KALEIDOSKOP PENCERAHAN
Sinar berpendar
Melolosi keakuan yang pernah mengasah kemarahan
Dan menajamkan lidah.
Burung-burung bercericit di tangkai-tangkai bunga menur
Mendamu bunganya agar wanginya terbang ke hidung
Lalu menyelusup ke seluruh urat wadag manusia.
Kadang desir getir masih menyerang.
Sesekali.
Lantas pergi seperti pemilik sayap syurga, nanti datang kembali.
Negeri antah berantah menjadi tempat pelarian sempurna
Menjadikan Alice bukan satu-satunya orang asing.
Pulangnya beroleh-oleh senyum atau airmata yang meringankan perjalanan.
Rangkaian listrik bersambung-sambung tanpa sela
Mengantar pijar-pijar gairah sepanjang milyaran syaraf.
Bersiap-sedia tanpa tidur. Tiada kantuk, meniru Tuhan.
Teriakan di gendang telinga seakan bisikan dari seberang benua.
Yang ditangkap syaraf adalah kehidupan nyata yang muncul di awang-uwungl.
Sekilas tak teraba. Demi waktu, yang tak tampak terbukti nyata.
Setetes demi setetes impian itu mendanau, merembesi daratan dan menyuburkannya.
Benih yang pernah beku menjadi gembur bersama tanah;
Alunan nada kehidupan bersiap menumbuhkan pohon raksasa bernama sejarah baru.
Kejujuran berkata-kata bukan lagi kejujuran yang terukur
Karena ternyata kamus bisa direvisi, makna bisa bertelur menetas dan beranak-pinak atau bercabang seperti akar-akar yang merasuki kewarasan bumi.
Kaleidoskop bukan lagi sejarah pendek yang ditakar dengan dacin 12 bulan.
Dia ulangan kejadian yang minta tempat di negeri kesetiaan manusia
Untuk menjadi dirinya yang sadar akan ketiadaannya.
Kelana jiwa,
Memberitakan perjalanannya kepada pribadi yang meringkuk dalam telinga
Sang dewa samudera.
Salam kepada warsa.
Bergulirlah
Bawa sungai ini ke lautan pencerahan.
Keramat, 1 Januari 2011 – 11:11 malam

Jadi kaleidoskop ini berupa puisi? *garuk-garuk*
LikeLike
matur nuwun, Mas Fer. selamat ulang tahun, sem0ga rangkaian 12-dacin kita mengarungi lautan berkah.
LikeLike