BERKATA BENAR ADALAH ESENSI, BERKATA DENGAN BENAR ADALAH SENI

BERKATA BENAR ADALAH ESENSI

BERKATA DENGAN BENAR ADALAH SENI

(sebuah ide pribadi tanpa landasan teori para ahli)

Membicarakan marketing dengan teman-teman saya membuat diskusi kami agak meruncing karena satu kelompok mengatakan bahwa kita mesti jujur apapun kondisinya. Satu kelompok lagi yakin bahwa seni marketing tidak bisa lepas dari diplomasi yang kadang-kadang sulit dibedakan dengan kebohongan sekecil apapun kadarnya. Dan ujungnya mereka tidak bisa bertemu di satu titik kecuali bahwa keduanya bertujuan menjual sebanyak mungkin barang dagangannya.

Saya sendiri seperti biasa hanya menjadi perekam karena tidak pandai bersikap, lebih suka mendengarkan saja sembari belajar. Jujurkah saya? Atau sedang berdiplomasi menyelamatkan dagangan berupa harga diri?

Berkata benar dalam hal ini adalah mengatakan kondisi sesuatu atau seseorang sesuai dengan kondisi apa adanya. jika ada yang bertanya tentang sesuatu maka Anda mesti segera menjawab dengan gamblang seperti hal-nya ketika Anda membacakan spec komputer kepada orang yang membutuhkannya.

Contoh:

Intel Pentium dual-core processor T2370

Mobile Intel graphics

512 MB DDR2

120 GB HDD

Bluetooth 2.0+EDR

Itu jika Anda berjualan komputer berdasarkan spec yang bisa dipesan.

Nah sekarang Anda harus bersaing dengan teman Anda yang juga menjual komputer tetapi dengan merek dagang yang berbeda dari yang sedang Anda jual. Maka apakah Anda akan menawarkan dengan cara yang sama?

Disinilah kemudian muncul istilah dari kelompok kedua: berkata dengan benar. Dengan sangat bersemangat mereka mengatakan bahwa merek A bisa jadi memang lebih bagus kualitasnya dibanding merek B dengan spec utama sama persis. Namun apa daya jika mereka harus jualan sampai barang ludes, maka penawaran harus dikemas secara cantik dan menarik walau kadang harus sedikit bullshit demi profit.

Ada seorang teman saya bekerja sebagai Region Manager sebuah perusahaan farmasi tua berkantor pusat di kota Bandung. Dengan sangat sadar sebagai seorang teman dia melarang saya untuk meminum obat sakit kepala produksi pabrik obat tempat dia bekerja namun dengan sangat hati-hati juga dia berpesan kepada saya untuk tidak menyebarkan kepada khalayak ramai bahwa obat sakit kepala produksi pabriknya kalah manjur dibanding obat sakit kepala produksi pabrik lain. Dengan jujur pula dia mengakui bahwa di depan dokter atau apoteker dia akan mengatakan bahwa obat sakit kepalanya lebih murah sehingga akan lebih cepat laku dan “dicari” karena kualitas yang tidak jauh berbeda daripada produk pabrik lain walaupun sebenarnya relatif kurang aman dikonsumsi. Kemudian dia akan membuat komparasi ringan antara keduanya, tak ketinggalan disertai contoh kasus jika kebetulan dokter dan apoteker bertanya lebih lanjut. Belum lagi jika mereka bertanya sudah ada berapa dokter dan apotek yang membeli obat ini dan bagaimana peluang marketnya dan sebagainya. Belum lagi jika mereka bertanya bagaimana dengan diskon obat dan segala macam yang membuatnya berpikir ulang tentang profit perusahaan yang berpengaruh pada bonus akhir tahun. Kadang resiko terpeleset kebohongan tak tertahankan karena kadang tujuan jual habis tak mudah ditandingi oleh tujuan ideal manapun.

Saya sebagai pendengar akhirnya menyerah karena kedua belah pihak tak kunjung mencapai satu kesepakatan. Saya sebagai moderator pasif akhirnya bertanya yang mana nih yang mau disepakati.

Dengan sangat polos say
a berkata,”Berkata benar adalah esensi, berkata dengan benar adalah seni. Idealnya keduanya harus berjalan berbarengan karena kalau jujur tapi ngawur ya akan ada pihak yang sakit hati tapi kalau hanya berfokus pada gaya bertutur kadang yang terkesan jadi banyak bunganya.”

Mereka memandang saya dengan sinis. Saya si orang bodoh dengan sangat cuek meninggalkan mereka yang tak kunjung sampai pada keputusannya. Kebanyakan diskusi, nggak ada aksinya. Capek.

“Oke, atau pilih saja salah satu. Kalau mau jadi tukang rakit komputer, berkatalah benar. Kalau mau jualan merek dagang tertentu ya berkatalah secara benar. Suka-suka lu pade deh. Gue sih enggak mau jualan. Beli aja, namanya juga orang kaya,” kata saya.

Mereka mendelik. Saya masih berpikir bagaimana menggabungkan keduanya menjadi sebuah keahlian berkomunikasi yang tak tertandingi sehingga saya bisa menjual diri saya secara jujur tanpa mengececwakan pelanggan. J

Dedicated to someone in Bandung

2 thoughts on “BERKATA BENAR ADALAH ESENSI, BERKATA DENGAN BENAR ADALAH SENI

  1. Apakah setiap kebohongan itu adalah salah…? Yang saya tahu adalah bahwa tak semua kebohongan sebuah bentuk tindakan dosa… tergantung hasil akhir yang akan dibuahkan, apakah berujud kebajikan atau ketidak barokahan maka terakhir setelah HUkum Allah diberlakukan masih ada yang namanya Ij’tihad…Itu kalo tidak salah, karena saya hanyalah orang yang tidak selalu bisa benar bahkan termasuk golongan orang bodoh yang musti kudu dan masih harus banyak belajar…Thank’s…

    Like

  2. ohtrie said: Yang saya tahu adalah bahwa tak semua kebohongan sebuah bentuk tindakan dosa… tergantung hasil akhir yang akan dibuahkan, apakah berujud kebajikan atau ketidak barokahan maka terakhir setelah HUkum Allah diberlakukan masih ada yang namanya Ij’tihad…

    waduh Mas, kalau baik tidaknya atau boleh tidaknya kebohongan dilihat dari hasil akhirnya gak ada perintah untuk jadi orang jujur kali. yang saya pahami adalah bahwa berkata benar itu harus tapi perlu seni untuk mengatakannya, gak bisa saklek atau keras nusuk hati. allaahu ‘alam 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s