June 23, 2008
rike jokanan

2 comments

RUMAH LABA-LABA

RUMAH LABA-LABA

Selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba.

Saya pernah meyakini hal tersebut diatas secara buta. Saya meyakininya bukan karena ikut-ikutan tapi karena memang telah membuktikan betapa mudahnya rumah laba-laba itu saya hancurkan dengan penghuninya yang putus asa sekalipun. Sekali gantas berantakan sudah jejaring di pojok-pojok kamar saya itu.

Namun saya teringat kata-kata seseorang yang kemudian membuat saya berpikir kembali tentang kebenaran keyakinan saya itu. Benarkan rumah laba-laba adalah selemah-lemahnya rumah? Jika ya, apa penjelasannya. Jika tidak, apa juga penjelasannya. Saya harus menemukan jawabnya.

Berabad-abad yang lalu, dua orang sahabat karib bersembunyi di dalam gua dari kejaran sepasukan manusia biadab yang bermaksud mencelakai mereka. Tiada tempat lain yang lebih aman daripada persembunyian berupa gua yang tak aman itu.

Derap langkah kuda pasukan kavaleri itu sampai di mulut gua. Alangkah paniknya salah seorang dari mereka mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua dan nasib keluarga dan sahabat lain yang masih sangat mebutuhkan keberadaan mereka berdua. Hanya harapan besar pada pertolongan Yang Mahakuasa saja yang membuat mereka merasa aman dalam penjagaan-Nya.

Alam bekerja sesuai dengan hukumnya dalam keteraturan yang tak mungkin berdiri sendiri. Siapa yang penasaran jika laba-laba membuat rumah di mulut gua? Itu sudah biasa, sesuai hukum alam. Dan apa anehnya sepasang merpati bertengger di mulut gua? Semua biasa saja. Gua tak berpenghuni. Hanya seekor tokek nakal saja yang menuntun rasa ingin tahu pasukan itu. Maka pasukan berkuda itupun tak merasa perlu merusak kembali rumah lemah buatan laba-laba di rongga gua berpenghuni sepasang sahabat itu.

Selamatlah dua sahabat itu dari kekejaman pasukan berkuda Quraisy sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah Madinah yang telah penuh sesak oleh manusia dan kerinduan yang membuncah pada Muhammad dan Abu Bakar.

Rumah laba-laba yang lemah telah menolong dua manusia besar. Inilah jawaban pertama saya.

Seorang profesor meneliti benang-benang bahan rumah laba-laba tersebut. Dibuat dari air liurnya sendiri, benang-benang halus tersebut ternyata memiliki kekuatan berlipat ganda dibanding dengan benang baja. Subhanallah. Inilah jawaban kedua saya.

Seorang guru Al Quran saya, almarhum Moenadi, mengatakan budi bahasa yang halus dan tulus hanya muncul dari rasa hati yang halus. Hanya rasa yang telah terasah yang dapat memiliki kekuatan kuat untuk menyusun jalinan persahabatan dan persaudaraan. Kekerasan hati, kata-kata apalagi tindakan hanya akan merusak saja. Begitu juga jalinan rumah laba-laba hanya bisa kuat, jauh lebih kuat dari kawat baja, karena dijalin dengan air liur yang keluarnya dari mulut sang laba-laba yang tulus, dirajut dengan kesabaran dan ketulusan. Tahukan Anda berapa lama sang laba-laba harus ngeces (ngiler) untuk membuat rumahnya berputar-putar membuat jejaring dengan perhitungan yang simetris tiada cacat? Dan berapa lama seorang manusia harus merusaknya? Apakah sang laba-laba menyerang Anda karena Anda telah merusak rumahnya? Tidak! Dia akan membangun kembali rumahnya dengan ilernya yang halus namun kuat disusun dengan besar sudut tertentu membentuk sebuah network yang hebat, kuat, anggun, memerangkap dalam kelemahannya. Ingat, Frodo Baggins pernah terjebak jaring laba-laba dan nyaris mati lemas di The Lord of The Rings karya Tolkiens. Inilah jawaban ketiga saya.

Masih dari Pak Moenadi, logo PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) adalah rumah laba-laba. Mengapa PBB gagal membina jaringannya? Karena landasannya bukan persaudaraan yang tulus dan ikhlas namun materi dan kekuasaan. Ini jawaban keempat saya.

Rumah laba-laba memang lemah secara kasat mata namun dengan rasa hati kita dapat memahami apa yang ada di balik itu, dan dengan perhitungan tepat kita tahu jejaring ini kuat dan akurat. Pertanyaan saya terjawab sudah.

Boleh jadi Anda punya jawaban lain untuk kita semua, Sudara-Sudara.

Terima kasih saya pada Keluarga Besar Al Badiyo di seluruh dunia.

I love you, all. J

June 12, 2008

2 thoughts on “RUMAH LABA-LABA

  1. Menarik artikelnya, memberi cakrawala baru. Terimakasih.

    Like

  2. entons said: Menarik artikelnya, memberi cakrawala baru. Terimakasih.

    terima kasih support-nya, Mas Entons. semoga bermanfaat.

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: