November 7, 2009
rike jokanan

no comments

SOEMPAH LOE PEMOEDA?

SOEMPAH LOE PEMOEDA?

Mengabadikan Soempah Pemoeda secara pribadi dan sederhana walau tertunda

Setelah lewat beberapa hari saya baru merasakan krenteking ati (gerakan hati, Bahasa Jawa) untuk mengabadikan peristiwa Soempah Pemoeda dalam tulisan sederhana seperti biasa. Jujur, hilangnya rasa kepedulian terhadap sejarah Indonesia serasa menebal akhir-akhir ini. Perasaan melu andarbeni (rasa memiliki, Bahasa Jawa) terhadap bangsa ini serasa menipis. Dan, maaf saya tak malu mengakuinya karena justru kesadaran inilah akan menjadi bahan bakar yang menyalakan semangat kembali kepada cinta Indonesia sewajarnya saja.

Bermula dari kelupaan isi Sumpah Pemuda. Bagaimana bisa lupa bunyi “mantra sakral” yang telah bertahun terpatri seperti prasasti batu fosil? Ternyata saya kalah dengan Wikipedia yang bisa mengingat secara lengkap versi asli dan EYD.

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:

Pertama

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

(dari Wikipedia)

Ada tiga elemen penting yang diikat dalam sumpah keramat tersebut:

  1. Tumpah darah – tanah air Indonesia
  2. Bangsa – bangsa Indonesia
  3. Bahasa – bahasa Indonesia

Ada pemuda unggulan tahun 1920-an yang suka berkorespondensi lalu sepakat untuk bersama-sama memahami makna tumpah darah, bangsa dan bahasa. Tak begitu penting saya ungkapkan siapa saja mereka karena sumber lain jauh lebih akurat daripada pengetahuan saya tentang peristiwa tersebut; dan lagi para pemuda itu sekarang tak muda lagi – tak terlalu bernafsu untuk kita ingat jasanya… J

Tumpah darah, identik dengan tempat kelahiran. Apakah Anda lahir di bagian NKRI? Jika ya, apakah Anda mengakuinya sebagai tanah tumpah darah? Atau kalau Anda tidak lair ceprot (sejak lahir, Bahasa Jawa) di tanah Nusantara, apakah ada rasa bahwa Indonesia adalah tanah air-mu? Tanah air ini membuka kesempatan bagi orang yang tidak lahir di Indonesia tetapi memiliki komitmen untuk mencintai kekayaan alam dan budaya Indonesia. Banyak lho orang “luar” yang boyongan dan menetap sampai mati disini. Bahkan di kantor Aminef saya pernah bertemu seorang profesor yang bahasa Jawanya lebih mlipis (halus, Bahasa Jawa) karena sudah bertahun-tahun tinggal di Jogjakarta dan mengakui pulau ini sebagai negerinya. Beliau merasa dihargai di tanah gudangnya simbol ini.

Jadi tak aneh jika banyak yang pindah kewarganegaraan karena memang di tanah tumpah darah ini penghargaan tidak dilakukan dengan benar. Coba sebut nama Anggun C. Sasmi. Dia pindah karena ingin menggapai karir yang lebih cemerlang dan itu sangat erat hubungannya dengan apresiasi seni untuknya. Belum lama ini ada sekelompok ilmuwan kita yang memilih berdomisili diluar tanah tumpah darahnya karena bermasalah dengan pengakuan dan penghargaan juga.

Kalau sudah main pindah-pindah begini, apakah pertanda cinta tumpha darah/tanah ari berkurang? Entahlah, Anda punya standar tersendiri untuk memberikan penilaian.

Bangsa

Dengan sangat menyesal saya mengaku bahwa kata “bangsa” sangat luas jangkauannya. Kata ini juga berkaitan erat dengan kata wangsa. Ijinkan saya membuat semacam daftar yang mengarahkan Anda sekalian kepada pengertian yang berbeda-beda terhadap kata bangsa.

Bangsa Indonesia

Sekelompok orang yang dinaungi oleh sebuah negara bernama Indonesia

Bangsa Amerika

Sekelompok orang yang dinaungi oleh (mungkin) sebuah negara yang bernama United States of America atau bisa juga orang-orang yang bernaung dibawah panji bernama Benua Amerika.

Bangsa Yahudi

Bisa saja mengacu pada suku Yahudi atau agama Yahudi

Wangsa Syailendra

Sebuah keluarga yang berkuasa di sebuah wilayah; wangsa memiliki makna paralel dengan dinasti atau keluarga.

Bangsawan (bangsa+wan)

Anggota keluarga priyayi/penguasa feodal mengklaim diri mereka linuwih (lebih, Bahasa Jawa) dibanding kelompok selainnya. Saya masih bertanya-tanya mengapa ada segolongan orang disebut (menyebut dirinya) bangsawan. Apakah mereka mempunyai kriteria sebagai orang yang berbangsa? Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki gelar bangsawan? Apakah yang disebut terakhir ini tidak berbangsa? Saya lebih suka menyimpulkan bahwa bangsawan adalah orang-orang yang dianggap memiliki martabat tinggi. Jadi kalau Anda tidak termasuk orang yang bergelar bangsawan, bersiaplah bersedih karena Anda tidak akan termasuk dalam bangsa apapun ha ha ha…

Bangsane kewan (kewan: hewan dalam Bahasa Jawa)

Sementara orang mentahbiskan bangsawan sebagai akronim dari bangsane kewan. Akronim plesetan ini secara siluman muncul sebagai sindiran pada para bangsawan yang tingkahnya seperti binatang; tak layak dijadikan anutan bagi golongan dibawahnya. Nah looo…

Seberapa besar rasa kebangsaan Anda? Apakah Anda bangga hanya karena bukan menjadi orang berkewarganegaraan selain Indonesia? Ataukah ada yang lebih membuat Anda merasa perlu menjaga kebangsa-Indonesiaan Anda? Apa itu? Apakah Anda sudah merasa menjadi keluarga besar Indonesia? Jika ya, atas alas an apa? Jika tidak mengapa?

Bahasa – orang bisu pun punya bahasa. Mereka berkomunikasi dengan isyarat yang telah disepakati bersama dan membuat mereka saling memahami. Apakah Bahasa Indonesia telah menjadi alat komunikasi? Tentunya jawabnya sudah; sudah semakin banyak penduduk Indonesia yang menggunakan bahasa nasional ini sebagai alat komunikasi sehari-hari. Di daerah pelosok tertentu kemampuan berbahasa Indonesia menjadi tolok ukur bergengsinya sebuah keluarga. Dulu; duluuuuu sekali, keluarga saya termasuk dalam golongan yang punya akses cukup luas dan besar karena kami bisa berbahasa Indonesia dengan lancar ha ha ha…

Di sisi lain bahasa bisa dipahami bukan sebagai sekedar alat komunikasi. Jikalau kata bahasa ini kita arahkan kepada definisi “kemampuan kita dipahami dan memahami sebagai sebuah entitas”, maka ada baiknya keahlian berkomunikasi kita sebagai Indonesia perlu dikaji dan diuji lagi. Apakah kita mudah dicirikan sebagai orang Indonesia? Apakah kita dengan gamblang menampilkan sosok Indonesia kita? Apakah kita dengan rela memahami saudara sesama Indonesia? Apakah kita dengan rela dipahami sebagai Indonesia? Apakah kita mau dan mampu memperkenalkan diri kita sebagai sosok unik Indonesia. Atau kita sendiri masih bingung terhadap perlunya memahami dan dipahami sebagai Indonesia?

Atau sebaliknya, kita berusaha menyamarkan Indonesia dengan bu
daya tamu sehingga dengan mudah orang akan memberikan predikat: Islam Indonesia, Islam Jawa, Indonesia Jawa, dll…

Duh, Mak… ternyata Soempah Pemoeda ini telah membuat saya bertanya-tanya apakah saya pantas menjadi keturunan para “Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll”? Mereka telah rela melupakan keberagaman mereka untuk berdiri bersama demi sumpah (tanpa serapah) untuk mengakui satu-nya Indonesia. Satu-nya Indoensia tak membuat mereka harus seragam. Lihat foto diatas: bajunya pun beda, kulitnya pun beda, agamanya pun beda, suku berbeda pula, status ekonomi dan sosial bisa jadi njomplang (tidak sama) dan saya yakin mereka secara pribadi memiliki agenda yang mesti mereka korbankan demi berkumpulnya mereka. Jadi apakah gerangan yang “memaksa” mereka untuk menjadi satu Indonesia di titik tersebut?

Satunya Indonesia menurut saya adalah ketika orang-orang Indonesia merasa bahwa bumi Indonesia merupakan pijakan kakinya, yang membuatnya bergetar ketika ditayangkan gambarnya; baik itu gambar penuh haru biru kesukaan atau kedukaan. Apakah Anda merasakan hatimu bergetar jika memandang alam lokal Indonesia yang indahnya (bisa saja) kalah dengan alam negeri lain? Dan, apakah bencana di wilayah Indonesia seberang sana mampu menggugah kepedihan hatimu?

Satunya Indonesia bisa juga ketika dengan suka rela beberapa saat lalu kita mengenakan batik secara serentak untuk menunjukkan (pada siapa?) bahwa kita semua peduli dan cinta batik sebagai kekayaan kita yang sempat di-klaim tetangga. Lalu suatu saat kita dengan bangga mengakui secara internasional bahwa wayang sebagai warisan budaya kita walaupun kalau disuruh nonton wayang semalam suntuk pasti nge-les melulu.

Satunya Indonesia juga ketika para WNI di luar negeri memperingati Kemerdekaan RI 17 Agustus dengan lomba balap karung dan makan krupuk di kantor kedutaan atau konjen negara masing-masing; juga ketika kita bersorak-sorak menyemangati Liem Swie King sedang bertanding badminton merebut Piala Thomas.

Tapi kok saya nggak terlalu tertarik ngomong politik ya… secara politis Indonesia dijubeli oleh para oportunis yang menunggangi rakyatnya demi kepentingan dan tujuan mereka. Ooooh… dalam hal ini Indonesia sungguh terpecah-belah dan tak mudah dipahami walau masih tetap dicintai oleh penduduknya dengan sisa-sisa kepercayaannya.

Mulut saya sudah berbusa kalau harus membaca tulisan ini untuk Sudara sekalian. Tumpah darah/ tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia memiliki kekuatan magis menggerakkan tiap kutub magnet jiwa yang beragam menuju satu pusat kutub kesatuan. Kesepakatan untuk men-SATU itu tak cukup berarti jika hanya sekedar nangkring di tataran abstrak. Buat apa bersumpah jika hanya sekedar menipu khalayak? Buat apa berjanji kalau tak ditepati? Untungnya hanya di kepercayaan sesaat, selanjutnya hujatan datang silih berganti.

Ada satu hal yang saya yakin pasti membuat berbagai jenis sumpah membawa TUAH; yaitu: kuatnya tekad untuk mencapai tujuan sumpah tersebut. Sesuatu yang membuat semua pusaran dalam dada-dada itu menjadi karya nyata untuk BERBUAT demi merubah keadaan yang tak dapat diterima tersebut. Bukankah para pemoeda dulu bersumpah karena resah dengan kondisi yang tak kunjung membaik?

Jadi apa dong relevansi Sumpah Pemuda dengan kesadaran pribadi saya?

Saya bertanya pada diri sendiri dengan bahasa serampangan berikut:

  1. Sumpah lu pemuda? Kalau ya, mana semangatmu?
  2. Atau lu udah pada tua? Kalau tidak, kenapa kamu loyo?
  3. Atau mungkin lu masih kanak-kanak? Kalau bukan, mengapa kamu cengengesan melulu?

6 Oktober 2009 – 10:44 malam – Kasasi IV

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: