January 24, 2009
rike jokanan

13 comments

IDENTITAS WANITA

IDENTITAS IMPIAN SAYA SEBAGAI WANITA

Ngobrol dengan seorang teman membuat saya makin menyadari bahwa kehilangan diri sendiri adalah kehilangan terbesar bagi manusia yang merdeka.

Kehilangan diri sendiri? Ungkapan apa lagi ini?

Saya mengenal seorang wanita. Saya belum pernah bertemu langsung karena memang saya mengenalnya dari postingan-postingan beliau di Multiply ini. Saya mereka-reka sendiri stgatus beliau ini dan berkesimpulanlah saya bahwa wanita ini seusia saya, pendatang dari “Jawa”, ceria dan mandiri; dan yang terpenting adalah bahwa dia wanita single.

Ternyata saya benar kecuali tentang satu hal: bahwa dia lajang. Wanita ini seorang ibu bagi tiga orang anak yang lucu-lucu dan pasti sangat potensial untuk membuat orang tuanya selalu bahagia dan bangga. Anake ki jan lucu-lucu poool….

Apa yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau single?

Bukan semata-mata bahwa penampilan beliau sangat ngenomi (bahasa Jawa: kelihatan/terkesan muda). Bukan! Tetapi lebih karena curhat dan tulisan beliau yang jika saya selami lebih seperti ide dan opini seorang wanita yang tidak mewakili siapapun di belakangnya.

Wanita ini begitu independen. Beliau tidak pernah (paling tidak belum pernah sampai saat ini) mengatasnamakan pengalamannya sebagai seorang ibu untuk mengomentari sesuatu. Beliau juga belum pernah membuat postingan tentang putra-putrinya seperti yang biasanya dilakukan oleh (maaf kalau istilah berikut kurang berkenan) emak-emak yang biasanya ngomongin anak-anaknya he he he…

Begitu saya sempat mendapat kesempatan berbincang dengan beliau, saya terkesima dengan hasil “wawancanda” saya. Beliau begitu lugas dan merdeka menyuarakan opini dan idenya tentang bagaimana menjalani hidupnya sebagai wanita yang merangkap status istri, ibu, karyawan dan sebagai seorang makhluk individu.

Saya segera menyuarakan kejujuran saya bahwa kalau kelak saya menjadi seorang istri dan ibu, saya tetap memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menulis seperti ketika saya masih lajang. Saya berharap bahwa tugas saya sebagai seorang istri tidak membuat saya kehilangan identitas saya sebagai seorang pribadi. Saya ingin tetap dipanggil Rike walaupun nama belakang saya sudah bukan nama bapak saya. Saya tidak mau dipanggil – misalnya – Mama Loren hanya karena nama anak saya Loren atau dipanggil – misalnya – Ummu Hafiz karena nama anak saya Hafiz.

Saya ingin tetap mempertahankan saya sebagai seorang pribadi yang tak terlalu risau dengan hadirnya anak-anak saya sehingga saya harus selalu mengatasnamakan mereka dalam berbuat. Saya akan tetap menimang mereka tanpa harus khawatir orang-orang tidak tahu bahwa saya menimang mereka. Saya akan tetap menampilkan saya sebagai pribadi tanpa takut terhadap komentar “Halah, ABG” atau “Kayak masih lajang aja” atau “Kok nggak keibuan gitu sih”. Biar… Saya akan menjadi modified Rike tanpa kehilangan jati diri saya.

Kalau saya harus bisa menjaga privasi pasangan saya asalkan dia tidak mengabaikan dan menduakan saya, mengapa dia tidak? Kalau saya memberikan kebebasan yang bertanggung jawab terhadap anak-anak saya, mengapa mereka tidak memberikan kebebasan yang bertanggungjawab terhadap saya tanpa menghargai status saya ibu mereka?

Saya jadi ingat kata-kata seorang wanita yang “tiba-tiba” harus menjadi ibu setelah hanya selama 12 bulan sempat menjadi istri seorang lelaki.

“Rike, kamu nikmati sebaik-baiknya masa lajang kamu. Ambil hikmah bahwa belum menikahnya kamu adalah sebuah tenggang yang diberikan supaya kamu bisa berbuat lebih banyak. Perkuat karakter supaya kamu nggak menyesal nanti. Aku merasa waktu dan perhatianku tersedot oleh keberadaan suami dan anakku. Bukannya aku tidak bahagia; aku hanya merasa ba
hwa ketika masih single aku kurang mengembangkan diri sehingga sekarang aku nggak punya identitas sendiri. Aku harus menjadi Mama Rama atau Nyonya Yusuf dan dikenal sebagai Meutia hanya ketika di kantor. Bahkan mamaku sendiri mengenalku sebagai istrinya Mas Yusuf atau mamanya Rama bukan lagi sebagai anak yang pengen dimanja juga. Sebel ihhh… Petik pelajaran dariku ya, Rike sayang,” kata Meutia, sahabat saya.

Malam Minggu ini sungguh mengesankan buat saya. Mungkin saya tidak bisa mengungkapkan ide tentang identitas ini dengan baik kepada Anda sekalian tapi saya harap Sahabat sekalian tidak berpikiran bahwa saya menganggap ibu yang bangga terhadap putra-putrinya sebagai wanita tanpa identitas. Bukan itu. Saya hanya ingin tetap menyadarai bahwa Rike selalu ada diantara kehebohan dunia keluarga yang akan menghiasinya.

Hidup ini penuh dengan jalan untuk mengekspresikan keberadaan diri masing-masing. Saya menghargai semua Sahabat yang membuat saya tak berhenti bersyukur dengan segala kekurangan yang saya pahami.

Terima kasih, Mbak Dewi…

Catatan: Nama yang digaris-bawah adalah nama samaran.

January 24, 2009 – 1,03am

13 thoughts on “IDENTITAS WANITA

  1. Well, it is fair enough your idea. At present moment you might think I am gonna do this and that when I am married, but sometimes people might change their mind because of so many things that might happen in the future. So please be open minded and take one step at a time. And I hope you will get everything that you wish for. Take care and keep in touch.

    Like

  2. aslisurabaya said: Well, it is fair enough your idea. At present moment you might think I am gonna do this and that when I am married, but sometimes people might change their mind because of so many things that might happen in the future. So please be open minded and take one step at a time. And I hope you will get everything that you wish for. Take care and keep in touch.

    sure, Mbak Er. I am an open-minded person and (am always making effort) to be one for good. maybe, i will change someday when things go to certain direction. but at least i now can see that some women can’t enjoy their being mom by being independent at the same time.this morning i wantched one Oprah’s show and one mother said sadly that she could not really enjoy loving her daughter when actually she didn’t really appreciate her own identity-as-an-individual-creature. and, she finally could recover and loves her daughter more meaningfully by appreciating her self-existence.thanks for your encouragement. will miss your companionship here,Mbak Er.

    Like

  3. aslisurabaya said: Well, it is fair enough your idea. At present moment you might think I am gonna do this and that when I am married, but sometimes people might change their mind because of so many things that might happen in the future. So please be open minded and take one step at a time. And I hope you will get everything that you wish for. Take care and keep in touch.

    Jangan lupa mampir kalau ke scotland . Who knows oneday.

    Like

  4. aslisurabaya said: Jangan lupa mampir kalau ke scotland . Who knows oneday.

    kalau ada kesempatan kesana, aku usahakan sekuat tenaga mampir kesana. mau inspeksi perkebunan anggrekmu, Mbak Er he he…nanti masak Scotland specalty buat aku ya.

    Like

  5. aslisurabaya said: Jangan lupa mampir kalau ke scotland . Who knows oneday.

    ok dont worry. take care

    Like

  6. aslisurabaya said: Jangan lupa mampir kalau ke scotland . Who knows oneday.

    Perenungan seorang Rieke. Femininism tanpa melampaui batas.Betul seperti itu, Rieke?

    Like

  7. aslisurabaya said: Jangan lupa mampir kalau ke scotland . Who knows oneday.

    Tinggal menanti nama baru “Rike ……………………..”Hahahaha…

    Like

  8. aslisurabaya said: Jangan lupa mampir kalau ke scotland . Who knows oneday.

    huahahaha…welcome to the club!! baca disini mbak http://dew1ekha.multiply.com/journal/item/39/be_a_mother_be_a_wife

    Like

  9. aslisurabaya said: ok dont worry. take care

    sure. thanks, Mbak Er.

    Like

  10. ferryzanzad said: Perenungan seorang Rieke. Femininism tanpa melampaui batas.Betul seperti itu, Rieke?

    benar, Mas Ferry. insya Allah, semoga tetap terjaga. amiiin…

    Like

  11. smallnote said: Tinggal menanti nama baru “Rike ……………………..”Hahahaha…

    siiip…. ntar tinggal kirim undangan ke kamu. hang pao na lai laaaah…

    Like

  12. dew1ekha said: huahahaha…welcome to the club!! baca disini mbak http://dew1ekha.multiply.com/journal/item/39/be_a_mother_be_a_wife

    nah… ini dia sumber inspirasi tulisan ini. matur nuwuuuun…. segera meluncur ke halaman njenengan, Mbak 🙂

    Like

  13. dew1ekha said: huahahaha…welcome to the club!! baca disini mbak http://dew1ekha.multiply.com/journal/item/39/be_a_mother_be_a_wife

    rasanya berat banget perenunganmu ya ke, berat buat aku maksudnya he… he… he… entahlah, perhaps maybe because …. aduh mau ngomong apa ya, aku jadi bingung sendiri….

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: