August 3, 2008
rike jokanan

10 comments

KEKUATAN, PUNYAKAH KITA?

KEKUATAN

Punyakah Kita?

Pada dasarnya manusia tidak punya kekuatan. Yang mereka punya adalah tanggung jawab dan oleh karena tanggung jawab itulah Tuhan memberikan pilihan-pilihan.

Banyak orang mencari kekuatan. Berbagai pihak memperebutkan kekuatan. Kekuatan seperti sebuah magnet yang mampu menarik bijih-bijih besi yang ada dalam jiwa manusia ke segala penjuru kutubnya. Secara alami tercipta kelompok-kelompo sebagai konsekuensi alamiah hasil gaya tarik-menarik yang ditimbulkan oleh perebutan tersebut. Manusia sendiri akan merasa kebingungan ketika ditanya apakah power itu. Apakah uang? Apakah kedudukan? Apakah kebebasan? Apakah kekuasaan? Apakah ada yang lain yang bisa merepresentasikan kata kekuatan?

Ada daya dalam kekuatan yang diincar oleh banyak pihak di dunia walaupun sesungguhnya mereka tidak pernha memiliki kekuatan alias power tersebut. Jika uang adalah yang mereka maksud sebagai power karena bisa “membeli” apapun dan siapapun maka sebenarnya diia tidak pernah memiliki uang karena uang itu akan terus menerus mengalir keluar, menjauhi dirinya untuk menarik apa dan siapa yang pada akhirnya juga hilang.

Jika ternyata kekuatan dia dapat dari kedudukan maka sebenarnya kedudukan itu akan berakhir seiring dengan kebosanan yang menimpa para penguasa yang pada akhirnya menyadari bahwa kedudukan justru merupakan tingkat perbudakan yang paling tinggi. Tidak percaya? Begini ya, Sudara. Jika Anda menjadi kepala keluarga maka Anda hanya harus melayani istri dan anak-anak Anda atau nantinya cucu atau cicit setelah itu peran Anda akan digantikan oleh kepikunana. Kalau Anda seorang ketua RT maka Anda harus melayani lebih banyak pihak termasuk yang sebenarnya adalah orang-orang yang tidak menyayangi Anda seperti halnya keluargayang selalu menginginkan kebahagiaan Anda. Selanjutnya jika Anda seorang lurah, maka makin banyak orang yang harus Anda layani. Bagaimana kalau Anda seorang camat? Lalu walikota atau bupati? Atau gubernur? Atau presiden? Makin tinggi jabatan/keudukan Anda maka makin banyak orang yang harus Anda servis, makin rendah tingkat ketuanan Anda secara hakiki. Maka dapatkah Anda membayangkan ketika kita ini disebut sebagai khalifah fil arld, pemimpin di bumi. Sadarkah Anda bahwa tingkat ketuanan Anda sangat rendah dan tingkat kebudakan Anda sangat tinggi! Karena semakin luas wilayah Anda dan semakin banyak manusia yang harus Anda layani. Makanya jangan keburu bangga… Anda semua adalah budak Sang Raja!

Jika kekuatan adalah kebebasan maka sama juga karena semakin kita merasa bebas semakin banyak yang harus Anda korbankan. Anda harus mengorbankan nama baik Anda. Anda harus juga merelakan diri diserang kiri kanan karena jika Anda ingin bebas maka Anda juga harus senantiasa berpikir tentang ruang bebas orang lain. Anda tidak bisa seenaknya tidur diatas bis tanpa membiarkan pengamen bebas berteriak mencari nafkah di kawasan bebas itu. Kalau tidak mau repot ya naik mobil sendiri saja dan bikin jalan sendiri jika ingin bebas macet tapi Anda juga harus rela jika ada orang lain yang memiliki lebih banyak kebebasan lebih. Nah, apakah kebebasan adalah power? Sangat relatif karena masih banyak pesaing.

Ataukah kekuatan Anda adalah kekuasaan Anda? Saya tidak tahu. Para penguasa mengklaim bahwa kekuasaan mereka memberikan mereka kemudahan dan kenyamanan hidup karena pelayanan dari para “budak” mereka. Benarkah? Apa yang diinginkan para budak sang penguasa tersebut? Apakah mereka perlu uang? Bisa saja; maka secara tidak sadar sang penguasa ini dikuasai oleh kelemahan sang budak yang alih-alih ikhlas mengabdi eh malahan mengharap sesuatu; bisa saj sang budak ini minta sedikit kekuasaan untuk menguasai budak lain yang ada dibawahnya. Jika terjadi perbudakan multi level seperti ini maka yang ada adalah bentuk kekuatan berdasarkan kedudukan. Saling menyokong untuk mendapatkan power adalah sebuah lingkaran setan. Sang penguasa merasa menguasai budaknya. Budaknya merasa sang penguasa terikat terhadap jasanya. Begitu seterusnya. Dan pada akhirnya kata power hanya bersifat situasional, kondisional, nisbi, sementara.

Maka itu marilah kita fokus kepada tanggung jawab kita. Sebagai pegawai tanggungjwab kita menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar. Sebagai warga negara, kita menjaga disiplin pribadi demi ketertiban umum. Sebagai kekasih, kita rela mencintai dengan pengharapan yang minim. Sebagai pemimpin, kita bertanggung jawab memberikan tauladan supaya pendukung kita mencontoh sikap baik kita. Sebagai manusia, bertanggungjawab atas kemanusiaannya.

Bagi saya dua pilihan sudah cukup karena saya punya kemerdekaan berpikir yang membuat saya bisa menggandakan berbagai pilihan dari hanya sepasang pilihan tersebut.

baik

?

buruk

sendiri

?

bersama

kiri

?

kanan

atas

?

bawah

satu

?

lebih dari satu

kuat

?

lemah

benar

?

salah

cinta

?

benci

dll

?

dll

Untuk apa tanda tanya ditengah-tengah sepasang kata yang (bisa dibilang) berlawanan itu? Itu adalah tanda BERPIKIR. Mana yang Anda pilih dalam melaksanakan tanggung jawab Anda? Tentukan pilihan dengan berpikir sebelumnya. Jangan sampai lewatkan proses yang satu ini.

Kelak jika Anda ditawari untuk memilih mana yang paling utama: apakah uang, kedudukan, kebebasan atau kekuasaan, tanyakan pada diri Anda dulu apakah Anda benar-benar menginginkannya atau hanya merasa tertarik oleh daya tariknya yang berupa power yang maya.

10 thoughts on “KEKUATAN, PUNYAKAH KITA?

  1. setuju dan artikel yang menarik dik.oleh sebab itu baik buruk adalah relative sebab itu bagian dari pilihankaya miskin, susah dan senang, semua pilihan…Dan itu semua kita yang putuskan..mau apa,hanya saja kelakuan orang yang tidak bertanggung jawab menyebabkan pilihan itu sering menghancurkan dan menghambat langkah manusia lain.Aku sudah sering kena dampak hal itu…pilihanku adalah, mencari jalan lain dan menjauhinya karena aku mau slamet.gak mau pusing deh…Gusti Allah berpihak pada umat-Nya yang memilih jalan yang benar

    Like

  2. hpoerwanti said: Dan itu semua kita yang putuskan..mau apa,hanya saja kelakuan orang yang tidak bertanggung jawab menyebabkan pilihan itu sering menghancurkan dan menghambat langkah manusia lain.

    ya ampun, Mbak. sama banget. banya orang sekitar kita tidak bertanggung-jawab dan membuat kita terkena dampak buruknya. semoga kita tetep beruntung. amin

    Like

  3. rikejokanan said: ya ampun, Mbak. sama banget. banya orang sekitar kita tidak bertanggung-jawab dan membuat kita terkena dampak buruknya. semoga kita tetep beruntung. amin

    ya dik, oleh sebab itu keputusan harus di peikirkan seribu kali kalo perlu dan harus bismillahirohmanirohim..supaya slamet met..he..he..he..

    Like

  4. hpoerwanti said: harus bismillahirohmanirohim..supaya slamet met..he..he..he..

    iya betul, Mbak. bismilllaahirrahmaanirrahiem…

    Like

  5. rikejokanan said: iya betul, Mbak. bismilllaahirrahmaanirrahiem…

    aku orang yang paling takut salah, oleh sebab itu kadang suka njlimet mikirnya.Sering banget di kritik orang sekeliling, sebab masalah keputusan apa salahnya agak njlimet tapi slamet yo…?hi..hi..hi..

    Like

  6. hpoerwanti said: Sering banget di kritik orang sekeliling, sebab masalah keputusan apa salahnya agak njlimet tapi slamet yo…?

    asal kalau untuk kepentingan bawahan tidak susah-susah ya Mbak he he he… good luck buat mbak Henny pokoke 🙂

    Like

  7. rikejokanan said: asal kalau untuk kepentingan bawahan tidak susah-susah ya Mbak he he he… good luck buat mbak Henny pokoke 🙂

    justru untuk kepentingan orang bawah itu harus njlimet biar mereka happy dengan keputusan kita.Inget pesen babe nih, “mana ada komandan pasukan perang cari slamet sendiri, pasti komandan itu berkorban buat pasukannya.”he..he..he..

    Like

  8. hpoerwanti said: “mana ada komandan pasukan perang cari slamet sendiri, pasti komandan itu berkorban buat pasukannya.”

    wis Mbak, pokoke aku setuju!!! ayo cari kumendan yang tanggung jawab, ora sak karepe ngurusi bathuke karo udele dhewe. 🙂

    Like

  9. rikejokanan said: wis Mbak, pokoke aku setuju!!! ayo cari kumendan yang tanggung jawab, ora sak karepe ngurusi bathuke karo udele dhewe. 🙂

    yo… nggolek nang ndi yoo…

    Like

  10. hpoerwanti said: yo… nggolek nang ndi yoo…

    ketoke njenengan wis entuk, Mbak. aku sing durung hi hi hi…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: