November 17, 2008
rike jokanan

24 comments

BERKILO-KILO

BERKILO-KILO

Hidup tanpa beban masalah bagai sayur tanpa ampas. Bayangkan jika sup Anda hanya berupa kaldu berasa ayam dan bumbu tanpa ada sayur-mayur atau bahan lain mengambang dan/atau menyelam didalamnya. Alangkah lezat tapi tidak enaknya.

Kalau boleh berumpama, kadang hidup terasa mengantongi berkilo-kilo besi dalam perjalanan panjang. Ingin rasanya mengeluarkan semua tumpukan besi itu dan berjalan lempang ke arah terang namun apa daya berkilo-kilo besi itu memang bagian hidup.

Sempat saya berkhayal bagaimana seandainya disuruh mendukung kapas saja. Alangkah ringannya. Alangkah cepatnya perjalanan mencapai tujuan.

Siapa yang tak mau hidupnya enteng? Siapa yang tak mau bebannya diringankan? Siapa yang tak mau perjalanannya singkat dan lancar? Insya Allah, semua tak bakal menolak.

Tapi, segera kembali pikiran ini menggeletar. Berkilo-kilo besi di saku. Berkilo-kilo kapas di punggung. Mana yang mesti dipilih?

Sekarang saya merasa sedang menanggung berkilo-kilo besi di sekujur tubuh sembari mendamba menjadikan besi itu kapas saja. Rupanya saya telah berpikir tentang hal bodoh secara bodoh. Saya telah teken kontrak dengan kehidupan ini bahwa saya akan menanggung sekian kilo beban. Apapun beban itu berupa, beratnya pasti sesuai dengan kesanggupan yang saya tandatangani, sesuai dengan peran dan pilihan-pilihan yang saya tentukan.

Alangkah bodohnya saya. Apa bedanya berkilo-kilo besi dan berkilo-kilo kapas jika ternyata beratnya sama. Bahkan menurut saya berkilo-kilo besi jauh lebih ringkes (tak makan tempat, bahasa Jawa) daripada berkilo-kilo kapas yang pasti jauh lebih rowa (memakan tempat, Bahasa Jawa).

Apa jadinya kalau mesti mendukung berkilo-kilo kapas di punggung? Sudah lah berat, makan tempat pula.

Berarti menanggung berkilo-kilo besi ini jauh lebih patut disyukuri daripada mengharap kapas dengan berat yang sama.

Ah, namanya juga manusia. Maklum kalau angan-angannya sungguh tinggi walaupun kenyataannya apa yang dimilikinya telah pas dengan status dan posisinya.

Nggak ada pilihan lain kecuali nikmati saja. Ayo bersyukur yuuuk…

November 17, 2008

8:39pm

24 thoughts on “BERKILO-KILO

  1. rikejokanan said: Ayo bersyukur yuuuk…

    Ini yang sulit…

    Like

  2. rikejokanan said: Ayo bersyukur yuuuk…

    hayuuuk 🙂

    Like

  3. rikejokanan said: Ayo bersyukur yuuuk…

    bersyukur ditengah beban berat yang sedang dipikul ?hmmm..doain aq bisa ya mbak

    Like

  4. smallnote said: Ini yang sulit…

    mau nggak mauuu…

    Like

  5. dewiekha said: bersyukur ditengah beban berat yang sedang dipikul ?hmmm..doain aq bisa ya mbak

    aku juga minta doanya. doa dan bersyukur bersama…

    Like

  6. dewiekha said: bersyukur ditengah beban berat yang sedang dipikul ?hmmm..doain aq bisa ya mbak

    MENJADI IKHLAS MENANGGUNG SEGALA BEBAN? HAYO, SIAPA TAKUT!

    Like

  7. dewiekha said: bersyukur ditengah beban berat yang sedang dipikul ?hmmm..doain aq bisa ya mbak

    semangat! ga bakal seru perjuangannya kalo kiloannya enteng… 😀

    Like

  8. bundel said: MENJADI IKHLAS MENANGGUNG SEGALA BEBAN? HAYO, SIAPA TAKUT!

    kula nyuwun dipun ajari, Tante 🙂

    Like

  9. atiggna said: semangat! ga bakal seru perjuangannya kalo kiloannya enteng… 😀

    wadaaah… ini pasti biasa angkat beban ha ha ha…

    Like

  10. atiggna said: semangat! ga bakal seru perjuangannya kalo kiloannya enteng… 😀

    saya nitip berkilo2 krupuk mbak..kayaknya bisa makan tempat sekamar tuh..

    Like

  11. shafa2hilman said: saya nitip berkilo2 krupuk mbak..kayaknya bisa makan tempat sekamar tuh..

    makasih titipannya. ntar aku buka kios krupuk sambel he he he…

    Like

  12. shafa2hilman said: saya nitip berkilo2 krupuk mbak..kayaknya bisa makan tempat sekamar tuh..

    mBak Rikee, koq lum bobok sih..?

    Like

  13. ohtrie said: mBak Rikee, koq lum bobok sih..?

    kancilen je…

    Like

  14. rikejokanan said: kancilen je…

    halah lha aqu malah timunen iki lho mBak…:)

    Like

  15. rikejokanan said: kancilen je…

    jadi inget pelajaran esde dulu.. mana y lebih berat besi atau kapas? ;)tapi jauh lebih berat masalah kehidupan yang paling ringan tanpa rasa ikhlas dan syukur…yukkkk, belajar yukkk…TFS yaa te’ sayang 😉

    Like

  16. ohtrie said: halah lha aqu malah timunen iki lho mBak…:)

    nah iki aku wis nang sawah macul meneh, Mas!

    Like

  17. chrisdianty said: jadi inget pelajaran esde dulu.. mana y lebih berat besi atau kapas? ;)tapi jauh lebih berat masalah kehidupan yang paling ringan tanpa rasa ikhlas dan syukur…yukkkk, belajar yukkk…TFS yaa te’ sayang 😉

    kalau dilihat materinya semua milih kapas tapi begitu tahu beratnya sama ternyata sama saja he he he…sama-sama, kembar…

    Like

  18. chrisdianty said: jadi inget pelajaran esde dulu.. mana y lebih berat besi atau kapas? ;)tapi jauh lebih berat masalah kehidupan yang paling ringan tanpa rasa ikhlas dan syukur…yukkkk, belajar yukkk…TFS yaa te’ sayang 😉

    Hasil perenungan, Rieke?

    Like

  19. chrisdianty said: jadi inget pelajaran esde dulu.. mana y lebih berat besi atau kapas? ;)tapi jauh lebih berat masalah kehidupan yang paling ringan tanpa rasa ikhlas dan syukur…yukkkk, belajar yukkk…TFS yaa te’ sayang 😉

    ya bersyukur. memang kadang syukur itu datangnya belakangan.lebih baik terlambat dari pada kufur ya ms rike? huahaha

    Like

  20. ferryzanzad said: Hasil perenungan, Rieke?

    betul sekali, Mas.

    Like

  21. dhanuh said: ya bersyukur. memang kadang syukur itu datangnya belakangan.lebih baik terlambat dari pada kufur ya ms rike? huahaha

    tapi datangnya mesti diundang le soalnya Pak Syukur ini tamu terhormat he he he…

    Like

  22. dhanuh said: ya bersyukur. memang kadang syukur itu datangnya belakangan.lebih baik terlambat dari pada kufur ya ms rike? huahaha

    yah mudah2an pak syukur mang bener-benar tamu terhormat yg patut dihormati, bukan orang yang gila hormat padahal nggak terhormat kayak kebanyakan pemimpin negeri ini.hualah… *ra nyambung mode on*

    Like

  23. dhanuh said: yah mudah2an pak syukur mang bener-benar tamu terhormat yg patut dihormati, bukan orang yang gila hormat padahal nggak terhormat kayak kebanyakan pemimpin negeri ini.hualah… *ra nyambung mode on*

    iya, gak nyambung. gegar otak gara-gara tabrakan kali…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: