MENGENALI WAJAH JIWA

MENGENALI WAJAH JIWA

Pagi-pagi sekali saya mendengar suara azan berkumandang dari corong mushollah Al Ikhlas di pojok Blok A komplek kami. Sudah Subuh.

Keadaan pagi itu tak beda jauh dari biasanya. Saya buka pintu kamar menuju tempat wudhu lalu memasang mukena saya. Sholah dua rakaat. Di sujud terakhir saya berlama-lama.

Disana saya melihat Bapak saya yang telah meninggal dunia. Senyumnya mengembang. Masih juga tampan seperti ketika masih hidup. Tak ada bekas pukulan malaikat. Tak ada bekas cambukan. Tak ada sayatan atau luka bakar. Berarti Bapak selamat dari azab kubur. Bapak orang baik walaupun bukan orang yang sangat relijius. Beliau seorang yang sangat jiwa spiritualnya sehingga ritual agama tak terlalu membuatnya kehilangan pegangan. Kebersahajaannya saja yang dapat membuat orang percaya bahwa agama telah membentuknya menjadi manusia tulus dan nrimo. Senyum Bapak saya adalah kebahagiaan tiada tara bagi keluarganya. Salaamun alaiha ya Rabbi…

Lalu saya bertemu dengan guru ngaji saya. Senyumnya masih juga seperti dulu. Tulus. Jenggot Hanoman-nya masih tetap terjaga rapi. Ditangannya ada Al Quran yang dulu waktu hidup dia ajarkan secara istimewa (ukuran kami) namun dicap sesat oleh teman-teman saya yang sangat kuat ngugemi (mengikuti dengan saklek (lurus (tanpa berprasangka (tanpa bertanya (tanpa berpikir (tanpa akal sehat (berharap syurga))))))) Fiqh versi keras. Menurut Psikologi Al Quran yang dia kembangkan, saya adalah manusia Juz 9. ya. Beliau berkeyakinan bahwa tiap juz Al Quran adalah representasi karakter manusia. Itulah yang membuat dia dicap sesat apalagi sejak dia dikerumuni oleh banyak sekali para Doktor dan peneliti yang terkagum-kagum terhadap pembuktian Al Quran. Saya melihat guru ngaji saya ini melambaikan tangannya mengucap salam pada saya tanpa membuka mulutnya. Apakah dia bisu di alam sana?

Lalu saya bertemu dengan dosen saya yang alimnya luar biasa. Saya tak tahu apakah dia sudah meninggal atau belum. Senyumnya tak kalah mengembang. Matanya tak kalah jernih daripada kedua orang yang saya temui sebelumnya. Ada sebuah buku ditangannya. Saya tak tahu buku apa itu. Mungkin buku Fiqh kesayangannya. Atau mungkin buku sastra kebanggaannya yang saat kuliah menjadi senjata pamungkasnya untuk membasmi serangga bodoh yang menggerogoti martabat intelektual dengan keahlian mereka menyontek. Bagaimana tidak… kami mahasiswa boleh open book tapi ketika we opened the book, we found nothing to answer his questions. Damn geniuous lecture he really are!

Lalu saya melihat sosok yang sangat cantik. Ah, benarkah apa yang saya lihat? Ini bukan mimpi?

Saya melihat diri saya sendiri. Tapi saya tidak berbaju. Saya tidak memakai apa-apa. Waduh, apakah seperti ini nasib saya? Telanjang? Polos? Jujur? Atau miskin? Alamak… Dia menatap saya dengan pandangan mengejek. Kurang ajar benar dia menertawakan diri sendiri? Di kepalanya ada rambut yang panjang sepantat (bukan pantatnya serambut ha ha ha…). Lalu ada senyum tak kunjung terkembang. Saya melihat saya dalam versi cantik bukan versi asli, ceria, yang selalu saya citrakan. Inikah jiwa saya? Jiwa yang cantik namun beku? Jangan-jangan itu kuntilanak? Bukan… karena kuntilanak pasti menangis sedangkan image ini tidak berekspresi, hanya diam. Baru saya lihat senyum tipis sebelum dia lenyap disedot arus dingin.

Allaahu akbar, saya bukannya ber-tahiyyat akhir karena ternyata saya tertidur dalam sujud panjang saya.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kanan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu… tengok ke kiri

Apakah saya perlu sholat lagi? J

June 11, 2008

Leave a comment