September 2, 2008
rike jokanan

28 comments

IBU YANG DUDUK DI SEBELAH SAYA

IBU YANG DUDUK DI SEBELAH SAYA

Berangkat kerja kemarin pagi, saya seperi biasa mengambil tempat duduk dekat jendela. Saya hampir pasti selalu mendapat kehormatan untuk mejadi penumpang pertama atau kedua. Setelah bus terisi sekitar seprtiganya, seorang ibu menghempaskan dirinya di sebelah kiri saya. Rambutnya berombak dengan uban menghiasi. Si ibu tampak muram, tanpa senyum di bibirnya yang dipulas dengan warna merah lembut.

Sejenak menempelkan tubuhnya pada saya, tak lama kemudian bergeser ke bangku terpinggir dekat gang. Mungkin karena AC yang deras menyiram tubuhnya. Lalu dengan segera saya dorong tingkap lubang AC dengan buku yang sedang saya baca. Dan, benar, dia kembali duduk tepat di sebelah saya sambil kemudian mengoleskan minyak angin ke sekujur lehernya. Masuk angin.

Si ibu tampak sangat tidak tenang. Menengok ke kiri dan ke kanan tak hentin-henti. Kadang saya sengaja menyadari si ibu ikut mengintip Leo Tolstoy yang sedang saya baca. Saya buka lebar-lebar halaman supaya pandangannya tak terganggu dan lebih mudah membacanya tapi malah kuperhatikan dia palingkan wajahnya. Begitu seterusnya.

Saya makin merasakan ada seseorang yang memperhatikan saya. Siapa lagi kalau bukan si ibu. Saya jagi agak bingung. Dan dari ekor mata saya, dia tahu pandangan matanya tak berkedip. Berminyakkah wajah saya? Segera saya ambil kertas minyak dan menekankannya pada hidung dan bukit pipi saya. Dia melengos lagi.

Merasa tak nyaman membaca, saya masukkan buku ke dalam tas lalu mencoba menulis di telepon genggam saya. Saya merasa terbebas sejenak tapi kaki yang bergoyang-goyang membuat saya tak nyaman. Ternyata si ibu sedang menggoyang-goyangkan kakinya sehingga saya dan orang mengapitnya sontak mengarahkan pandangan pada si ibu. Saya tersenyum. Mbak sebelah kirinya juga tersnyum. Goyangan kaki dihentikan. Matanya dipejamkan.

Begitu lagi. Menengok ke kiri dan ke kanan. Menggoyang-goyang kaki dan memerhatikan wajah saya. Mungkin wajah saya mirip dengan seseorang yang dia kenal. Dan rasa penasaran segera merambati benak saya dan berniatlah saya memperhatikan si ibu aneh ini.

Celana hitam bahan katun tak baru lagi. Blus hijau tosca lengan pendeknya berhias bordia minimalis di daerah krah V modifikasi lekuk-lekuk, berbahan garment kaos kualitas sedang. Tak ada aksesoris kecuali ceplik (giwang, Bahawa Jawa) emas bulat di cuping telinga, jam tangan analog bulat warna perak di pergelangan kiri gemuknya. Sandal jepit hitam bertali biru. Sebuah tas tangan bertali panjang warna hitam dia pangku dan terlihat dipegan erat sekali.

Kegelisahan adalah hiasan terkuat si ibu saat ini. Minyak angin dioleskan lagi. Wangi White Musk dari The Body Shop saya tertindas aroma mint minyak cap Kapak sang ibu. Kakinya digoyangkan keras dan kudengar desah keras mbak di sebelah kiri ibu yang sedang mencoba memejamkan matanya menikmati macet pagi Kebun Jeruk.

Saya beranikan diri menyapa,”Mau kemana, Ibu?”

“Apaan? Ke Slipi”.

Waduh, waduh… Saya jadi nggak enak. Mau ramah ternyata salah orang. Sejak itu mulutnya makin memberengut dan tak sekalipun menatap saya sampai akhirnya dia turun di Slipi.

Mbak yang duduk di sebelah kiri saya menghembuskan napas lega sambil tersenyum pada saya lalu tidur dengan posisi duduk yang lebih santai setelah sekitar satu jam menekuk kaki menghindari goncangan kaki si ibu.

Saya memandang keluar jendela mencari-cari sosok si ibu dan melihatnya naik ojek ke arah Tanah Abang.

Mungkin saya cantik dan ingin mengagumi kecantikan ini. J Atau penampilan saya kurang berkenan di matanya. Atau saya seperti tukang copet yang harus dia awasi karen
a dia membawa uang banyak untuk beli dagangan di Tanah Abang? Atau dia melihat baju saya bermanset rajutan yang unik ini? Atau apa ya?

Kadang alasan seseorang melakukan sesuatu sama sekali tidak match dengan apa yang kita pikirkan dengan keras. Ini dia mengapa sulit rasanya berpikiran positif lantaran apa yang menurut orang lain wajar menjadi tidak wajar karena berbagai jenis kesenjangan. Kesenjangan budaya, kesenjangan usia, kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, kesenjangan politik, kesenjangan dll.

Sesampai di kantor saya segera mencari cermin dan segera mencari apa yang tak beres di wajah saya dan ketika “si orang bijak” datang, saya segera bercerita dan “si orang bijak” ini hanya berkata.

“Biarkan saja.”

Apapun alasan orang melakukan sesuatu pada saya, biarkan. Selama tak merenggut identitas diri saya sebagai manusia tak mengapa. Kadang berpikir positif tidak selalu memerlukan alasan. Biarkan saja. Ya, biarkan saja.

28 thoughts on “IBU YANG DUDUK DI SEBELAH SAYA

  1. hehe…bener mbak, biarkan saja semua orang berfikiran apapun tentang kita

    Like

  2. dewiekha said: hehe…bener mbak, biarkan saja semua orang berfikiran apapun tentang kita

    setuju, Mbak Ekha. kalau dikit-dikit dipikirin pusing sendiri 🙂

    Like

  3. dewiekha said: hehe…bener mbak, biarkan saja semua orang berfikiran apapun tentang kita

    serasa bca cerpen, pinter menyusun katanya, dari sebuah moment yg terliat biasa, jd sepanjang ini..

    Like

  4. luvhoney said: serasa bca cerpen, pinter menyusun katanya, dari sebuah moment yg terliat biasa, jd sepanjang ini..

    panjang, Mbak Luvhoney… waktu sejam kalau macet bisa setahun rasanya. harusnya saya bisa bikin novel ha ha ha…semoga bermanfaat dan terima kasih kunjungannya 🙂

    Like

  5. luvhoney said: serasa bca cerpen, pinter menyusun katanya, dari sebuah moment yg terliat biasa, jd sepanjang ini..

    ibu itu namanya moody mbak 🙂

    Like

  6. luvhoney said: serasa bca cerpen, pinter menyusun katanya, dari sebuah moment yg terliat biasa, jd sepanjang ini..

    kerenn.. tfs ya..? ada yang aku ambil dari sini…”biarin aja..” siiippp ..

    Like

  7. luvhoney said: serasa bca cerpen, pinter menyusun katanya, dari sebuah moment yg terliat biasa, jd sepanjang ini..

    Heu-euh nak, biarkan aja. Ngapain mikirin yang begituan. Nek aku dadi njenengan, begitu dia mulai bertingkah “mengganggu” aku pindah cari tempat duduk lain. Lha mumpung masih ada bangku-bangku kosong, iya toch?

    Like

  8. luvhoney said: serasa bca cerpen, pinter menyusun katanya, dari sebuah moment yg terliat biasa, jd sepanjang ini..

    jadi ingat lagu jadul punya Franky n Jane yang judulnya ‘Perjalanan’, ada yang tau?— duduk di hadapanku, seorang ibu, dengan wajah sendu, sendu kelabu, penuh rasa haru dia menatapku, seakan ingin memeluk diriku. Dia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang tlah tiada, karna sakit dan tak terobati, wajahnya mirip denganku—

    Like

  9. evelynrar said: jadi ingat lagu jadul punya Franky n Jane yang judulnya ‘Perjalanan’, ada yang tau?— duduk di hadapanku, seorang ibu, dengan wajah sendu, sendu kelabu, penuh rasa haru dia menatapku, seakan ingin memeluk diriku. Dia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang tlah tiada, karna sakit dan tak terobati, wajahnya mirip denganku—

    Ada! Saya tau! Itu lagu tahun 77-an waktu saya masih kuliah di PTN di Bandung.

    Like

  10. yogautami said: ibu itu namanya moody mbak 🙂

    sarapannya salah itu, Dik Yoga :-)sedangkan saya sahurnya salah, jadinya gak nyambung gitu deh…

    Like

  11. hpoerwanti said: kerenn.. tfs ya..? ada yang aku ambil dari sini…”biarin aja..” siiippp ..

    sama-sama, Mbak Hen. wis, ambil-ambilen situ, aku malah seneng 🙂

    Like

  12. bundel said: Heu-euh nak, biarkan aja. Ngapain mikirin yang begituan. Nek aku dadi njenengan, begitu dia mulai bertingkah “mengganggu” aku pindah cari tempat duduk lain. Lha mumpung masih ada bangku-bangku kosong, iya toch?

    itulah jeleknya saya, Tante Julie. kadang terlalu memberikan kesenangan pada orang lain sehingga kadang-kadang malah jadi membodohi diri sendiri.halah… iya… kenapa sak pindah aja ya. makasih lho, Tante. ini jawaban yang belum pernah kepikir sebelumnya oleh saya.

    Like

  13. demitmp said: typo? 🙂

    no, Mas Mit…i mean ceplik is the Javanese for the word giwang NOT anting he he… kemana aja ini kok menghilang dari alam dedemit he he he

    Like

  14. agripzzz said: Real?

    real, asli, nyata, bener-bener terjadi padaku Agripzzz….

    Like

  15. rikejokanan said: real, asli, nyata, bener-bener terjadi padaku Agripzzz….

    Uhummm… Cerita bagus…

    Like

  16. evelynrar said: jadi ingat lagu jadul punya Franky n Jane yang judulnya ‘Perjalanan’, ada yang tau?— duduk di hadapanku, seorang ibu, dengan wajah sendu, sendu kelabu, penuh rasa haru dia menatapku, seakan ingin memeluk diriku. Dia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang tlah tiada, karna sakit dan tak terobati, wajahnya mirip denganku—

    Franky n Jane saya tahu, Mbak Eve tapi lagunya gak kenal. lha yang ini tidak ada indikasi ingin memeluk diriku, Mbak. atau kemungkinan anaknya yang mirip aku nakale amit-amit jadi pengen njenggut he he

    Like

  17. smallnote said: Uhummm… Cerita bagus…

    lagi ketemu feel-nya, Mbak… macet, bete, sumpek, emosi terusik pula, inspirasi manis…

    Like

  18. rikejokanan said: lagi ketemu feel-nya, Mbak… macet, bete, sumpek, emosi terusik pula, inspirasi manis…

    Smallnote = Agripzzz

    Like

  19. rikejokanan said: no, Mas Mit…

    no, you didn’t read my comment carefully… 🙂

    Like

  20. agripzzz said: Smallnote = Agripzzz

    ya ampunnnn… orangnya satu, namanya sak ndayak. ok, Agripzzz=Smallnote. Smallnote=Agripzzz. dikopi 🙂

    Like

  21. demitmp said: no, you didn’t read my comment carefully… 🙂

    he he he… got it. should be Bahawa Jasa ha ha ha…

    Like

  22. rikejokanan said: he he he… got it. should be Bahawa Jasa ha ha ha…

    lol

    Like

  23. jandra22 said: Ada! Saya tau! Itu lagu tahun 77-an waktu saya masih kuliah di PTN di Bandung.

    untung ada Tante Julie yang repertoire tembang lawasnya segudang. makasih, Tante… tahun segitu saya masih balita he he he

    Like

  24. jandra22 said: Ada! Saya tau! Itu lagu tahun 77-an waktu saya masih kuliah di PTN di Bandung.

    dimana pun kita berada… pasti ada aja orang yg suka dan tidak suka sama kita…jangan terlalu dipikirin deeh…mikirin apa pikiran smua orang ke kita, wuiiih… cape deeh… xixixi…biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu… *ceileee… pake pribahasa oiii… kgk kuaaat… xixixi…*

    Like

  25. shandini said: dimana pun kita berada… pasti ada aja orang yg suka dan tidak suka sama kita…jangan terlalu dipikirin deeh…mikirin apa pikiran smua orang ke kita, wuiiih… cape deeh… xixixi…biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu… *ceileee… pake pribahasa oiii… kgk kuaaat… xixixi…*

    betul, Mbak. awalnya cuma merasa “kege-eran” dipandangi tanpa tahu sebabnya. mungkin kalau yang menatap saya itu Mas Keanu Reeves saya malah berpikiran positif ha ha ha…makasih nih masukannya 🙂

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: