SELAMAT HARI IBU

SELAMAT HARI IBU

IBUKU, IBUMU DAN IBU BUMI

 

 

22 Desember adalah Hari Ibu bagi Indonesia. Bagi yang mengingat dan terbawa oleh syahdunya tema hari ibu, mereka mengucapkan “Selamat Hari Ibu” kepada ibu baik langsung, melalui percakapan telepon, sms, BBM, status BB, status FB dan melalui tulisan baik di media massa maupun di blog pribadi semacam ini.

Ibu adalah manusia istimewa. Apakah karena melahirkan anak? Itu hanya salah satu alasan karena alasan melahirkan tidak otomatis menjadikan seorang wanita punya kualitas ibu. Ibu adalah seorang  perempuan yang memiliki sifat mengayomi, menyayangi dan yang lebih dahsyat lagi kualitas ibu adalah menerima dengan penuh keikhlashan atas apa yang dialami dalam hidup ini. Jadi bagi saya kata kunci ibu adalah menerima. Karenanya saya juga mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada Ibu Bumi.

Ibu Bumi adalah simbol terbesar yang pernah kutemukan dalam hidupku. Di dalam frasa Ibu Bumi aku menemukan keikhlashan luar biasa. Ibu Bumi adalah wadah berukuran tak hingga dalam menampung keluh-kesah anak-anaknya yang tak pelak terdiri dari segala macam manusia yang renta dengan perjanjian jiwa yang tak kunjung habis kontraknya. Ibu Bumi senantiasa bersabar, menyuburkan cinta mengikuti kenakalan kanak-kanak dengan pandangan sayu penuh iba dan senyum tulus bersemburat pilu tapi tiada kejam.

Jika Ibu Bumi tak miliki wlas asih, anak-anak manusia ini akan berhamburan terbuang entah kemana. Tak ada tempat kembali, hanya bisa menari-nari mengambang di alam yang tak berdefinisi. Tanpa Ibu Bumi, akankah kita terlahir dalam keindahan tak bertepi? Tanpa Ibu Bumi, akankah kutemukan jati diri?

Selamat Hari Ibu, ibuku yang melahirkanku dan menjadi kawan dalam suka dan masalahku… Selamat Hari Ibu bagi ibumu yang kau puja sebagai dewi kehidupan dan kepada Ibu Bumi yang telah menjadi ibu dari segala ibu…

 

 

22 Desember 2012– 12:50 siang

Rumah mungilku di bantaran Kali Cisadaneibu bumi

JADI IBU

JADI IBU

Pernah aku membaca

Tipe-tipe pemimpin menurut para ahli

Katanya ada tiga jenisnya

Satu, yang otoriter dan kejam selalu mengendalikan anak buahnya seakan tiada percaya

Dua, yang sangat cuek dan terlalu percaya seakan anak buahnya tak ada kekurangan

Ketiga, yang tengah-tengah, berjiwa demokratis

Kata seseorang ibuku adalah salah satu pemimpinku

Kata temanku di suatu hari

“Ibuku galaknya minta ampun, dia tipe pertama. Tapi tak mengapa, itu untuk kebaikanku juga”.

Kata temanku di hari yang lain

“Ibuku tak memperhatikanku sekaan aku ini bukan anak yang patut diajarainya. Tapi biarlah, dia sangat mempercayaiku, aku akan menjaga amanahnya.”

Teman yang lain menasehatiku

“Jika kau jadi ibu, jangan terlalu galak pada anakmu karena mereka akn menjauhimu. Dan jangan pula terlalu mengumbar kepercayaanmu karena anakmu akan menganggapmu bodoh tiada ajaran dan panduan.”

Sekarang aku tertegun,

Ibuku tak ada di salah satupun tipe itu

Atau mungkin karena aku tak mengenalnya dengan seksama

Sungguhkah?

Jika ya, aku tak peduli

Ibuku tak matang karena kategori ahli

Ibuku terhormat karena kasihnya yang abadi

Jikapun kesalahan dan dosa menaunginya

Itu hanya sebiji sawi

Tak pantas aku memilah-pilah mana dimana atau apa siapa

Biarlah dosa dan kesalahan kusimpan sahaja – menjadi pembelajaran perjalanan

Hanya jasa dan senyum yang kuukir di jiwa – menjadi panduan tujuan hidupku.

Puisi untuk ibuku sangat lugas

Karena aku ingin dia segera mengerti

Bahwa aku anak yang tahu budi

Dan selalu merindu untuk disayangi

Selamat Hari Ibu

December 22, 2008 – 5:11am