AKU INGIN (kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

AKU INGIN

(kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

AKU INGIN

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lebih menikmati menulis puisi daripada bentuk lainnya. Atau paling tidak kalaupun ada genre lain, tetap puisi yang saya share dengan orang lain. Saya hanya merasa puisi membuat saya lebih total berekspresi. Saya mempunyai ruang yang sangat luas untuk mengeksplor emosi saya dengan permainan kata-kata entah dipahami sebagai belati bermata dua atau kata-kata bersayap. Saya hanya ingin mengeluarkan apa yang sedang saya nikmati jauh di lubuk hati saya. J

Puisi Aku Ingin diatas muncul beberapa minggu terakhir dan kembali mengeruhkan secawan air yang telah sempat memjernih beberapa saat, siap untuk diminum. Apalagi setelah seorang MP-er nge-posting puisi ini beserta musikalisasinya; saya merasa air dalam cawan itu tak akan pernah saya minum. Akan saya pandangi sampai puisi berjudul Aku Ingin di dalamnya kembali mengendap.

Jika kemudian air berubah bening, puisi Aku Ingin itu akan terus berada di cawan hati. Dikala haus, kutuang cairan yang kuingini: air atau anggur lalu kulihat puisimu bertebaran dalam adukannya kemudian berputar berpusar mengendap mendiami dasar cawan hatiku. Baru kureguk sebagai pelepas dahaga. Aku Ingin telah menjelma obat disaat kusakit, racun disaat kusehat. Aku Ingin akan tetap di tempatnya hingga benar-benar tiada.

Sebegitu hebat Bapak Sapardi melambangkan kekuatan cinta. Bagai kayu kepada api; sebegitu pasrahnya sang kayu hingga terbakar habis pun tak mengeluh. Dibuatnya sang api menari ditup bayu hingga dia sendiri habis menjadi abu. Tidak kah romantis… Abu itu hanya perubahan wujud, tak ada esensi yang berubah; hanya perubahan massa, tak ada energi yang bener-bener musnah. Ku telah menjadi kayu yang terbakar api. Ku telah terbakar cinta dan menunggu fase abu, ditebar di lautan dengan atau tanpa upacara.

Lalu awan hanya mewujud sekejap dan tiba-tiba turun hujan tanpa ada pamitan air kepada mendung. Pernahkah mendung menyeru air untuk mengempiskannya? Hujan turun tanpa aba-aba; seperti juga cinta yang tak perlu kriteria. Mendung hanya perlu kehilangan warna; dari hitam menjadi biru semburat putih gemilang pertanda keikhlasan yang tak terukur membebaskan cintanya mengembara untuk suatu saat nanti berkumpul kembali dalam jalinan yaang tak terdefinisikan. Mana hujan ketika dia bersama mendung?

Apa yang telah api lakukan kepada kayu? Menghabiskannya.

Apa yang telah hujan lakukan kepada awan? Meniadakannya.

Kayu habis, api mati.

Mendung sirna, hujan reda.

Dimanakah cinta?

Pada api dan hujan?

Atau pada kayu dan awan?

Atau tidak pada keduanya?

Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.

Yang tak membuatku merasa ditiadakan walaupun telah dihabiskan.

Yang tak membuatku merasa diabaikan walaupun telah ditiadakan.

Cinta yang sempurna adalah cinta yang sederhana.

Bagai cinta seorang kekasih kepada Kekasihnya.

Bagai cinta seorang kekasih kepada kekasihnya.

October 31, 2008 – 12:12am

31 thoughts on “AKU INGIN (kepada para kekasih yang mencintai kekasihnya)

  1. bambangpriantono said: aku jadi ingat sesuatutahun 20an juga era kesederhanaan dalam berbusana, sampai2 para pendukung fashion Victorian kelabakan menghadapinya

    yes, mereka juga dilanda munculnya feminis awal tuh termasuk 3 bersaudari favoritku: Charlotte Bronte, Emily Bronte & Anne Brote. kesederhanaan malah menjadi masalah bagi sebagian orang.

    Like

  2. agripzzz said: Puisi itu pernah kuposting di blog sebelah…Sapardi punya selera kata-kata sendiri

    ho oh, ngalir kayak cerita. aku suka pon. sangking terkesannya dengan puisi ini, aku apal diluar kepala dan sanggup membacanya berkali-kali dalam diam seperti dzikir ha ha ha…*GILA MODE ON*

    Like

  3. rikejokanan said: ho oh, ngalir kayak cerita. aku suka pon. sangking terkesannya dengan puisi ini, aku apal diluar kepala dan sanggup membacanya berkali-kali dalam diam seperti dzikir ha ha ha…

    Aku sih AFRIKA SELATAN – Subagio SastrowardoyoHapallllll……..Kristus pengasih putih wajah-kulihat dalam Injil bergambardan arca – arca gereja dari marmar-Orang putih bersorak : “Hosannah!”dan ramai berarak ke surgaTapi kulitku hitamDan sorga bukan tempatku berdiamBumi hitamIblis hitamDosa hitamKarena itu:Aku bumi lataAku iblis laknatAku dosa melekatAku sampah di tengah jalanMereka membuat rel dan sepurhotel dan kapal terbangMereka membuat sekolah dan kantor posgereja dan restoranTapi tidak buatkuTidak buatkuDiamku di batu – batu pinggir kotadi gubug – gubug penuh nyamukdi rawa – rawa berasapMereka boleh memburuMereka boleh membakarMereka boleh menembakTetapi istriku terus berbiakseperti rumput di pekarangan merekaseperti lumut di tembok merekaseperti cendawan di roti merekaSebab bumi hitam milik kamiTambang intan milik kamiGunung Natal milik kamiMereka boleh membunuhMereka boleh membunuhMereka boleh membunuhSebab mereka kulit putihdan Kristus pengasih putih wajah-Banyak pengulangan makanya jadi hapal…

    Like

  4. agripzzz said: -Banyak pengulangan makanya jadi hapal…

    great, great, great… aku belum pernah hapal puisi sepanjang itu. kalau boleh dibilang puisi terpanjang yang kuhapal cuma sura-surat dalam kitab tuaku.udah tua pon, otakku udah berkarat *mengkerut minder MODE ON*

    Like

  5. agripzzz said: Puisinya mana? Liat dong

    puisinya judulnya “Sang Pengasih”.terdiri dari 78 baris pokok, ada sebuah kalimat yang diulang-ulang yang artinya “Maka yang mana satu diantara nikmat Tuhanmu, yang kamu hendak dustakan?”sangat indah, sangat menyentuh dan terlalu panjang untuk di-posting disini. ntar tak posting di lain waktu aja ya sayangku hi hi…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s