HONG KONG DALAM SEKEJAP

HONG KONG DALAM SEKEJAP

(ocehan orang lapar)

Syukur alhamdulillah nyampai juga di Hong Kong… Malahan besok udah mau mbalik ke rumah mungil di pinggir Kali Cisadane…

Lima hari di kota eks wilayah Inggris yang sekarang menjadi wilayah administratif khusus di bawah negara tirai bambu ini cukup memberikan saya warna. Pengalaman kecil seperti remahan bolu yang menjadi bagian dari deconstructed cake. Saya bertemu dengan orang-orang yang sedang menggapai cita-cita yang membuat saya makin terbuka dalam berpikir hanya karena saat ujian saya jejer dengan seorang teman yang gigih berjuang agar lulus ujian dengan cara yang kurang terhormat – nyontek bow.

Oh saya tidak ingin bicara tentang perjuangan dengan cara mencontek. Saya hanya ingin membicarakan Hong Kong yang modern-nya ya model-model Singapura gitu deh. Gedung-gedung tinggi yang kalau dipanjat tiap hari melalui tangga sepertinya akan bikin saya segera langsing. Jalan-jalan yang dilengkapi dengan rambu lalu-lintas berbagai macam: belok bow, terus aje, berhenti yak, jangan parkir sembarangan, lanjut coi, jalan euy, buruan udah hampir merah, dan lain-lain. Apakah semua tertib?

Kalau dibilang tertib ya jauh lah dibanding kita yang selebor seenaknya pakai jalan milik simbah kita. Tapi kalau dibanding dengan warga Singapura, warga Hong Kong masih kalah tertib. Mereka masih mau nyeberang saat lampu merah, mobil ada yang mbleyer-mbleyer biar pejalan kali minggir padahal itu daerah rame bebih…. Macem pasar Tanah Abang gitu deh tapi ini lebih modern, bersih dan rapi namanya Tsim Sha Tsui. Ramainya ya gitu deh… Kalau mau beli oleh-oleh di sana tempatnya. Sepertinya saya memang mencintai kulkas saya lebih dari apapun sehingga tiap pergi ke daerah baru saya selalu beli tepelan kulkas ha ha ha…

Di daerah Kwun Tong tempat saya menginap jarang ada pepohonan. Yang menacap di bumi hampir seratus persen beton dan tulang baja. Pepohonan mungkin hanya nempel di antara ruwetnya rangka metal dan adonan semen. Hong Kong cantik karena listrik dan alat elektronik. Yups. Kalau saja lampu mati beberapa jam dan genset tidak berfungsi makan Hong Kong akan menjadi kota yang mengerikan. Yang di dalam rumah kegelapan dan kepanasan, yang di luar gedung akan bertabrakan. Wah…. Nggak kebayang. Hush! Bayangkan yang bagus-bagus saja.

Apa yang kusukai tentang Hong Kong?

Oh. Waktu saya di MRT saya berpapasan dengna seorang mbak yang mungil dengan wajah lugu seperti wajah tetangga saya sebelah. Kami saling melempar senyum.

“Dari Indonesia?”

“Ya, Bu.”

“Mari….” kata saya mengakhiri percakapan yang tak pernah berlanjut karena kereta telah membuka pintunya.

Ah… Kota ini sungguh tidak mengajarkan silaturahmi karena begitu masuk ke dalam gerbong pun kami akhirnya terpisah oleh penumpang lain yang juga sedang mengejar waktu dan bersedia berjubel berdiri bergelantungan di gerbong yang sejuk dan nyaris tanpa bau apek ini. Dimana-mana orang sibuk dengan handphone atau tabletnya. Ini pemandangan yang lumrah. Mereka sedang berkomunikasi karena banyak diantaranya yang tersenyum sendiri, cemberut, wajah berekspresi lucu…. Oh… Beginilah mereka bersilaturahmi. Jadi, memang gaya hidupnya sudah beda bow…

Kalau kata teman saya smartphone dia punya tagline “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”. Inilah bukti massal: di gerbong itu mungkin kurang dari 10% yang sedang ngobrol dengan orang di sebelahnya; 90%-nya sedang bersilaturahmi dengan saudara yan
g secara maya ada di depannya. Rupanya konsep komunikasi dan silaturahmi telah bergerah ke arah yang di luar prediksi saya. Salah jika saya mngatakan mereka tidak suka bersilaturahmi. Mereka bersilaturahmi dengan cara yang bereda.

Sama dengan kita di Multiply. Berapa banyak dari kita yang sebenarnya sangat ramah dan baik hati di antara kita tapi mungkin dengan tetangga sebelah standar saja. Bukan sebuah hal yang salah karena dunia ini memang bergerak senantiasa. Komunikasi dibingkai dengan virtual boundary yang hampir tidak ada kecuali oleh power of choice. Mana yang kita pilih maka itulah teman kita. Power of choice telah menjadi kekuatan yang tak terelakkan yang membuat orang tua kadang jengkel “kok anakku ini nggak nurut sama aku to?”

Ya begitulah Sudaraku, ocehan saya di awal hari. Saya mau siap-siap meninggalkan kota Hong Kong yang entah kapan saya injak lagi karena kalau nanti punya uang saya nggak mau main ke Hong Kong. Saya akan lebih memilih sebuah area di China bernama Guilin yang mungkin akan mengajari memilih cara komunikasi yang berbeda.

Hong Kong, terima kasih telah secara brilian mengajariku untuk menghargai gaya hidup orang lain dengan cara legowo…

L’Hotel ‘elan, Kwun Tong – 23 Juni 2012 – sambil ndengerin Selena Gomez nyanyi “Who Says”

12 thoughts on “HONG KONG DALAM SEKEJAP

  1. rembulanku said: lha dewe iki masuk sing 90% tho kethoke?wong rak tau sak grebong po maneh nganti ngebrel seblah2an yo tho? xixixi*lanjut menthelengi lappie*

    Iyo… Ngeme juga tetap gayeng… Ayo golek gerbong trus dhewe chattingan via MP hihihi

    Like

  2. martoart said: mp bukannya t4 silaturahmi juga jeng?*komen orang yg blas ga kenal tetangga sebelah

    Iyo, Mbah…. Silaturahmi dgn pendekatan yang berbeda…. Tetap asyik…. *mendata tetangga dasa wisma*

    Like

Comments are closed.