ROTE READING & PERPUSTAKAAN PRIBADI

ROTE READING & PERPUSTAKAAN PRIBADI

Iseng-iseng saya nge-list buku yang telah saya kumpulkan sejak tahun 2000. tak dinyana ada sekitar 300 tidak termasuk yang hilang dalam artian pinjam tak harap kembali.

Jadi kalau saya tidak lewat baca, saya sudah membaca lebih dari 400 buku selama hampir 8 tahun ini dengan rincian 350-an buku saya miliki sendiri (beli atau dapat ngasih), 50-an buku yang saya pinjam dari teman dan 25-an buku yang saya baca dari perpustakaan minus saya punya kebiasaan membaca buku tertentu lebih dari 2, 3 atau bahkan 4 atau 5 kali habis. Banyak juga.

Akan tetapi Sudara-Sudara, saya tidak bisa berbangga karena ternyata baru saya sadari bahwa apa yang saya baca seperti air yang habis dibawah sinar matahari siang bolong. Menguap. Jangankan isinya, even untuk mengingat-ingat judul-judul dari buku-buku tersebut saya gelagepan, juga pengarang atau penerbit, tahun terbit. Paling saya cuma klecam-klecem (cecengesan). Memalukan? Boleh lah disebut demikian.

ROTE READING

Itulah yang saya masih lakukan selama ini. Membaca telah menjadi sebuah kebutuhan seperti makan bagi saya namun saya masih merasa bahwa proses membaca saya masih di tahap permukaan. Membaca sekedar kesenangan, kecanduan yang menyebabkan sebentuk ekstase. Namun ibarat ekstase spiritual, proses membaca saya masih pada tahap euforia “melihat” cahaya Tuhan, belum menghayati cahaya itu.

Saya bisa saja mengingat isi sebuah buku tapi saya belum mampu meng-internalisasi keilmuan yang perlu saya serap dan mewujudkannya secara matang dalam kehidupan saya. Saya masih sangat muda menyikapi cara baca saya. Saya seperti seorang siswa SD era 80-an yang sangat hapal sebuah wacana sebagai berikut:

Pagi, pagi. Pagi, pagi.

Kukuruyuk, kukuruyuk.

Begitulah ayam jantan berkokok.

Budi sudah bangun. Wati juga sudah bangun. Iwan masih tidur.

Ayah menimba air di sumur. Ibu memasak di dapur…

Hebat ya masih ingat padahal sudah puluhan tahun yang lalu. Lalu apa? Sekedar menghapal lalu berbangga? Lalu dimana letak manfaat membaca membuat pribadi manusia menjadi lebih matang?

Saya merasa belum cukup membaca buku-buku yang singgah dalam kehidupan saya. Dan, saya juga merasa belum cukup membaca kehidupan yang singgah dalam buku-buku saya.

Saya ingin membaca terus hingga saya bisa menghayati cahaya Tuhan.

12 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: