Sungguh tak mudah menguntai kata-kata
Karena engkau tak terlukiskan
Tak mudah menggambarkanmu
Karena kau jauh lebih indah dari gambaran
Tak mudah memujimu
Karena tak ada kosa kata yang memadai
Tak mudah terharu karenamu
Karena air mataku telah tercurah olehmu
Tak mudah berterima kasih padamu
Karena budiku tak berarti bagi jasamu
Tak mudah, Ibuku
Kau telah lakukan apa yang kau bisa
Sebisa yang engkau mampu
Semampumu walau sungguh kadang kau tak mau
Tak mau surut
Tak mau mundur
Merengkuh dengan kasih yang kau terjemahkan dalam lelakumu
Menyirami kami dengan keterbatasan kasih yang luasnya tak tertampung samudera
Kau telah melakukannya
Dengan upaya berawalan “segala daya”
Kau bidadariku
Kau…
Ibuku,
Bagaimana kubisa membencimu
Kalau ternyata kau tambatan tali pusatku
Bagaimana kubisa mengabaikanmu
Kalau ternyata kutumbuh oleh darah dan air susumu
Bagaimana kubisa melupakanmu
Kalau a ternyata engkau cetakan ragaku
Bagaimana bisa kutempatkan kau setelah mereka
Kalau ternyata kau tak pernah melepasku dari keprihatinanmu
Bagaimana bisa?
Kalau ternyata kaulah manusia yang sanggup melakukannya…
Maafkan aku
Yang acap kali mengatakan “Ah!”
Maafkan aku
Yang berulang kali ngambek karena petatah-petitihmu
Maafkan aku
Yang tak bosan mengguruimu dengan ilmu mudaku
Maafkan aku
Yang seakan jauh lebih berjasa padamu
Maafkan aku
Yang akan banyak tak menuruti saranmu
Aku hanya tak mampu, bukan tak mau
Ibuku,
Kecantikanmu berbatas usia tapi…
Kesetiaanmu seperti matahari
Pengabdianmu seperti nabi pada Tuhannya
Kekuatanmu seperti tetesan air
Ketabahanmu seperti kerang yang mengulum arang menjadi mutiara
Kelembutanmu seperti sutera China
Kesabaranmu bagai aliran sungai ke laut
Ibuku…
Sungguh tak mudah menggambarkanmu
Hanya Tuhan yang membalas jasamu
Telah disiapkan kebahagiaan tak terhingga untukmu
Ibuku hari ini, ulang tahunmu
64 tahun kau merangkum musim
Selama itu pula kau menangguk ilmu
Selama itu pula kau kibaskan segala halangan
Kau terpilih
Kau terpindai
Menjadi yang diberkahi
Menjadi yang disucikan
Kau menjadi manusia mumpuni
Lewat segala sungkur, tangis dan pilumu
Lewat segala lagu, senyum dan tawamu
Selamat ulang tahun, Ibuku…
Aku menyayangimu.
Prepared on October 8, 2008 – 11:57pm
wah, sehati tenan kita ini. tadi aku juga hampir nulis bahwa kesetiaan ibu itu seperti petani menemani tanaman yang disemainya tapi batal mbuh kenapa. jebule wis diparingke njenengan karo Gusti Allah.gak papa, topik ibu ki ora habis-habis juga lho. ayo diposting kono puisi buat Binar. kapan-kapan nggawe geguritan alias puisi Jowo.nah looo, nantang lageeee ha ha ha ha
LikeLike
mbak, aku jane yo duwe puisi nggo binar pas lara dhek lebaran..ini mengapa aku pas lebaran nggak posting2..binar semaleman begadang n muntah panas nggigil..paginya aku ke pediatric center..dijalan aku nulis puisiku di HP..mungkin begitulah kesetiaan ibu..bagai burung2 yang menunggui panen musim berikutnya datang lagi..setia dan tak berhenti berharap..panen kali ini tak gagal lagi..*lho, iki ngobrol ibu opo petani..dadi ambigu ik..
LikeLike