June 23, 2008
rike jokanan

no comments

INTERLUDE JEDA

INTERLUDE JEDA
JEMBATAN DUA DARATAN

Buku kompilasi artikel yang ditulis oleh dua pengarang dari tabloid PARLE, Syafruddin Azhar dan Kurnia Effendi, ini membuat saya terpana akan kebenaran sebuah ayat suci tentang tidak akan habisnya ilmu Tuhan sekalipun telah dihabiskan pohon di bumi untuk pena dan samudera sebagai tinta bahkan jika didatangkan tujuh lagi. Begitu luas dan dalam ilmu yang diletakkannya di hati-hati yang berpikir.

Saya sengaja membaca dulu pengantar yang ditulis oleh Fahruddin Salim, SE,MM (Pemimpin Redaksi) dan Faisal Baasir, SH (Ketua LPKP). Terpapar di dalamnya tentang perbedaan style yang dipakai oleh masing-masing penulis. Dikataan bahwa tulisan Mas Syafruddin cenderung “berat’ sedangkan tulisan Mas Kurnia cenderung “menyentuh”. Dan terbukti memang demikian.

Bagian pertama buku adalah Interlude. Disini tulisan Mas Syafruddin banyak diwarnai oleh bahasa-bahasa ilmiah, kutipan-kutipan buku atau kitab, terjemahan bahasa asing dan segala hal yang memang membuat tulisan beliau mendapatkan julukan ilmiah dalam arti kandungannya berdasarkan teori-teori yang pernah dirumuskan oleh para cerdik pandai terlihat nyata. Anda akan menemukan nama-nama ilmuan bertebaran di tulisan-tulisan beliau. Mulai dari bumi timur hingga dunia barat ada. Ilmu batin hingga ilmu logika beliau kaya perbendaharaannya. Saya sampai tercengang membaca sekian banyak tulisannya tidak ada pengulangan kutipan yang bertindihan.

Dari judul-judul tulisan beliau kita dapat menghitung apa saja yang memnuhi memorinya: Pak Harto; Selingkuh; Orde Baru; Sontoloyo!; In Vino Veritas; Proletariat Versus Borjuasi; Ahmadinejad; Obama; Alohomora, Expecto Patronum; Honos Alit Artes; Gruda; Konco Wingking; Odius Debt; Politik Minyak; Phallus Monologue; Seppuku; Nyai Ontosoroh; dll. Jika satu judul rata-rata mengandung 5 referensi, berapa buku yang telah Mas Syafruddin baca? Padahal satu judul bisa memuat lebih dari 5 referensi.

Dari beragamnya kutipan dan isitilah yang dipakai oleh Mas Syafruddin bisa kita bayangkan berapa ribu buku yang telah beliau lahap selama hidupnya dan berapa gyga byte memori otak beliau. Otak beliau pasti berharga murah karena telah banyak memori yang terpakai tidak seperti otak saya yang mahal karena masih banyak yang kosong. 

Jeda adalah bagian kedua yang diisi oleh Mas Kurnia Effendi. Beliau berangkat sebagai cerpenis yang notabene lebih bergaya narasi daripada argumentasi atau persuasi murni. Gaya penulisannya memang lancar laksana cerita dan sebagian tulisannya diselipi percakapan antar karakter sehingga pembaca diajak membaca sambil berpikir tentang apa yang ada dibalik tulisan tersebut. Mas Kurnia berperan seperti seorang nenek yang sedang mendongeng kepada cucunya yang pada akhir cerita beliau men-sum-up pelajaran yang dipetik baik dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan. Penulis sukses menyuguhkan gaya cerita dengan kandungan filsafat yang dalam.

Salah satu tulisan Mas Effendi yang menarik adalah tentang Slamet Rahardjo Djarot yang sengaja berlebaran di rumah Bi Sumi dan makan opor ayam yang ternyata sebelum disembelih sempat tertabrak motor. Dalam tulisan ini penulis menggarisbawahi kesederhanaan dan kepolosan sebagai niat baik yang sudah semestinya dihargai. Gaya berseritanya mengalir lancar seperti air sungai yang bening dipecah bebatuan disana-sini. Indah dan merdu.

Perbedaan gaya tulisan ini tidak menandakan siapa yang lebih andai dan siapa yang lebih lihai menulis karena gaya hanyalah masalah pendekatan seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Tidak banyaknya referensi yang Mas Kurnia sebutkan tidak berarti beliau kering ilmu. Ini hanya menunjukkan bahwa proses internalisasi ilmu Mas Kurnia berbeda dari Mas Syafruddin. Ibarat berdagang, Mas Syafruddin seperti sebuah hypermarket yang menyediakan apa saja yang siap saja perlukan; komplit plit plit. Sedangkan Mas Kurnia ibarat sebuah restoran yang menyajikan makanan yang bahan-bahannya dibeli dari hypermarket Mas Syafruddin yang kemudian diolah dengan resep rahasia. Keduanya saling melengkapi dengan keunggulannya masihng-masing.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja. Kedua penulis seakan berkolaborasi seakan rintik hujan mengobati dahaga pembaca di gersangnya kemarau berkepanjangan di kepulauan kelapa. Bagi yang lebih suka gaya ilmiah textbook, Interlude ibarat tambang berlian di perut bumi. Bagi yang suka menyelam dalam lautan nilai-nilai, Jeda menyediakan taburan mutiara.

Selamat membaca Interlude Jeda. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: