati hati rasanya mau meledak ketika pendengar ternyata curhat masalah yang sama dengan yang sedang dialaminya.

Penyiar, terima kasih telah menjadi teman saya. Semoga masalahmu juga segera terselesaikan dengan baik. Amin.

Mau tahu stasiun radio favorit bintang 5 versi saya:

  1. Female Radio (Mas Rudi Dahlan mantap deeeeh)
  2. Delta FM (Mas Farhan dan Mbak Shahnaz euy)
  3. Pesona FM (lagu-lagunya pas di hati saya…)
  4. Prambors (Ary Daging & Desta, kalian hebat!)
  5. RRI (Pro 1, Pro 2, Pro 3, Pro 4, Pro 5, Pro 6… Jaya selamanya)

12 thoughts on “PENYIAR

  1. aigle07 said: Jadi, suami juga senang lah, aku dicukupi walau aku tak kerja. WOW. Till then he is Okay, we have no problem on our marriage since the day I met him. Pamer nih jij? Salam dari Belgia.

    hmmm… aku juga mau nanti punya suami begitu :-)**gimana, pujaan hatiku…? he he he***okay, salam buat Belgia dari Indonesia, Mbak Emmy.

    Like

  2. aigle07 said: Emang kalau ga punya duit cukup, ga bisalah hidup disana, karena apa2 mahal/ harga berlipat ganda juga dengan di Jakarta. Jadi kalau gajih/ penghasilan nya disana ga cukup/ cuma pas2 an, sulit deh untuk bisa hidup disana, dan apalagi kalau punya anak dan isteri. Dan payah nya lagi sesudah punya satu pekerjaan, disana itu ga bisa punya pekerjaan yang kedua (double work), maka cukup ga cukup ya dari yang gajih resmi itu yang dipakai untuk ukuran hidup kita disana se-hari2. Kalau diem2 kita cari kerja kedua/ sambilan ya ga apa2, cuma kalau ketahuan yang berwjib, ya kena denda. Begitu lho critanya, jadi mohon maaf seribu maaf, and CU AGAIN.

    Ya begitulah, di negara manapun tentu ada saja BAIK dan BURUK nya. Kalau hal itu ditrap kan di Indonesia ya ga bakalan jalan karena masih banyak penduduk yang penghasilan nya pas2an dan untuk makan dll-pun kadang2 bisa kurang. Memang di Indonesia masih enak deh bisa kerja apa saja dimana saja dan kapan saja, tak ada yang melarang/ ngawasi. Kalau di Belgie itu untung nya kondisi sosial nya suah bagus, teratur dan sama rata bagi semua, walau mau apa saja dan ada apa saja selalu bener2 dikontrol oleh pemerintah pusat, jadi siapapun ga bisa main2, mau ga mau ya harus taati selalu aturan2, kalau tidak hello DENDA. Saya di Belgia ga kerja apa2 sebab tidak diperbolehkan kerja oleh suami. Jadi ya sekali2 saja saya ngajar Bhs Indonesia di European Union Commissioner ngajari Commissioner2 Eropa yang perlu ngerti Bahasa Indonesia, selagi ada komisi ke Indonesia. Menterjemah surat2 dan apapun dengan lisan/ tertulis juga bisa kalau lagi diperlukan. Saya juga pernah kerja di Proyek nya Bank Dunia, selama 4 tahun, tapi cuma 3x seminggu saja, selama itu. Bayaran saya mahal, maka pake paket saja. Ya itulah sebagian suka duka, tapi kerja itu tidak paksaan, selagi saya mau saja saya kerjain nya. Jadi, suami juga senang lah, aku dicukupi walau aku tak kerja. WOW. Till then he is Okay, we have no problem on our marriage since the day I met him. Pamer nih jij? Salam dari Belgia.

    Like

Leave a reply to rikejokanan Cancel reply