BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

BAJU BARU DAN MUKENA BARU DARI MBAK NYO & MBAK CHU

Lebaran sudah dekat. Saya ingat waktu kecil dulu tiap Lebaran saya ribut minta dibelikan baju baru. Sebenarnya itu terjadi hanya sampai kelas empat es de karena sesudahnya saya sudah belajar bahwa baju baru tidak penting. Yang lebih penting adalah baju yang bersih.

Dulu saya dan dua kakak perempuan saya selalu mendapat baju baru menjelang Lebaran. Kami digiring untuk diukur badan di penjahit handal langganan keluarga kami, Mbak Nyo. Mbak Nyo ini adalah salah satu dari dua bersaudara yang berprofesi sebagai penjahit. Mereka adalah peranakan Tionghoa yang menghabiskan hidupnya di tanah air Indonesia ini. Mereka penganut Kong Hu Chu tapi selalu turut merayakan Riyoyo (Lebaran, Bahasa Jawa) bersama kami. Mbak Chu, kakak perempuan Mbak Nyo sering menghantarkan kue-kue kering kepada ibu saya seminggu sebelum Lebaran dan saat mereka memperingati hari besar mereka. Mbak Her, adik terkecil mereka – sekolah bidan saat itu – membantu memberikan sentuhan akhir berupa benik (kancing, Bahasa Jawa) atau sulaman cantik di bagian-bagian tertentu busana kami. Fyi, busana yang mereka buat untuk kami selalu haute couture – one special design for one person one time. Hebat!!!

Berkat Mbak Nyo lah kami tampil rapi dan bersih ditambah lagi elegan memakai baju jahitan Mbak Nyo dan Mbak Chu yang tergolong halus dan mahal di daerah dan jaman kanak-kanak kami. Anak kecil semanis kami memang menjadi manequin hidup yang mempromosikan jahitan mereka.

Ada satu lagi keperluan kami yang lain yaitu mukena. Jaman dulu, mukena gak model-model. Kami menyebutnya mukena blanjuran (one piece, Bahasa Jawa). Warnanya pasti putih dan pasti terbuat dari kain mori (kain yang lazim dipakai untuk membungkus mayat). Mbak Nyo dan Mbak Chu juga yang menangani ini. Mereka membuatkan kami bertiga mukena yang rapi dan berjahit halus. Kata mereka, mereka hanya membuat rukuh (mukena, Bahasa Jawa) untuk Mbak Andri, Mbak Yuda dan Mbak Rike (kami bertiga) tidak untuk orang lain. Orang lain tak bolehi ndandakne (menjahitkan, Bahasa Jawa) baju saja.

“Biar pejabat ndak tak ladeni, Bu. Ndak mau bikin buat sembarang orang. Buat Bu Jokanan thok ae. Ndak mbayar juga ndak papa. Ijoli kaine aja,” kata Mbak Nyo pada ibu saya. (Biar pejabat saya tidak mau melayani, Bu. Tidak mau bikin untuk sembarang orang. Buat Bu Jokanan saja. Tidak dibayar tak apa-apa. Ganti harga kain saja.)

Kalau ingat mereka, saya terharu dan bangga. Di seluruh kecamatan hanya kami bertiga yang memakai mukena bikinan peranakan Tiongkok, dan mereka membuatnya tanpa diminta. Bu Camat (istri Pak Camat), Bu Ndanramil (istri kepala Koramil), Bu Ndansek (istri kepala Polsek), Bu Dokter (istri dokter kecamatan) dab ibu-ibu pejabat lain tidak berhasil sekalipun merayu Mbak Nyo dan Mbak Chu untuk membuatkan mukena yang unik. Sedangkan kami, hanya anak Bu Bidan tapi memakai mukena buatan penjahit kelas satu hue he he he…

Menjelang Lebaran ini, saya teringat kembali keluarga Tiongkok yang sangat baik hati pada kami itu. Koh Chuan, anak tertua di keluarga itu pasti sudah tua sekarang. Koh Chuan ini suka sekali memetikkan jambu gelas untuk kami setiap kami datang untuk ukur badan. Mbak Nyo dan Mbak Chu mungkin sudah punya anak-anak buah yang karyanya pasti juga sehebat mereka. Mbak Her mungkin sudah menjadi bisan teladan dan disayang masyarakat tempat dia bekerja. Saya merindukan mereka setelah 23 tahun tak bersua.

Mereka adalah tetangga-tetangga yang mulia. Yang tidak takut berbaur dengan kami tapi tetap menunjukkan dignity-nya dengan cara menolak membuatkan sesuatu yang memang hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki keberanian yang serupa.

Saya memandang mukena putih dan blus putih yang diberikan oleh Lala, Isal dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun. Saya sempat kepikir kapan ya saya bisa memakai baju baru dan mukena baru bikinan Mbak Nyo dan Mbak Chu lagi atau at least baju baru dan mukena baru yang dijahit dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih manusia?

Dedicated to all my brothers and sisters of the same kind with Mbak Nyo, Mbak Chu, Mbak Her and Koh Chuan. Let’s live in harmony.

September 20, 2008

8 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: