KAOS KELAS

KAOS KELAS

Seragam

Semua orang akrab dengan kata itu. Tapi berapa orang yang benar-benar sadar bahwa kata itu telah menjadi sebuah sikap hidup untuk sebagian orang. Tak yakin? Mari kita periksa apakah kita ini penganut sikap seragam atau penganut paham tak seragam.

Siapa diantara Anda yang dulu sekolah (TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah) tak memakai seragam. Saya haqqul yaqin orang-orang angkatan saya mengatakan “aku seragaman rek”. Bahkan saya masih inget sepupu saya sekolah di sebuah es em a yang merekomendasikan tas sekolah seragam yang bertuliskan nama es em a-nya. Saya juga memakai seragam saat lomba paduan suara padahal apa urgensinya seragam jika ternyata suara yang dipadu begitu memukau sehingga harusnya menang – para juri paduan suara tutuplah matamu dan dengarkan keindahan suara kami. Saya juga inget di kelas mesti bersikap seragam, belajarlah dengan cara yang saya pakai karena kalau gak ya gak bakal sukses. Saya juga latihan menari memakai sampur (selendang) seragam – semua sampur bermotif jumputan, kalau beda gak enak ati. Belum lagi waktu kuliah ada rekomendasi jas almamater, seragam lagi deh. Ada keikhlasan, kadang kebanggaan tapi di sisi yang tersembunyi ada beban yang membuat saya harus begini dan begitu karena saya berseragam tersebut.

Seragam adalah identitas suatu kelompok. Jas biru gambar Dewa Wisnu nyengklak Garuda adalah jas Universitas Airlangga, jas kuning dengan lambang tertentu punyanya UI, loreng-loreng itu tentara, putih abu-abu anak es em a, jilbab hitam bercadar kemungkinan muslimah salafi, muslimah HT pakai gamis (tidak berlaku sebaliknya secara mutlak), orang NU lelaki sholatnya kalau gak sarungan gak NU, kalau antingnya di hidung artinya kaum punk ingusan, kalau antingnya di lidah anak punk suka pedes, seragam korpri, seragam ini, seragam itu. Itu yang kelihatan mata, belum lagi yang berupa sikap.

Kalau gak seragam maka Anda dianggap tidak tercakup dalam komunitas tersebut atau minimal mbalelo alias renegade. Dan tahu tidak rasanya menjadi kaum melenceng? Merasa terbuang. Jika kuat, dia akan bertahan. Jika tak kuat akan mati atau pindah ke seragam lain – ironis.

Ada sebuah seragam yang membuat saya merasa tak dipaksa berseragam. Namanya kaos kelas. Dua kali punya kaos kelas. Kelas satu es em a: 1-3 dan kelas Fisika-2. Saya ingat sekali seluruh penghuni didaulat untuk membuat desain, sempat ndak sempat nggawea design ya cah ben adil (sempat nggak sempat harus bikin design supaya adil). Kami semua bersemangat karena kami sadar tak ada satu pihak pun yang ingin mendominasi terciptanya kaos kelas tersebut.

Rapat kelas yang kacau balau akhirnya berakhir dengan kemenangan kesepakatan tanpa keterpaksaan dan memilih salah satu dari kami yang paling tahu tentang perkaosan untuk bikin kaos dan bendahara kelas harus nombok demi terakomodirnya ketersediaan kaos sesuai jumlah anggota keluarga. Gak ada yang gak kebagian. Ndak usah sumelang kabeh oleh kaos tapi aja lali mbayare cah (Jangan khawatir semua dapat kaos tapi jangan lpa bayarnya ya teman).

Dalam sebuah sistem yang telah diseragamkan apakah kita boleh membuat pilihan untuk berbeda? Yes, of course. Saya memilih sebuah komunitas kecil yang membuat kemerdekaan saya bertahan lebih lama tanpa harus imun terhadap keseragaman yang mengikat. Saya punya kaos kelas di sekolah saya, saya punya kaos kelas di di luar kampus dan dipakai ketika mengabdi pada masyarakat. Saya punya kaos kelas di kantor lama saya. Saya punya kaos kelas di keluarga saya. Saya punya kaos kelas di masyarakat yang sibuk mau centrang partai mana. Bahkan diluar kelas sya dulu, saya punya kaos kelas. Saya juga punya kaos kelas yang jumlahnya Cuma satu yaitu yang saya pakai sendirian! Saya punya kaos kelas dimanapun saya perlu kemerdekaan!!!

Jika Anda butuh kemerdekaan di dunia yang tak pernah luput dari keseragaman yang mengikat dan kadang mengungkung ini, sebagian manusia mema
ng perlu berpikir tentang membuat KASO KELAS.

Mengenang kaos kelas 1-3 dan Fisika-2 SMA 1 Tulungagung.

March 7, 2009 – 9:28pm

9 thoughts on “KAOS KELAS

  1. smallnote said: *garuk kepala*Hueraaaaaaaaan!!!

    Saya kayaknya termasuk yang berani tampil beda deh. Orang lain pada lari ke FB (termasuk njenengan ya jeng?) saya sih tetap setia di Mp. Jadi apa ya hubungannya dengan Kaos Kelas (eh Kaso Kelas ya, kata kalimat terakhir njenengan di atas?)Apa kabar, sehatkah?

    Like

  2. jandra22 said: Saya kayaknya termasuk yang berani tampil beda deh. Orang lain pada lari ke FB (termasuk njenengan ya jeng?) saya sih tetap setia di Mp. Jadi apa ya hubungannya dengan Kaos Kelas (eh Kaso Kelas ya, kata kalimat terakhir njenengan di atas?)Apa kabar, sehatkah?

    saya sehat aja, Tante.ya, setiap orang harus diakui keunikannya. ada yang kaos kelasnya Multiply saja karena sudah menemukan kenyamanan disini. ada juga yang merasa perlu kaos kelas tambahan Facebook karena ternyata disana ketemu teman lama yang dikangeninya dan tidak ada di MP :-)kalau saya banyak kringet jadi mesti ganti-ganti kaos, Ibu he he he…

    Like

  3. bayutrie said: tanpa kaos kelaspun rasanya aq bisa survive. peduli amat orang bilang apa dan tidak masuk ke dalam kelompok apa. i like being by myself.

    nobody wants to be others, Mbak :-)I appreciate your choice as well as you do mine 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s