March 5, 2011
rike jokanan

2 comments

MENJADI TETANGGA YANG MENDAMAIKAN

MENJADI TETANGGA YANG MENDAMAIKAN

Tak terasa sudah setahun lebih saya menempati rumah mungil ini. Rasanya jauh lebih lega walaupun secara fisik jauh dibawah dibanding rumah-rumah kost saya yang lalu.

Sebuah cluster mungil (karena hanya terdiri dari enam rumah) menjadi oase bagiku kapanpun aku membutuhkan ketenangan. Rumah kecil dengan perabot minim ini tidak pernah mengecewakanku walaupun sedang mati lampu sekalipun (karena keselnya diterima oleh PLN). Hanya kadang saya merasa kok rumah ini jauh sekali dari “kantor” yang saya datangi. Dan, satu lagi yang menjadi satu-satunya gangguan yang tidak bisa saya atasi sendiri: tetangga yang kurang mendamaikan.

Status “belum menikah” sebuah name-tag yang membuat hati saya serasa tidak di rumah padahal rumah saya tetap di hati. Maaf ya Saudaraku, ini tidak berarti status ini membuat saya minder atau tidak damai lho… Silakan simak ceritanya.

Tetangga sebelah adalah sepasang suami istri muda dengan dua orang putra yang lucu-lucu masing-masing berusia enam dan tiga tahun. Ada seorang pembantu rumah tangga yang kedekatannya dengan anak-anak itu melebihi kedekatan mereka dengan ibunya.

Sebagai tetangga yang baik saya berusaha ramah, menjawab jika disapa dahulu atau menyapa terlebih dahulu. Tetapi ada yang tidak biasa pada sang istri tetangga ini. Senyum sang wanitanya tidak pernah benar-benar saya baca artinya. Awalnya setitik pikiran buruk, lalu berkembang menjadi noda kecurigaan dan bola hitam yang akhirnya benar-benar membutuhkan kreativitas untuk menjadikan kotoran itu hiasan baju saya.

Menurut celotehan sang pembantu yang tiba-tiba saja disuguhkan padahal saya baru saja pulang kantor – entah diminta oleh sang majikan atau atas inisiatif sendiri – sang bunda (majikan perempuan) tidak suka pada saya karena saya tidak segera menikah sehingga punya potensi mengganggu hubungan suami istri yang ada di rumah kedua sampai keenam; rumah saya nomer satu. Oh??? Sinting ini bahan gossip. Kalau sudah jadi gossip bisa kalah ceritera para selebritas Indonesia. Saya versus enam orang lelaki beristri!

“Emang tante mau sampai kapan status lajangnya?” Itu pertanyaan si Asih, pembantu Bapak dan Ibu Syarifuddin.

Apa gerangan yang membuat ibu yang secara fisik jauh lebih menarik daripada saya ini tak gentar mengarang ketakutan terhadap wanita lajang macam saya? Istri-istri di rumah nomor 3, 4, 5 dan 6 tidak pernah menawarkan “dagangan” semacam itu kepada saya. Menanyakan kapan menikah adalah suatu hal yang wajar bagi saya tetapi menciptakan ketakutan kepada wanita lajang karena potensi menggoda ketentraman rumah tangga adalah sakit jiwa entah nomor berapa jika kita meminjam istilah gila Andrea Hirata.

Kecil tetapi menyakitkan, semacam tlusup (serat kayu renik yang masuk ke kulit) di telapak tangan, wanita macam bunda ini perlu belajar dan memperhatikan sebelum menunjuk hidung tetangga. Apakah potensi itu datang dari sang suami atau sang wanita? Atau keduanya atau tidak ada sama sekali kecuali dalam khayalannya.

Padahal selama ini suaminya hanya sekedar ramah menyapa saya seperti juga para suami-suami tetangga menyapa saya.

“Bu/Tante/Mbak Rike, kemarin seminggu dinaas dimana kok Mbak Nining yang nginep dengan suaminya?”

“Wah, emaknya Bob ini jalan-jalan melulu. Jangan lupa oleh-oleh untuk kami ya….”

Apakah sapaan diatas jika ditanggapai dengan keramahan wajar berbahaya? Sungguh sinting ini perempuan muda.

Tahukah Anda? Sekarang saya tidak lagi menyambut ramah anak-anak keluarga Syarifuddin yang ingin memberi makan kucing saya, si Bob atau membuka-buka kulkas mencari sisa-sisa coklat atau kue cucur. Tidak lagi saya bersuka-cita menawarkan oleh-oleh jika saya membawanya dari dinas luar kota – bocoran sedikit: bunda ini terkenal paling pelit he he he… (Jangan harap wadah kita dikembalikan dengan isi; tidak seperti ibu-ibu yang lain yang saling membagi masakan bagaimanapun rasa dan sedikitnya). Saya juga tidak segan-segan menegur sang pembantu untuk tidak lagi memetik daun jeruk purut di halaman saya. Tidak pula saya berniat menyapa mereka jika mereka tidak menyapa saya. Terutama ketika tiba-tiba tadi malam ketika saya sedang duduk di pelataran rumah saya menkmati kuntum Wiajayakusuma yang siap mekar…

“Ngapain diluar?” sapa si bunda dengan sinis. Rupanya tanpa saya sadari ada suami dia yang sedang ngobrol dengan pak guru yang tinggal di rumah nomor 3 beberapa meter dari rumah mereka.

Dalam hati saya berkata “Lho… ini kan rumah gue… Gue mau duduk di halaman kek, di ruang tamu kek, di kamar kek… asal nggak ngegangguin elo mau apa loooo???”

Sekedar dalam hati karena dia bukan orang yang perlu saya jawab. Tetangga yang tidak mendamaikan tidak akan saya jadikan prioritas dalam pergaulan saya. Masih ada tetangga nomor 3 hingga 6 dan tetangga-tetangga diluar pagar yang jauh lebih menyayangi saya tanpa curiga.

Diluar pagar Mpok Salma berteriak,”Rike… Ini sayur asemnya. Mangkoknya balikin isi yak ha ha ha ha…”

Marilah menjadi tetangga yang mendamaikan hati satu sama lain.

Pinang, 5 Maret 2011 – 3:18 sore

2 thoughts on “MENJADI TETANGGA YANG MENDAMAIKAN

  1. Aku, tetanggamu, akan mendamaikan hatimu… *aeh, matek!*

    Like

  2. smallnote said: Aku, tetanggamu, akan mendamaikan hatimu… *aeh, matek!*

    awas kalau nggak ditepati hi hi hi… *timpuk pakai singkong rebus*

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: