30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

Di masa terkering tahun bulan terhenyakku karena bebunyian yang sontak mengurut dada sunyiku. Mendobrak gudang tuaku memanggil-panggil nama diriku. Siapa diluar? Aku tak sedang mau menyambut tamu, seruku.

Wahai, tuan rumah, mana kesopanan dan adabmu? Malulah kau mengusirku. Aku lelah melewati tiap pintu dan mengetuk semuanya. Tidakkah kau punya tempat berteduh bagi bulan pengembara ini?

Hai, musafir. Rumahku tua dan tak terjaga. Untuk apa kutampung pengunjung yang akan menghinanya? Biarlah kau cari pintu yang lain dan mengetuknya tanpa kecewa.

Duhai, rumahmu renta. Wahai, pintumu lapuk. Adakah kau juga tak berbaju? Jika ya, aku tahu kau malu tanpa busana. Tak mengapa. Mataku buta, ku hanya ‘kan mengindera bisikan bayu, ku hanya ‘kan melihat kobaran pelita… di matamu.

Hai, pengelana. Masuklah. Rumah tuaku menerimamu, yang tahu aku tak punya apa-apa. Cuma percikan api mentari yang membungkusku. Berapa lama kau akan tinggal di rumah tuaku ini?

Terima kasih… 29 atau 30 hari lamanya. Biar kugelar tikar pandanku. Ku ‘kan duduk bersila menonton kau menari di rumah tuamu.

Amboi! Musim panasku membara di genggaman penguasa kemarau yang akan melihat rumah tuaku menari telanjang tak pedulikan jubahnya.

Marhabaan ya Ramadhaan…

32 thoughts on “30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

  1. rikejokanan said: itu juga termasuk jajaran cita-cita batinku yang tak pernah padam walaupun rasanya masih terasa jauh ditempuh jarak.semoga kita bisa sampai kesana sebelum tutup usia dan dapat memetik hikmah raksasa. bareng ayo, Mbak… saiki aku tak nyelengi dhisik.kabulkan doa kami ya Allah Rabbi…amin…

    Aminn dik..yo bareng …aku yo jik nyelengi pengen umroh paling tidak..itu target jangka pendek..

    Like

  2. jandra22 said: Insya Allah kubukakan pintu untuk tetamuku yang terhormat itu. Mungkinkah dia membawa barokah bagi keluargaku?Selamat beribadah sayangku Rike.

    alhamdulillah, jika pintu terbuka ikhlas, sang bulan pengembara merasakannya lewat hembusan nafas dan cahaya mata kita. hanya barokah dan cinta yang dibawa olehnya. tak ada benci, tak ada luka. insya Allah, amin.terima kasih, Tante Julie sayang. kukirim salam tamuku ke Afsel buatmu 🙂

    Like

Leave a reply to rikejokanan Cancel reply