September 19, 2010
rike jokanan

no comments

MENELPON MACAN

MENELPON MACAN

Saya dan ibu bukan ibu-anak yang sangat dekat. Saya lebih dekat dengan almarhum bapak; ibu lebih dekat dengan kakak lelaki saya. Sering juga kami cek-cok gara-gara hal yang menurut saya bisa diomongin kalau dengan orang lain. Dengan ibu lebih banyak yang enak diperdebatkan daripada dikompromikan J

Dulu pernah saya dan beliau berantem dan akhirnya saling menahan diri untuk tidak bicara satu sama lain. Bahasa Jawanya satru… anak durhaka? Ya, mungkin tapi saya dan beliau mengenangnya dengan tawa dan canda. Kadang saya meledek beliau dengan “aaah… kalau ada ibu durhaka mungkin banyak juga yang masuk, Bu… banyak ibu yang memaksakan kehendak pada putranya dan akhirnya sang anak merasa salah jalan dan menyesali langkah hidupnya he he he” dan beliau pun mengatakan “bisa jadi… orang tua kan manusia, bisa juga salah langkah”.

Ibu saya galak? Tidak. Beliau hanya over-protective pada putra-putranya. Ibarat macan dia sangat marah jika ada pihak yang mengganggu gogor-nya (gogor: anak macan, Bahasa Jawa). Macan makan daging, memang itu sudah dari sononya. Macan bertaring, itu memang sudah takdirnya. Tapi siapa yang mau memperhatikan bahwa macan sangat bersih, seperti kucing. Macan juga pemberani, ingin tahu, cepat beradaptasi dengan lingkungan, menghormati teritori sesama dan yang paling membuatku terkesan adalah rasa sayang yang luar biasa pada gogor-gogornya.

Dan, secara fisik mereka juga kuat, seimbang dan cantik… Kuat? Tentu saja, harimau adalah yang terkuat diantara jenis kucing yang ada. Seimbang? Menurut literature yang kubaca macan memakai ekor sebagai penyeimbang tubuh terutama ketika melompat. Cantik? Ya iya laaah… Lihatlah warna lorengnya. Perfecto!

Itulah ibuku. Membandngkannya dengan macan tidak sama halnya menganggapnya garang. Ibuku adalah macan dengan segala kelebihan dan kelemahanannya. Rasa sayangnya tetap memancar dalam keadaan marah sekalipun. Dan, itu akan kuhargai selalu. Biarpun kadang aku melarikan diri darinya, itu hanya untuk sementara karena aku juga perlu mandiri sebagai gogor yang nantinya jadi macan juga… J

Ibuku, tak bosan rasanya menelponmu tiap hari. Love, love

Jogja – September 19, 2010 – 4:57 sore

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: