Calonarang

CALONARANG

(ocehan kemarahan dalam kejujuran)

Selamat datang di daerah terlarang. Terlarang karena khusus untuk orang-orang yang menghargai keburukan. Calonarang yang terkenal dengan kesaktian hitamnya menjadikanku terinspirasi dalam nyondro (mendeskripsikan, bahasa Indonesia) diri sendiri. Waktu kecil dulu aku mendengar cerita Calonarang dari Mbah Bayan. Beliau adalah tetangga kami ketika kami masih tinggal diantara hutan jati di kawasan Bojonegoro. Tiap sore saya akan bergabung dengan Mbah Bayan putri yang nggelar kloso (menghampar tikar, Bahasa Jawa) di halaman depan tempat beliau dikerumuni cucu-cucu yang berteman denganku. Salah satu cerita yang beliau ceritakan adalah Simbok Calonarang – tentunya cerita ini versi bersambung karena terlalu panjang jika dikisahkan dalam semalam.

Setelah dewasa, saya baca Calonarang-nya Pramoedya Ananta Toer yang membuat pemahaman saya tentang Simbok Calonarang ini makin berwarna.

Ada satu hal yang sedang saya hubungkan dengan diriku.

Aku ini Calonarang.

Yang menari dikerubuti pengikut setia,

Entah setia entah hanya karena tak ada yang diikuti,

Yang pasti mereka jejingkrakan menari mengitari Simbok Calonarang.

Mengorbankan manusia tanpa dosa,

Entah tak berdosa atau hanya karena dibandingkan dengan pengorbanan

Yang tak ada hubungannya dengan kesalahan korban selama hidupnya,

Yang pasti dia harus mati demi upacara Simbok Calonarang.

Simbok Calonarang melakukan kejahatan-kejahatan itu disebabkan oleh kemarahan yang dipendamnya lantaran memang tak ada pilihan lain kecuali memendamnya sedalam dan serapat mungkin. Kadang manusia tak mampu menghadapi kenyataan selain dalam dinding hatinya sendiri. Masalah yang membuatnya marah menjadi semacam magma yang bergejolak dalam jiwa dan menjadi bahan bakar hidupnya. Her anger is her survival. Jika dipadamkannya kemarahan dalam hati maka tamatlah riwayatnya.

Kemarahan inilah yang rupanya juga ada di diriku. Tadinya tak kusangka aku ini semacam Simbok Calonarang. Ada kemarahan yang berkobar-kobar dan di inti kobaran itu ada bara yang kujaga agar abadi. Aku tidak membunuhi orang-orang dan memakai darahnya untuk keramas. Aku juga tidak mau diikuti orang-orang yang menari-nari mengelilingiku sambil ikut-ikutan keramas darah korban tapi aku seperti tidak rela jika ada orang yang mengutarakan kritiknya padaku. Pun jika sudah ada demdam pada orang, aku biasanya menyumpahi mereka (dalam kedalaman hati) supaya mereka sial seumur hidupnya karena kalau “hanya sekedar” mati alangkah beruntungnya. Pokoknya aku ini bener, yang lain bener biarin yang penting aku juga bener.

Sedikit demi sedikit kesadaran akan kemarahan ini mulai menguat dan keinginan untuk keluar dari kemarahan itu makin subur. Dan, aku makin marah. Ironis.

Ada satu orang yang sampai saat ini masih menjadi objek sumpah serapahku. Kusumpahi dia mendapatkan kesialan berupa masalah yang menimpa seseorang yang sampai saat ini tak bisa lepas dari dia. Anaknya. Kalau anak itu sial, aku yakin dia akan menderita seumur hidupnya. Kejadian yang membuatku membenci wanita itu memang cukup tak disangka. Bagaimana bisa Anda menyangka orang yang paling mendukung adalah orang yang paling menentang? Sungguh sebuah ironi, sebuah jebakan. Saya dijebak!!!

Yo wis lah… biarlah Simbok Calonarang itu bertahan untuk beberapa saat dalam jiwa saya. Biarlah kemarahan ini bercokol sebagai tanda bahwa aku juga manusia yang punya emosi negatif. Tapi aku tak mau musnah oleh api ini. Aku mau dong bahagia. Simbok Calonarang bisa saja berubah menjadi Putri Salju. Ya, mari kita mengunjungi negeri salju untuk menetralkan panas Dewa Agni ini.

Salam Calonarang.

Tangerang, 12 Juni 2011 – 9:09 malam

Gambar dipinjam dari http://www.bukucatatan-part1.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: