June 23, 2008
rike jokanan

3 comments

IBUKU SAYANG

IBUKU SAYANG

Semua manusia punya ibu kecuali Ayahanda Adam dan Ibunda Hawa yang beribu Tangan Tuhan. Sebuah keajaiban yang tak perlu dibahas oleh otak budhel (tumpul, bahasa Jawa) seperti milik saya.

Ibu adalah posisi terhormat di budaya masyarakat manapun. Tidak ada peradaban mulia yang tidak menghargai peran dan posisi seorang ibu. Melahirkan-menyusui-mengasuh adalah satu paket hadiah dari Pencipta yang tidak mudah dicapai (achieved status) walaupun paket itu adalah sebuah kodrat alamiah wanita (ascribed status). Maka dari itu bersyukurlah orang-orang yang diciptakan untuk mengemban tugas sebagai ibu. Wahai Sudaraku para wanita, saya ingin berbagi rasa.

Saya manusia biasa maka pasti punya ibu. Ibu saya sudah tua. Namanya Dayah binti Slamet. Lahir di Tulungagung pada October 9, 1944. Wajahnya menyisakan kecantikan muda yang luar biasa. Rambutnya hitam bersembur putih keperakan, kulitnya keriput, badannya gendut, payudaranya kendur, halus budi bahasanya, ingatannya masih hebat, karakter kerasnya mulai bertambah, dan satu lagi yang sesungguhnya sangat mengganggu saya: hobinya menanyakan tentang kapan saya menikah.

Saya paling sebal pada siapapun yang menanyakan hal itu kepada saya. Sebuah pertanyaan bodoh yang diucapkan dengan gaya prihatin bercampur intelek. Seakan pertanyaan itu adalah sebuah habeliauh wajib untuk orang yang tidak bersemangat mengejar mas-mas. Seakan pertanyaan yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai prestasi teratas kehidupan ini: menikah. Apakah berarti bercerai adalah prestasi yang lebih tinggi lagi apalagi kalau kemubeliaun kawin lagi?

Ibu saya ini adalah wanita Jawa yang menurut beliau sendiri pekerjaan utamanya adalah mengabdi pada suami walaupun kenyataannya ibu saya adalah pensiunan bidan yang pernah mengabdi pada negara Pancasila ini. Ibu saya percaya bahwa dengan mengabdi pada suami seorang wanita akan masuk syurga. Beruntunglah beliau memperoleh lelaki yang sempat memberinya syurga, jadi ibu saya tidak harus membual banyak-banyak.

Ibu saya telah melahirkan 5 orang anak: perempuan, laki-laki, perempuan, perempuan, laki-laki. Semuanya lahir tanpa cacat. Jika kemudian hidupnya tidak bahagia maka itu bukanlah bawaan lahir namun akibat dari salah treatment baik oleh galangan (keluarga, bahasa Jawa) maupun golongan (lingkungan pergaulan, bahasa Jawa) atau karena salah persepsi terhadap suatu realitas yang kami hadapi.

Ibu saya suka memasak, membaca dan membuat kliping. Beliau membaca apa saja yang bisa beliau baca terutama koran dan majalah karena beritanya paling up dated sampai-sampai beliau mendapat julukan wartawan dari almarhum bapak saya. Dapatkah Sudara sekalian bayangkan seorang ibu seperti beliau memiliki anak seperti saya yang tidak suka membaca koran atau majalah? (saya lebih suka membaca buku, karya sastra dan essay) Dapatkah Sudara membayangkan alangkah timpangnya pengetahuan populer saya dibanding ibu saya? Huff.. kadang-kadang saya memilih tidak berdiskusi tentang politik dengan beliau. Saya lebih memilih ngobrol enak tentang wayang atau kethoprak (kesenian khas Jawa Tengah) atau ludruk (kesenian khas Jawa Timur yang awalnya hanya dimainkan oleh para lelaki) dengan almarhum bapak saya atau ngobrol tentang rabuk (pupuk, bahasa Jawa) dan tandur (masa tanam padi, bahasa Jawa) dengan Pakpuh (kakak orang tua, bahasa Jawa) daripada saya malu karena sebagai mahasiswa pada saat itu dan “orang Jakarta” saat ini saya tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi di pusat merah putih ini.

Coba Sudara tanyakan nama-nama menteri dari kabinet manapun pasti beliau hapal. Tanyakan kasus-kasus hukum, skandal-skandal politik, gosip-gosip selebritas atau apa saja yang terjadi di negeri antah berantah beliau akan menjawab sekaligus memberikan ulasan yang sangat mengagumkan seakan beliau itu pengamat politk, ekonomi, sosial, budaya, filsafat atau apalah ilmu yang timbul di dunia ini. She is a great popular scientist!

Ibu saya suka memasak sedangkan saya suka tapi jarang mencoba resep-resep terbaru sehingga kalau pulang kampung saya harus rela dinasehati tentang ini itu yang kata ahli ini dan ahli itu bermanfaat untuk kesehatan. Dan setelah kembali ke kota tempat saya tinggal semuanya menguap seperti air dibawah terpaan sinar matahari. Di Jabodetabek semua bisa dibeli he he he…

Ibu saya seorang yang terkenal sabar dan narimo (menerima dengan ikhlas). Menerima dengan sabar kondisi yang semenyakitkan apapun, semenderita apapun dalam hidupnya. Tapi jangan coba-coba Anda menyakiti anak-anaknya. Beliau akan murka seperti bantheng ketaton (banteng terluka). Maka kami anak-anaknya yang normal akan sebisa mungkin menyimpan duka kami dari pengetahuannya sehingga beliau tak akan mencari orang yang menyakiti kami. Bahkan seandainya kami yang benarpun kami tidak akan mengadu banyak padanya, kami akan mengalah di hadapan ibu kami walaupun akan menghantam orang itu beliaum-beliaum dibelakang ibunda kami ini. Sebenarnya ketika ketemu pun ibu tak akan menyakiti orang itu. Kami hanya takut beliau berdoa yang tidak-tidak. Kutukan ibu saya ini terkenal manjur ha ha ha…

Ibu saya adalah bidadari bagi saya karena kecantikannya. Ibu saya adalah profesor ndeso yang saya yakin beliau bisa saja jadi menteri peranan wanita kalau saja kesempatan diberikan padanya. Ibu saya juga seorang bijak bestari ketika saya membutuhkan nasehatnya. Ibu saya adalah pengabdi yang setia baik pada keluarga maupun masyarakat. Ibu saya adalah seorang wanita yang paket melahirkan-menyusui-mengasuh-nya terbuat dari emas dan berlian.

Ibu saya sense or humor-nya tinggi. Apapun bisa jadi bahan tertawaan bagi beliau. Pernah beliau tertawa-tawa ketika seseorang secara tidak sengaja membuat beliau terdorong dari tangga teras sehingga gagang kacamatanya menusuk pelipisnya hingga harus dijahit beberapa jahitan. Biskah Anda bayangkan di saat semua orang khawatir terhadap keselamatannya beliau sendiri tertawa gembira. Ibu saya agak menyebalkan jadinya he hehe…

Namun ibu saya juga manusia biasa yang bikin saya jengkel jika sudah menyamaratakan saya dengan wanita lain yang “kata beliau” NORMAL. Menurut beliau kecintaan saya pada kesendirian saya lebih besar daripada kecintaan saya pada kodrat saya sebagai wanita yang seharusnya melahirkan-menyusui-mengasuh. Menurut beliau saya terlalu banyak melahap bacaan yang nyeleneh sehingga pemikiran saya “keseleo”. Ora Njawani (tidak berjiwa Jawa, bahasa Jawa), kata beliau.

Ibu saya ini begitu hebat. Saya bangga padanya dan hanya memendam kekesalan terhadap satu pertanyaan itu saja.

Ibu saya akan saya nobatkan sebagai wanita paling hebat dan berjasa dengan segala yang dianugerahkan padanya.

I love you, Ibuku sayang…

June 11, 2008

3 thoughts on “IBUKU SAYANG

  1. ibuku cantik. aku juga he he he…

    Like

  2. Masih sangat beruntung punya Ibu Ytc selama ber-tahun2 mendampingi hidupmu dalam suka maupun duka. Aku ditinggal Ibuku alm selagi lulus SD dengan beban 5orang adik ( 4laki2 dan 1perempuan ) yang masih balita dan perlu kehadiran Ibu, yang mau ga mau waktu itu aku punya rasa tanggung jawab yang paling beratlah untuk mendampingi, menemani dan membimbing adik2ku, lebih2 bilamana segala yang kita tidak inginkan bakal terjadi, termasuk masa depan Bapakku. Aku harus mendampingi alm Ayahku juga, yang masih muda belia saat itu, sepeninggal Ibu, karena aku tahu betapa sedihnya Ayah ditinggal nya, dengan godaan2 hidup yang bakal dihadapinya. Aku termasuk anak yang cerdik bagi Bapak ku, karena aku anak yang tertua, yang harus memegang tongkat rumah tangga. Lebih parah lagi selagi Ayahku memutuskan menikah lagi diem2 (tanpa bilang2 pula kepada kami), beban dipundakku semakin bertambah berat sekali posisinya sebab tak semudah itu rupanya menyandang penderitaan itu dan tak bisa pulalah aku membenci Ayah ku yang paling aku cintai diatas bumi ini. Dan aku tahu betapa cinta Ibuku kepada alm Ayahku dan sebaliknya, maka tak mungkin aku melupakan pesan2 alm Ibuku untuk tetap sayangi Ayahku, dan tidak memusuhinya. Dan bila tiba2 kami dapat Ibu Tiri tadi aneh juga rasanya, lebih2 yang bagi kami asing dan bertolak belakang segala nya terhadap kami berenam karena bukan Ibuku. Maka berbahagialah siapa pun didunia ini yang masih mempunyai Ibu kandung, karena sorga kebahagiaan kita semua diatas bumi ini tidak ke-mana2, tapi ada ditelapak tangan nya Ibu yang telah melahirkan kita, yang bisa merasakan dalam2 selagi kita susah dan ikut senang selagi kita senang, tanpa pamrih apapaun juga, tanpa ingin dapat apa2, karena dimanapun Ibu selalu senang memberi tanpa juga mengharapkan balasan apa2, justru malah mendoakan apapun segala yang paling baik bagi kita, anak2 nya. Kehilangan Ayah didalam keluarga bisa dibilang kehilangan tonggak, tetapi kehilangan Ibu itu, ternyata kehilangan segala2nya. Ibuku alm adalah segala2nya bagiku dan bagi adik2ku, karena tanpa Ibu dan tanpa kehadirannya aku kesepian tanpa bisa bayangankan pula betapa pedih perihku selama itu selagi aku kangen dan butuh kehadirannya. Satu2nya jalan untuk rasakan kehadiran nya, membawa selalu ajaran2 Ibu, pesan2nya, wejangan2 nya kemanapun aku ini, agar aku kuat selalu dan tidak mudah tumbang menghadapi apapun dan bisa tegar diriku setegar militer yang sedang berjuang tanpa Ibuku, dalam hidup yang penuh dengan segala kesusahan dalam segala bidang. Ibuku adalah pejuang untuk negara tapi pejuang juga dalam keluarga dan pejuangku, Ibuku adalah spirit yang tertinggi bagiku dan pendorong dalam kehidupanku dan Ibuku adalah segala2 nya bagiku, bagi Bapak, dan bagi semua adik2ku (tanpa kecuali), semenjak kami lahir, lalu ditinggalnya dan selama hayat masih dikandung badan. Semuanya tentu telah tahu, tanpa tarungan nyawa Ibuku yang telah melahirkan kita, tak mungkinnlah kita berada diatas dunia yang indah ini, tapi yang penuh dengan baik/ buruk dan liku2 dalam segala2nya. Jadi walau kadang akupun kesel saat itu dengan teguran dan sapa Ibuku, setelah Ibu telah tiada baru aku tahu bahwa ternyata banyak benarnya juga kata2 Ibuku. Disitulah aku jadi sadar, insyaf, dan merasa berdosa telah kadang2 mbantah Ibuku, walau tidak secara langsung atau didalam hati saja membantah nya. Ibuku bukan seorang yang sempurna, tapi walau kekurangan2nya Ibuku cuma sedikit, ternyata aku ini belum bisa juga sebanding dengan Ibuku. Maka tiap2 hari aku renungkan, aku etung2,dan pelan2 melangkah aku maju sambil telusurilah kekurangan2ku se-banyak2nya, untuk ikuti kata2 alm Ibuku yang masih selalu ber-denging2 diotak dan dikupingku sepeninggalnya, sambil aku ajarkan pula ajaran2 Ibuku itu pada adik2 ku selagi mereka muda dan sangat membutuhkan, sebagaimana Ibu telah mengajarinya keaku saat semasa hidupnya. Agar mereka tidak goyah juga, walau apapun yang akan terjadi dan bisa terus berjuang menerus sampai berhasil cita2 Ibuku. Ibuku memang terlalu kolot, displin dan sangat streng kepadaku dan kepada adik2ku, tapi ada benarnya pula ajaran2nya Ibuku itu, untuk bekalku. Memanglah berat bagiku menyangga beban dan tidak gampang pula membesarkan, mbimbing dan ngajari adik2ku, yang bagaimanapun caraku merekapun harus mau mengikuti ajaran2 Ibuku. Untungnya juga kita ini diajari saling sayang saudara oleh Ibuku, tanpa mem-beda2kan, maka mudahlah karena adik2ku menurut pula rupanya bimbingan2ku selama itu, dan untung, Bapak ku alm, percaya banget Dia dengan sepak terjangku, maka lebih mudah lagi jalan ku untuk mendidik adik2ku, karena bagaimanapun jugalah aku tak boleh melewati petunjuk2 Bapak ku. Yaaah, Ibuku alm paling disayang Bapakku, tapi juga seorang yang dinamik, penuh rasa sosial dan senang menolong pada sesamanya, maka Ibuku disenangi oleh banyak orang. Gara2 itu, kemanapun tak sulit bagiku untuk makan dan tidur dirumah teman2ku selagi aku sedih dan sebel lihat Ibu Tiriku. Bapak-ku alm cakep banget orangnya, masih muda juga dan tentu banyaklah wanita2 yang bakal ingin mempunyainya. Sayangnya saja Bapak Bapak dapat isteri baru yang jelek solah dan tabiat nya, jelek terhadap Bapak tapi juga jelek terhadap kami, anak2 nya itu. Untungnya, Bapak ku seorang yang paling baik, apa2 ngalah walaupun kepada Ibu tiriku. Aku sering sebal, tapi aku berlagak mengalah juga kepada Bapak untuk bikin dirinya tak banyak2 mikirkan kami dan berbahagia saja. Karena, Bapak ku alm adalah satu2nya laki2 yang paling aku cintai juga diseluruh dunia ini, yang bisa mengalahi cintaku kepada siapapun, tapi tak pernah mengalahi cintaku pada Ibuku. Karena, Ibuku juga satu2nya wanita yang paling aku cintai diseluruh dunia ini. Maka Bapak dan Ibuku adalah pujaanku, karena aku tak akan pernah lupakan Ibu, yang cinta nya bersih padaku dan punya harapan2 yang selalu tulus, suci dan murni terhadap putra putrinya dan karena tanpa Ibuku ternyatalah hidupku itu pincang walau spirit dan harapan2nya yang justru telah membangkitkan dan mendorong perjuangan ku untuk lebih ber-api2 itu dan tanpa henti berjuang yang benar didalam hidupku dan semakin aku ingin tambah maju juga dan bisa berhasil dalam segala hal juga untuk adik2ku. Dan Bapak, tentu telah ikut andil didalam perjuanganku dan kehidupanku sepeninggal Ibu, walaupun aku dan adik2ku penuh penderitaan punya Ibu Tiri yang tak pernah peduli kepada anak2nya. Tapi tidak jadi soal, aku tidak mau banyak2 menyalahkan Bapak ku karena aku selalu memaaf kan juga kekurangan Ibu tiriku, untuk lebih baik lagi jalanku setelah kepergian Ibu dan meraih cita2ku. Bapak dan Ibuku alm, semoga saja arwahmu tahu kalau aku bagaimanapun telah ikuti pesan2, keinginan2 dan doa2mu, yang bagaimanapun juga kebaikan2mu itu tak pernah pula bisa aku balas dengan apapun didunia ini. Walau Ibu yang meninggal muda (36th) dan Bapak menyusulnya setelah 36tahun, tetapi hanya budi baikmu berdua selama ini yang selalu aku ingat dibenakku, dimanapun dan kemanapun aku, karena hanya itu senjata ku didalam senang ataupun susah selama itu untuk meraih cita2 Bapak Ibu dan membawa selalu nama baiknya. Yang rupa2nya ampuh pulalah senjata itu, karena aku berhasil meraihnya dengan baik, walau badai, angin dan topan selalu kunjung silih berganti. Amin ya Robal Alamin.

    Like

  3. aigle07 said: Maka berbahagialah siapapun didunia ini yang masih mempunyai Ibu kandung, karena sorga kebahagiaan kita semua diatas bumi ini tidak ke-mana2, tapi ada ditelapak tangan nya Ibu yang telah melahirkan kita, yang bisa merasakan dalam2 selagi kita susah dan ikut senang selagi kita senang, tanpa pamrih apapaun juga, tanpa ingin dapat apa2, karena dimanapun Ibu selalu senang memberi tanpa juga mengharapkan balasan apa2, justru malah mendoakan apapun segala yang paling baik bagi kita, anak2nya.

    subhanallah.. terima kasih sudah mencerahkan. semoga bermanfaat juga 🙂

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: