SUKA MENGACA?

SUKA MENGACA?

Jarang mengaca membuat saya pede habis terhadap penampilan saya tanpa berpikir bahwa dandanan ini amburadul atau kurang menarik. Salah satu konsekuensi tidak mengaca adalah saya tidak berani pakai bedak agak banyak, tidak berani pakai kerudung lebih trendy, tidak berani pakai baju modis; karena jika berani melakukannya tanpa cermin, penampilan akan makin amburadul.

Nah, sering saya melihat orang-orang yang bersimpangan jalan atau bertemu muka baik sengaja maupun tidak. Saya melihat ada yang biasa saja, ada yang luar biasa. Yang biasa jelas biasa saja, tak ada yang membuatnya menonjol atau paling tidak penampilan fisiknya menutupi keluarbiasaan di baliknya. Yang luar biasa ada dua jenis: yang luar biasa cantik dan yang luar biasa amburadul.

Sempat saya bertemu seorang wanita luar biasa di tempat yang biasa. Tempat ini membuatnya makin ruarrrr biassa… Di terminal Blok M yang layaknya terminal bis di Indonesia, berdiri seorang wanita yang tingginya sekitar 170 cm-an, rambutnya sebahu tebal hitam, rok sedikit diatas lutut,blus ukuran pas badan, tas kerja yang elegan dan sepatu yang kinclong. Saya rasa semua mata lelaki tertuju padanya. Mata saya juga tapi hanya melirik karena kalau terlalu mencolok, takut dibilang lesbian.

Saya berpikir, pasti tadi pagi berangkat kerja si mbak ini jauh lebih segar dan rapi. Caranya mengunyah makanan sungguh sangat feminin (gimana ya?). Caranya mencangklong tas juga sangat peragawati (gimana coba?). Apalagi caranya berdiri: tegak, kedua kakinya dijaraki (diberi jarak maksudnya) 20 cm dan lehernya melengkung sedikit seperti mengepit buah apel dengan dagunya. Sungguh seorang wanita cantik dengan sikap tubuh yang anggun.

Saya mulai berandai-andai. Seandainya aku secantik dia. seandainya aku setinggi-langsing dia. Seandainya aku se-pede dia. Seandainya aku sememukau dia. Seandainya aku seperti dia. Apalagi ketika menyadari bahwa para lelaki yang memandangi si mbak ini tak ada satupun yang celometan (berkata-kata nakal, bahasa Jawa). Ideal sekali! Cantik dan tidak diresehi.

Rasanya kok susah untuk tidak bersyukur dengan kondisi si mbak ini ya… Duh, Gusti senengnya jadi dia.

Tiba-tiba saya melihat si mbak mundur perlahan membuat saya beringsut khawatir ketabrak. Dan…

Ooo…

All of a sudden alias ujug-ujug saya bersyukur…

Terima kasih bahwa aku bukan dia. Terima kasih bahwa aku adalah aku. Terima kasih bahwa aku belum sempat mengaguminya lebih jauh. Si mbak tadi buang sampah di saluran air. Dan itu sudah cukup bagi saya untuk tidak menginginkan posisinya, bagaimanapun cantiknya dia. Mungkin tidak ada yang menyadari tapi saya menyadarinya dalam keadaan sangat prihatin dan jauh dari rasa iri atau dengki atau mencela.

Di dalam bis saya menyadari si mbak itu lagi-lagi membuang kulit-kulit permen di bawah bangku yang didudukinya.

Saya kembali berpikir bahwa saya sanggup mengumpulkan sampah sehari dalam kantong plastik di tas saya sampai saya menemukan tempat sampah sedangkan si mbak ini tidak adalah karena jika beliau nyampah di tas maka orang yang tidak secantik dia tidak punya nilai lebih di mata dunia. Duh Gusti… terima kasih saya Kau jadikan aku wanita pengumpul sampah…

Untung saya tak suka mengaca…

February 26, 2009 — 9:33pm

6 thoughts on “SUKA MENGACA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s