SIMBOL ATAU MAKNA: MANA YANG LEBIH PENTING (1)

SIMBOL ATAU MAKNA

Mana Yang Lebih Penting?

Barangkali simbol adalah elemen termenarik jika bukan terpenting dalam karya sastra. Tanpa simbol karya sastra terasa kurang nyastra. Semua genre bisa sangat sarat simbol demi tercapainya tujuan dilahirkannya karya sastra: menyampaikan makna.

Walaupun menyampaikan makna adalah sebuah “tugas mulia” sastrawan dalam membangun karyanya, jangan harap makna itu selalu dilukiskan secara gamblang tanpa terjadinya kesalahpahaman antara makna yang dimaksud oleh pekarya dan makna yang dipahami oleh penikmat. Jangan juga sangka “selisih nol” akan terjadi antar sesama penikmat dalam memaknai simbol yang sama. Sering kali timbul multi-interpretasi yang disebabkan oleh banyak faktor.

Jadi simbol sangat mungkin diapresiasi secara berbeda; rasio perbedaannya pun tak hingga; dan tak bisa diprediksi.

Coba Anda maknai puisi berikut, lalu Anda bisa men-share dengan jujur tentang makna yang tertangkap oleh rasa Anda.

Wanting is – What?

Summer Redundant,

Blueness abundant,

– Where is the blot?

(dari JOCOSERIA – Robert Browning)

Bagi manusia yang gemar sastra seperti saya, banyak realitas yang kemudian menjadi potensial diinterpretasikan. Kecintaan kepada dunia sastra membuat saya terobsesi untuk tidak pernah puas dengan interpretasi tunggal atau satu-satunya interpretasi yang benar sebab kebenaran dibalik simbol yang kita interpretasikan ibarat sebutir bawang yang jika dikupas selapis kulitnya maka yang kita lihat adalah kulit dalam yang terbungkus kulit luar. Lalu setelah kulit kedua maka ada kulit ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hingga akhirnya kita menemukan lapisan yang terakhir di ujung keletihan.

Jikalau kulit adalah simbol maka maknanya adalah kulit berikutnya. Dan kulit kedua tersebut menjadi simbol baru yang niscaya terkelupas. Jika masih ada energi dan waktu, singkaplah kulit ketiga sebagai simbol berikutnya. Kulit keempat sebagai rahasia ternyata tak jadi rahasia lagi karena beberapa saat kemudian kulit kelima muncul sebagai makna selanjutnya. Begitu seterusnya.

Apa modal mengupas bawang? Pisau kah? Sejatinya mengupas bawang tidak mutlak mememerlukan pisau tajam. Ujung jari dan sedikit peran kuku sudah cukup karena kulit bawang yang sangat tipis perlu ditarik secara hati-hati supaya yang dibungkusnya tidak terluka. Dalam hal pengungkapan makna, hanya dibutuhkan kepekaan jiwa berkat kelembutan hati. Tak terlalu penting apakah sang pencari makna seorang jenius atau tidak untuk bisa memahami simbol yang membungkus makna berupa kebenaran (nisbi). Tuhan tidak pelit kepala orang yang tidak intelek. Gusti Allah itu sayang pada jiwa yang merendah kepada-Nya. Jadi mengapa orang yang IQ-nya tinggi mesti takut mengupas simbol? Dan mengapa yang EQ dan SQ-nya tinggi tidak mencobanya pula?

Dari manakah kelembutan itu? Dari kesadaran diri bahwa jiwa ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Masing-masing kita adalah elemen sebuah jaringan yang dirajut dengan sangat kalkulatif. Ibarat rumah laba-laba, sudut dan jari-jarinya sangat presisi; benang-benangnya lebih kuat dari tali baja sekalipun. Dan network ini hanya terbukti kuat jika jiwa-jiwa yang membentuknya benar-benar terajut dengan kesadaran yang sama.

Jadi Sudara-Sudaraku, apabila kita menghidupkan kesadaran bahwa dibalik badan-badan kasar ini adalah rajutan kesadaran yang tak terpisahkan maka alangkah indahnya kenyataan ini. Kenyataan yang dihiasi simbol-simbol yang siap diungkapkan sehingga tersingkaplah khazanah yang selama ini terbungkus rapat seperti tersegel kerasnya pikiran manusia.

Jika berdzikir adalah pelembut hatimu, maka berdzikirlah. Jika merenung adalah pelembut jiwamu, maka mernunglah. Jika bermeditasi adalah pelembut jiwamu, bermeditasilah. Hanya engkau yang tepat tahu pelembut yang mana yang memberimu kesadaran terjernih.

Kesadaran itu telah ada; dia adalah api abadi menunggu hembusan angin kelembutan yang mengantar cahaya benderang. Hembusan yang kencang mengobarkannya atau meredupkannya. Hidupkah kelembutan, sadarilah kesadaran, maknailah kehidupan.

Simbol dan makna menyelimuti kita; menunggu hidupnya kelembutan dan kesadaran kita untuk menguaknya. Jangan sampai terlalmbat: mana simbol, mana makna. Tak mengapa terbalik menandainya.

(bersambung)

Keramat – 21 Januari 2010 – 10:10 malam

11 thoughts on “SIMBOL ATAU MAKNA: MANA YANG LEBIH PENTING (1)

  1. rikejokanan said: Sudah kusamperi, Mas Utr0q. Dan saya terkesan. Simbol yang tampaknya eksklusif ternyata berubah menjadi makna yang jauh dari harapan ‘pemilik’ simbol. Buka mata, buka hati.

    yupsss…..kemerdekaan berpendapat kok mBak, democrzzzzzyyyyy is not insist, isnt it?

    Like

  2. rikejokanan said: Sudah kusamperi, Mas Utr0q. Dan saya terkesan. Simbol yang tampaknya eksklusif ternyata berubah menjadi makna yang jauh dari harapan ‘pemilik’ simbol. Buka mata, buka hati.

    Bener. Kebenaran bukan milik sekel0mpok orang saja. Truth is inclusive.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s