WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

Winnetou adalah idola masa kecil saya, jaman es de dulu.

Kepala suku Apache ini memberikan inspirasi bagi seorang Rike kecil untuk bersikap outstanding terhadap dirinya sendiri yang selama itu (sebelum membaca komik Old Shatterhand dkk) sebagai seorang pengecut diantara teman-temannya.

Saya termasuk anak yang pemalu dan sedikit bicara waktu kecil walaupun saya termasuk anak yang banyak teman. Biasanya saya akan menjadi pemerhati diantara teman-teman saya yang bicara blah blah blah… lalu saya ikut tertawa terbahak-bahak dengan suara yang membuat teman saya makin kencang tertawa. Tapi ada satu urusan yang teman-teman saya tak punya dan saya punya. Saya berani tampil di depan umum sedangkan teman-teman yang banyak bicara itu hanya sekedar menjadi supporter.

Tak pelak lagi ini berkat Winnetou salah satunya. Winnetou, anak dari Intschu-Tschuna, adalah seorang Indian Apache muda yang berjiwa ksatria yang kemudian “terpaksa” memimpin sukunya setelah ayahnya (dan adiknya, Nscho-tschi) dibantai oleh Santer, bandit tengik tak beradab, pencuri emas kelas kakap (Silakan baca Winnetou I-III, ditambah Winnetou IV lebih ok).

Awalnya saya sangat terkesan dengan si Old Shatterhand karena dia ini bule baik hati yang berbaur dengan suku asli di Amrik sana. Dia bagaikan pahlawan bagi saya; terbayang bagaimana dia menyelamatkan seorang anak Indian ketika kampungnya diserbu suku lain yang sedang terbakar emosi. Keahliannya menembak membuat saya terbuai dengan mimpi “bule keren”. Namun setelah membaca ulang komik lecek karena saking seringnya menjadi rebutan Mbak Andri, Mas Herin, Mbak Yuda, saya dan teman-teman mereka, saya lebih terkesan dengan pribadi Winnetou karena kebijakannya dan keterbukaan alam pikirnya terhadap Old Shatterhand tersebut.

Bagi saya pikiran terbuka sangat penting, jauh lebih penting daripada kepandaian itu sendiri. Banyak orang pandai yang terjengkang oleh jaman karena tak mampu mengulas kemajuan dan perubahan dengan alam pikirnya yang jumut. (Saya sendiri tidak pintar dan masih tertutup ha ha ha…)

Winnetou membiarkan jiwanya direngkuh semesta. Dia menjadi Indian yang saleh karena dia mampu menjaga tradisi Indian-nya dan sekaligus memahami “kesalehan baru” yang dibawa oleh kawan Old Shatterhand itu. Old Shatterhand menganggap bahwa Winnetou masuk agamanya (Katolik) karena selama hidupnya Winnetou menjalankan kesalehan hidup yang dapat dipahami secara Katolik dan masyarakat Indian menganggap bahwa Winnetou masih Indian tulen karena tak satupun dari kemuliaan kepala suku mereka itu yang janggal dimata hukum Indian.

Winnetou seperti sebuah ikon moral bagi saya yang kanak-kanak dan tinggal jauh dari kota besar saat itu. Winnetou “mengajari” saya untuk bersahabat dengan alam. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan perbedaan. Winnetou mengajari saya untuk bersahabat dengan ketakutan. Winnetou mengajari saya bersahabat dengan kesabaran. Dan, Winnetou mengajari saya bersahabat dengan cinta kasih. Winnetou mengajari saya tentang keterbukaan dan prinsip budaya. Winnetou mengajari saya tentang arti persahabatan. Winnetou mengajari saya bagaimana menemukan emas berkilauan di diri sendiri maupun orang lain.

Winnetou lebih saya kenal daripada saudara saya. Winnetou lebih saya kenal daripada orang tua saya. Winnetou lebih saya kenal daripada guru agama saya. Sempat saya meraskan de javu ketika kuliah dan tinggal di asrama putri lantaran Mbak Aminah Lubis and the gang memanggil saya dengan “Hey you, Indian muslim!”.

Oalah Winnetou, seandainya saya ketemu kau orang, pasti kamu tak taksir habis-habisan. Saya mau kamu ngajari saya naik kuda. Saya mau kamu ngajari saya memanah, berburu kelinci dan menggiring kuda liar. Winnetou sempat menjadi pacar bayangan sebelum akhirnya saya mendapatkan pacar
beneran.
J

Terima kasih Winnetou yang telah tercipta karena adanya Pak Karl May, penulisnya si orang Jerman yang katanya sakit jiwa itu. Terima kasih pada Allah yang telah menciptakan Pak Karl May yang katanya sakit jiwa itu. Orang sakit jiwa kok bisa “mencipta” pribadi sekelas Winnetou. Kata sakit jiwa itu pasti hanya karena mereka tak mampu menjelaskan fenomena.

Revised on September 20, 2008

10 thoughts on “WINNETOU, SI PACAR BAYANGAN

  1. lainnya said: hehehe……… keren juga ya kalo ada Winnetou beneran di sini, apalagi bisa jadi pacar mbak Rike beneran……….. assiikkk….

    walah, aku mau banget. bisa-bisa yang sekarang disebelahku tak jadikan alternatif saja ha ha ha…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s