October 3, 2008
rike jokanan

8 comments

UDAN SALAH MONGSO (hujan salah musim)

UDAN SALAH MONGSO

(hujan salah musim)

Keluar dari kantor, saya merasakan titik-titik air langit menusuki kulit saya. Hujan rintik-rintik. Teman saya segera mengembangkan payung ungunya. Saya sendiri masih merasa aman karena saya menyangka hujan tak akan membesar. Asal kerudung saya masih protektif, biasanya saya tak membuka payung biru bertabur gambar hati kesayangan saya.

Saya dan teman saya segera masuk kendaraan umum yang telah setia menanti kami menyeberangi jalan yang tiap petang selalu disesaki kendaraan bermotor yang membawa tuannya kembali ke wismanya masing-masing. Sang hujan merindui tanah rupanya. Tetesan air membesar dan jadilah hujan deras sementara kami masih di angkutan menuju terminal. Kok hujan begini sih…, gerutu banyak orang di metromini.

Turun di depan terminal Blok M, genangan air menutupi sepatu kets saya dan merembesi bluejeans saya. Kerudung dan punggung saya juga basah pada bagian tertentu terkena cipratan air dan karena tampias air hujan yang meluncur di payung. Hujan ini tak selayaknya tiba pada bulan-bulan ini. Udan salah mongso, kata penduduk Jawa. Hujan yang datang tak tepat waktunya.

Saya ingat tadi siang ketika kami sedang berbincang santai ngomongin orang. Oalah, Ramadhan kok ngomongin orang ya? Lha, habis mau ngomongin apa kalau nggak ngomongin orang? Ngomongin monyet puasa tidak lebih menarik he he he… pendeknya kami sampai pada sebuah topik tentang kepedulian kita kepada Cik Yen yang sering kena macet di daerah Fatmawati setiap berangkat dan pulang kerja.

Sebagian besar kami yang terbiasa positif terhadap sesuatu hanya tertawa-tawa termasuk juga Cik Yen yang santainya melebihi kami ini. Malahan kejengkelannya terhadap lalu lintas kota Jakarta yang sudah di ambang “membahayakan mental” tersebut dia kemas dalam bentuk yang sangat konyol. Kami bukannya bersedih malah ngeledekin dia. Seperti biasa dia hanya tertawa dan makin gila kekonyolannya.

Namun diantara kegirangan kami ini, tiba-tiba sebentuk lontaran kata melintasi gendang telinga kami…

“Ya ampun, Yen. Kasihan banget sih kamu kalau tiap hari kamu kayak gitu? Aduh, aduh… Kasihan. Terus gimana kamunya? Kasihan ya…” Nada suaranya diiba-ibakan seakan sedang berbicara pada pengemis pincang yang malang.

Keceriaan kami tiba-tiba lenyap karena nada sedih tapi garing dan terkesan meremehkan yang dihembuskan oleh seseorang yang memang punya karakter “pemadam percakapan”. Beliau ini amat sangat sering sekali membuat percakapan yang gayeng menjadi stuck alias macet karena:

  1. Komentar yang selalu merujuk kepada superioritas beliau. Pokoknya dia merasa nggak pernah ada cacatnya deeeeh…
  2. Komentar yang memojokkan orang lain. Pokoknya dia merasa nggak pernah ada cacatnya deeeeh…
  3. Komentar yang sangat sarat dengan istilah ilmiah tapi sama sekali tak membuat diskusi berkembang. Pokoknya ilmu dia paling selangit deeeeh…
  4. Komentar yang tak diharapkan dalam bentuk apapun. Pokoknya dia tahu segalanya deeeeh…

Hujan senja ini mengingatkan saya bahwa ada sebuah kenyataan yang datangnya tidak diharapkan pada saat tertentu dan justru dia datang membawa dampak yang sangat tak diharapkan pula. Tak heran ada beberapa teman yang secara rahasia membisiki saya bahwa orang seperti ini dikategorikan sebagai megalomaniac. Dan, malangnya justru dia tak pernah menyadari itu.

Kembali pada udan salah mongso. Tah
u tidak, gara-gara hujan salah mongso itu:

  1. Banyak orang kehujanan karena belum siap payung.
  2. Banyak orang tak siap kostum yang tepat untuk musim hujan.
  3. Saya pribadi kedinginan dan masuk angin karena saya memakai kets yang bahannya tak kedap air. Selain itu, kaki saya gatal-gatal karena kaos kaki basah.
  4. Hati rasanya kesal.

Seperti hujan senja kemarin, komentar teman kami ini sejatinya semacam udan salah mongso; komentarnya tidak pada tempatnya. Komentarnya tak tepat waktu. Bahkan mungkin memang komentar itu tak layak ucap sama sekali.

Sungguh saya telah menjadi pendengar yang menyimak kata-katanya. Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni. Tidakkah asumsinya itu membuatnya lelah berpacu dengan kenyataan yang kadang sama sekali diluar kesanggupannya? Tidakkah dia menyadari bahwa keengganan kerap kali menerpa teman-temannya bukan karena rasa sungkan atau hormat melainkan lebih kepada ketakpedulian dan olok-olok murni saja? Tahukah dia bahwa terselip rasa muak di tiap sudut hati tiap tetangganya?

Ya, semoga udan salah mongso ini tak kami alami terus menerus kecuali Allah memang ingin kami kebal kepada segala musim; atau bisa jadi Allah memang membiarkan hujan itu turun sebagai “kecelakaan berkah” sehingga kami yang tak punya hiburan ini bisa mengolok-olok si hujan dan menceritakan kemarahan kami kepada sesama atas hadirnya si udan salah mongso ini.

Wahai Tuhanku, jauhkanlah kami dari sifat udan salah mongso. Amin…

September 24, 2008 – 10:20pm

8 thoughts on “UDAN SALAH MONGSO (hujan salah musim)

  1. Ya sudahlah…………..

    Like

  2. terim kasih tulisannya…salam,i dan i

    Like

  3. rikejokanan said: Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni.

    Sungguh sayapun tak mengerti bagaimana seseorang kok sampai mau-maunya masuk ke dalam telek (intelek) padahal kotor, bau dan hiiiii jijay!! Wekekekekek…..Peace ah!!

    Like

  4. rikejokanan said: Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni.

    to Mas Demittarix jabrixxx 🙂

    Like

  5. rikejokanan said: Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni.

    to Agripzzz my ponho oh, sudah blalu he he

    Like

  6. rikejokanan said: Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni.

    to indonesiabertindakterima kasih kembali. semoga menghibur dan bermanfaat.salam

    Like

  7. rikejokanan said: Sungguh saya kadang tak habis pikir bagaimana seorang intelek sanggup membiarkan dirinya bertahun menjadi penguasa di istana tak berpenghuni.

    to Bunda Bundelnah, mungkin menurut dia teleknya wangi wikikikikik

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: