June 5, 2008
rike jokanan

10 comments

KESANDUNG GUNUNG

KESANDUNG GUNUNG

Istilah ini saya dapat dari memory otak saya yang terbatas dan kabur ini. Sepertinya ada seorang bijak bestari di masa lalu yang mengingatkan hal ini pada saya. De javu.

Boleh lah kita bertanya-tanya apa iya sih kita ini bisa kesandung gunung? Pertanyaan logis dan masuk akal. Jangankan kesandung, nabrak saja nggak bisa kecuali kita terbang dengan pesawat atau gantole dan kehilangan koordinat lalu mak gabruk. Bisanya kita ini mendaki gunung atau glundhung (jatuh berguling-guling) dari gunung saat mendakinya.

Tapi Sudara, gunung disini bukan gunung fisik seperti Semeru, Kelud, Slamet, Kerinci, Rinjani, Bolo, Klothok, Salak, Welirang, Kendeng, dll sebutkan sendiri namun dia adalah simbol masalah besar yang dihadapi manusia. Nah, seperti pada saat seseorang mendaki gunung, pastinya dia akan sangat berhati-hati. Bahkan ekstra hati-hati. Terbayang di jalan banyak gangguan: manusia lain, alam yang keras, cuaca yang changing, makhluk hidup lain (macan, ular, gendheruwo, lintah, nyamuk, dll) dan hal-hal lain yang masuk dalam budget “angggaran tak terduga”.

Masalah besar cenderung kita perlakukan dengan sangat khusus seperti kita memperlakukan kristal (kalau kita tahu itu kristal kualitas tertinggi dan berharga untuk kita tentunya) sehingga kadang saking takutnya terhadap kegagalan menghadapi masalah tersebut kita malah tidak melakukan apa-apa. Bengong aja. Sedih aja. Nelongso aja.

Lalu apa yang bisa tersandung oleh kaki kita kalau bukan gunung? Dialah KERIKIL alias batu kecil…

Tak sedikit manusia yang tersandung batu saat mereka berjalan. Kedengarannya tidak serius namun jika dianalogkan dengan pembahasan kesandung gunung diatas, bisa saja dampaknya sama besarnya dengan glundhung dari gunung.

“Suster, obat saya diminum jam berapa?”

“Yang penting sebelum makan ya Mbak.”

“Yang merah juga?”

“Iya.”

“Kemarin kok nggak ada warna biru ya Sus? Ini bener obat saya? Tolong cek dulu Sus.”

“Iya lah, Mbak. Masak obat pasien saya tuker-tuker?” Sang suster sedikit meninggikan suaranya tanda tersinggung lalu pergi.

Maka sebagai pasien yang taat meminum obat sebelum makan sembilan tablet yang menurut perasaan saya tidak biasa karena ada satu pil warna biru. Biasanya posisin pil warna biru itu digantikan oleh pil warna hijau muda. Saya juga tidak tahu itu obat apa yang penting glek aja langsung. Baru kemudian saya makan.

Belum selesai makan, saya tersedak. Tenggorokan saya terasa tercekik. Lalu saya sesak napas. Mbak Srikah, sepupu saya yang telah menemani saya di rumah sakit selama 4 hari panik lalu memencet bel dan datanglah suster yang memberikan obat tersebut setelah 15 menit kami menunggu. Saya melihat perubahan fisik saya: ujung-ujung jari saya berwarna hitam, kulit saya memucat, pandangan saya kabur, badan saya dingin dan kebas, kesadaran saya juga perlahan menurun. Saya sempat berpikir saya akan mati dan sekilas mendengar sepupu saya istighfar dan membisiki saya kalimat-kalimat ilaahi.

Apakah menyiapkan obat untuk pasien adalah hal kecil? Ya. Rutin. Mudah. Termasuk kerikil dalam tugas sang suster. Apalagi pasien dirawat hanya karena alergi obat bukan karena sakit jantung atau kanker. Namun karena suster tidak berhati-hati berjalan tersandunglah dia. Dia hampir membunuh seorang Rike yang salah minum obat warna biru dan tidak segera datang saat bel berbunyi dengan alasan bel-nya berisik dipencet berulang-ulang.

Sekarang saya belajar bahwa hal-hal kecil perlu kita perhatikan sesuai porsinya. Seandainya sang suster mau memeriksa obat dalam cangkir plastik mungil sebelum ngeloyor pergi, dia tidak perlu mendapatkan hukuman keras karena “meracuni” pasien. Dan dia tidak perlu sakit hati dicaci-maki dokter. Dia juga tidak malu dianggap tidak becus bekerja.

Oalah sakitnya kesandung kerikil. Anda pilih mana? Kesandung gunung atau kesandung kerikil?

Kalau saya sih pilih makan gado-gado.

10 thoughts on “KESANDUNG GUNUNG

  1. Gedubrag….Mending kesandung duit..hehehehehehe

    Like

  2. bambangpriantono said: Gedubrag….Mending kesandung duit..hehehehehehe

    duite sak gunung ha ha ha

    Like

  3. bambangpriantono said: Gedubrag….Mending kesandung duit..hehehehehehe

    Duite kertas thok Mbak..ojok receh

    Like

  4. bambangpriantono said: Duite kertas thok Mbak..ojok receh

    enake kertas satus ewuan Dik. moto duiten kabieh wis ha ha ha

    Like

  5. bambangpriantono said: Duite kertas thok Mbak..ojok receh

    aku ikutan makan gado2 aja… :p

    Like

  6. demitmp said: aku ikutan makan gado2 aja… :p

    weisss… gado-gado kerikil dan gunung mau???

    Like

  7. demitmp said: aku ikutan makan gado2 aja… :p

    wadoooow… jahat nih, ga mo bagi2, hehehe… =))

    Like

  8. demitmp said: wadoooow… jahat nih, ga mo bagi2, hehehe… =))

    bungkuuuuussss… 🙂

    Like

  9. demitmp said: wadoooow… jahat nih, ga mo bagi2, hehehe… =))

    siiiip…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: