SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

Selepas nonton Seven Pounds yang dibintangi oleh Will Smith saya melamun tentang keputusasaan, ketakbergunaan, cinta dan penyesalan. Rasa cinta yang besar membuat Tim (pemeran utama oleh Will Smith) menyesali diri akibat kecelakaan karena kekhilafannya sehingga nyawa istrinya terenggut. Penyesalan yang mendalam tumbuh menjadi rasa bersalah, keputusasaan dan perasaan tak berguna sebagai seorang manusia.

Saya nangis selama menonton karena film-nya memang menggerogoti kesadaran akan rasa tak berguna yang mungkin saja hadir pada manusia entah dalam waktu lama maupun sesaat.

Seberapa banyak waktu yang kita lewatkan untuk orang-orang yang kita cintai sebelum segalanya tak tertolong lantaran sebuah kata sederhana: terlambat.

Tak ada orang yang lebih menyesal karena terlambat kecuali mereka yang pernah terlambat. Saya termasuk salah seorang diantaranya. Saya menyesal karena terlambat melakukan banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan jauh hari sebelum sekarang. Tak ada satu kata pun yang dapat dilakukan kecuali berandai-andai untuk menghentikan penyesalan saya. Tapi ada sebuah resep mujarab yang sedang saya terapkan pada diri sebagai pengganti aksi berandai-andai; sadar bahwa berandai-andai juga tak baik hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah berandai-andai.

Mungkin perlu memaksa diri untuk melakukan segalanya dengan kesadaran. Kesadaran terhadap mengapa saya melakukan sesuatu dan kesadaran untuk apa saya melakukannya. Mengapa saya harus tidur tepat waktunya adalah karena tubuh saya perlu beristirahat sesuai porsi. Dan untuk apa; supaya dia siap untuk melanjutkan kehidupannya.

Tim berpikir bahwa 7 detik kelalaiannya (baca message di PDA saat nyetir) yang berujung kematian istrinya dapat dia tebus dengan menemukan 7 manusia baik dan membagikan karunia tubuh saat tubuhnya mati nanti. Pada Ben (saudara lelakinya) dia berikan sebelah paru-parunya, pada Holly dia donorkan hati kanannya, pada seorang pelatih hockey dia berikan satu ginjalnya, pada seorang anak kecil dia donorkan sumsum tulang belakangnya, pada Connie dia hibahkan seluruh hartanya, pada Ezra dia berikan matanya dan puncaknya pada Emily (pada siapa dia jatuh cinta selanjutnya) dia berikan jantungnya. Tapi sayangnya dia menyiksa tubuhnya dengan jalan bunuh diri supaya 2 orang terakhir itu dapat menerima organ tubuhnya. Mengapa dia melakukan itu dan untuk apa, saya mengerti tapi tak masuk di akal saya.

Selanjutnya apakah kita mesti menguji bahwa orang-orang yang berhak kita bagi karunia adalah orang-orang baik seperti yang dilakukan Tim, lagi-lagi saya tak tahu. Yang membuat saya terkesan adalah bahwa Tim melakukan penyelidikan terhadap pribadi-pribadi tersebut sendiri dan pada saat yang bersamaan rasa sakit akan kehilangan orang yang dicintainya tumbuh makin besar. Jika saya Tim maka saya hanya akan menyesal terus dan makan sebanyak mungkin dan marah pada keadaan tanpa merasa perlu meninggalkan kebajikan untuk orang-orang yang hidup di sekitar saya. Mungkin saya akan merusak diri dan memperburuk keadaan dengan jalan tak mengindahkan apapun yang seharusnya saya perhatikan. Saya hanya akan merutuk kenapa terlambat melakukan ini atau itu tanpa berusaha merelakan bahwa ada kemuliaan lain yang bisa menebus segala bentuk keterlambatan itu.

Saya merenungi Seven Pounds sambil juga bertanya-tanya mengapa ada orang rela mati lalu memberikan apa-apa yang bisa dia berikan kepada orang lain untuk menebus kesalahan yang dia lakukan kepada orang yang lain lagi.

Saya masih bertanya-tanya bisakah saya serela Tim yang menderita untuk kebahagiaan orang lain. Kalau cinta Tim pada almarhum istrinya cukup membuatnya menjadi martyr bagi 7 nama, cinta apa yang mampu membuat saya rela menderita lahir batin seperti itu?

Dedicated to Tim in Seven Pounds dan para martyr yang telah menemukan
cinta sejatinya

March 9, 2009 – 9:32pm

6 thoughts on “SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

  1. bayutrie said: aq terharu banget baca blog dikau ini.dalem banget. jangan2 film ini benar2 sangat dan amat mempengaruhi moodmu sampai sekarang?

    duh, Mbak Bayu ini cuma tulisan seseorang yang sedang belajar membedakan kerilik dan batu.my mood? lagi jumpalitan, Mbak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s