September 13, 2012
rike jokanan

no comments

EMOTICON

EMOTICON

“Kalau 🙂 artinya apa sih, Ke?”
“Kalau :-* artinya apa sih, Ke?”
Paling tidak itu dua pertanyaan yang pernah membuat saya merasa bermanfaat untuk menerjemahkan emoticon untuk seorang mantan pacar saya yang pasti sekarang sudah mahir ber-emoticon karena tinggal pakai simbol di Blackberry messenger atau Whatsapp dia. Waktu itu saya merasa agak geli juga kok sekian lama pakai handphone nggak tahu “smiley” – emoticon disebut juga smiley.

Jaman segitu smiley lebih dikenal oleh para penulis pesan singkat (sms). Saking populernya smiley sampai-sampai sebuah majalah terbitan Lia – C’nS – mengulas topik ini dan dari situlah saya mengenal paling tidak 30 jenis simbol “emosi” untuk membantu saya mengekspresikan ide dan perasaan secara efektif dan efisien dalam sms saya. Terbukti efektif karena nggak perlu banyak ngetik yang dikhawatirkan mempercepat pembesaran jari jempol namun kurang terbukti efisiensinya karena komunikan di seberang sana belum tentu memahami emoticon kita; walhasil kadang saya harus mengulang pesan saya. Ya, kasusnya sama lah dengan pertanyaan yang saya terima dari mantan ha ha ha

Kenapa emoticon menjadi penting buat sebagian orang? Karena bahasa tulisan tak sering menyediakan latar emosi sehingga bisa diartikan sesuai suasana hati si pembaca dan bukan suasana hati penyampai pesan. Pernah saya menangkap kesan bias ketika seseorang mengisahkan email seseorang.

“… Udah gitu bahasa Enggrisnya kacau gitu. Kalau nggak bisa mbok yao nggak usah nulis…”

Jelas suasana hati pembaca kurang stabil karena seharusnya kemampuan berbahasa Enggris di Indonesia memang kurang merata kalau dibanding di Malaysia atau Singapura. Plus, inti dari tujuan berbahasa bukanlah berbahasa secara baik dan benar saja melainkan untuk berkomunikasi alias menyampaikan ide dan perasaan. Walau tata bahasamu amburadul dan diksimu acak-adut tapi pesanmu tersampaikan, ya namanya masih bagus. Nah, emoticon juga begitu… Kalau emoticon lucu tapi sebenernya bukan buat mewakili kelucuan melainkan kemarahan dan kemarahan orang tersebut tidak tersampaikan ya percuma saja lantaran komunikasi tidak berlaku.

Kembola kepada fungsi emoticon… Sebagai simbol perasaan, emoticon bisa ditambahkan jika seseorang tidak yakin kata-kata yang dipakainya cukup mewakili ide dan rasanya. Contoh:

“Hoi, lu kate ane anak kemaren sore? Lu kali monyet baru lahir… =))”

Nah tanda =)) berarti tertawa terbahak-bahak menandakan. Orang tersebut (semoga) bercanda. Contoh lain:

“Duh gusti… :-}”

Simbol :-} artinya sedang malu.

Ok, emoticon membantu kita mengkomunikasikan rasa dengan lebih mudah to? Ayo monggo dicoba pakai emoticon untuk mengungkap rasa dijamin isi email kalian dipenuhi endhas ngglundhung (kepala yang menggelinding, Bahasa Jawa)…

Di angkot menuju Gancit – ngantor
September 13, 2012

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: