MEGENGAN DAN KUE APEM
Mendengar kata itu saya diingatkan kepada tradisi Jawa Islam (atau Islam Jawa?). Megengan ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang tanggal 1 Ramadhan tahun Hijriah. Megengan sendiri berasala dari kata megeng yang artinya menahan atau mengendalikan diri – berhubungan erat dengan tradisi puasa.
Pada saat megengan itu, kaum muslim di telatah tanah Jawa akan mengadakan sedekahan. Dulunya akan ada semacam undangan kepada para tetangga untuk menghadiri sekedar acara “makan-makan” yang dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh yang telah diminta oleh tuan rumah. Setelah berdoa bersama, akan dibagilah makanan yang telah didoakan tersebut kepada para hadirin.
Hidangan biasanya berupa nasi, urapan, ayam atau telur masak sebagai lauknya bisa juga ditambah sambal goreng kentang, kering tempe, mi kuning atau bihun goreng, pisang sebagai buahnya dan tak ketinggalan adalah kue apem. Bisa juga makanan telah disiapkan di wadah-wadah sehingga tidak perlu ada acara pembagian seusai doa. Semua terserah pada sang pengada acara.
Sebenarnya kue apem inilah kue khas megengan di telatah tanah Jawa. Apapun hidangannya, kue apem wajib ada.
Mengapa apem? Mengapa tidak yang lain? Semuanya ada filosofinya. Sedikit berbagi tentang kue apem ini supaya sebagian dari kita bisa lebih memahami orang-orang yang hidup dalam Islam yang tiba di tanah Jawa yang TIDAK PERNAH HAMPA BUDAYA.
Konon kabarnya, para wali kita tercinta sedang memikirkan bagaimana membuat para mu’alaf kuno makin bersemangat menunaikan ibadah puasa dan segala tetek bengek sebelum, selama dan sesudahnya. Seperti kita tahu, sebelum puasa ada anjuran kaum muslim saling memaafkan sesamanya sehingga puasanya bisa tenang dan berkah karena telah tak ada lagi ganjalan dari rasa bersalah berdosa kepada orang lain. Selama bulan Ramadhan ada juga ritualnya. Sesudahnya tentu ada juga.
Nah, orang-orang dulu yang kaya dan pekat budaya lokalnya tidak begitu saja bisa memahami konsep-konsep abstrak Islam Arab (maaf beribu maaf) miskin basa-basi. Para wali sangat memahami budaya Jawa yang kaya simbol sehingga para pemeluk baru Islam tersebut merindukan pengejawentahan konsep Islam Arab kedalam budaya mereka.
Walhasil para wali menganjurkan para warga untuk mengundang para tetangga, orang yang paling berpotensi “terluka” oleh sikap-sikap kita sekeluarga. Kemudian dalam acara undangan tersebut, para warga dianjurkan untuk menjamu mereka sebagai wujud pelaksanaan hadits “barangsiapa beriman pada hari akhir maka muliakanlah tetangga”. Dan, puncaknya mereka diminta untuk meminta maaf kepada para undangan yang notabene para tetangga tersebut.
Dalam budaya Jawa, meminta maaf secara langsung adalah sebuah “penemuan baru”. Tahukah Anda kenapa demikian? Karena dalam budaya Jawa, menyakiti juga merupakan barang mahal. Kalau “merasa” tidak menyakiti, mengapa kudu minta maaf? Dan, ini adalah kenyataan lain dari garapan para wali kita yang bijak bestari tersebut.
Maka para wali menganjurkan pada para warga untuk memasak kue yang bahannya adalah tepung beras, santan, gula dan garam secukupnya dan dimasak: dahulu kue apem hanya satu jenis yaitu apem yang dikukus dan cetakannya daun dibentuk kerucut.
Beras putih, makanan pokok penduduk melambangkan kesucian. Santan yang merupakan sari buah pohon yang manfaat semua bagiannya melambangkan sari atau ketulusan manusia. Gula dan garam melambangkan rasa hati. Daun yang dibentuk kerucut bermakna penerucutan semua kepada satu titik yaitu Allah SWT. Maka jika semua bahan itu dijadikan satu bunyinya adalah kesucian dan ketulusan rasa hati manusia yang ikhlas karena Allah semata.
Para warga penasaran apa nama kue resep wali tersebut?
Apem
adalah karena orang Jawa tidak memiliki konsonan “f” atau “v”. Para wali sendiri berkata demikian:
“Nama kue ini adalah afwun. Afwun artinya memaafkan. Kita orang Islam menyuguhkan kue afwun pada saat menyambut bulan puasa sebagai pernyataan permintaan maaf kita kepada para tetangga. Apa susahnya memberikan afwun ini kepada tetangga kita? Jika tak mau memberikan afwun, kita sendiri yang merugi. Hati gelisah, jiwa merana. Ingatlah Sudaraku, nama kue in adalah afwun.”
“Oh… kue apwun, Wali?”
“Ya. Afwun.”
“Oh ya, apwum ya, Wali?”
“Ya, ini kue apwem ya, Wali?”
“Ho-oh. Sebut saja ini kue apem. Buatlah apem pada saat megengan dan berikan kepada para saudaramu dan katakan maaf kalian kepada mereka dengan tulus ikhlas karena Gusti Allah.” Para wali sepakat menamakannya kue apem. Dasar orang Jawa ya manut saja sama orang bener he he he…
Nah, Sudara sekalian. Sekarang Anda telah memahami mengapa ada kue afwun di telatah tanah Jawa pada saat megengan atau disebut juga munggahan di daerah kulon?
Mohon maaf lahir batin. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Afwun. Apwun. Apwem. Apem.
sami-sami, Mas. mugi berkah. amin.
LikeLike
Menyongsong Ramadhan marilah bersama-sama kita bersihkan diri dari segala dosa (maafkan segala dosa saya yang telah tercipta ya Jeng…), guna beribadah menyembah Allah Sang Penguasa disertai Ikhlas Cinta dan kesucian hati ini, Insya Allah Barokah, Amiin.
LikeLike