December 19, 2009
rike jokanan

9 comments

BERTEDUH DIBAWAH CEMARA

BERTEDUH DIBAWAH CEMARA

Hari makin larut

Di ujung jalan matahari tinggal menunggu gelap sempurna

Kakiku terhenti mengharap jeda

Sebuah batu ceper besar disiapkan bagi para pejalan yang kelelahan

Tepat di bawah cemara yang setia menggugurkan daunnya

Menjadi kasur empuk para pesinggahnya.

Cemara berdesau

Menyambutku dengan ceria,

Menyanyikan lagu diiringi siulan angin.

Cemara bercerita tentang orang-orang yang pernah tertidur

Lalu bangun melanjutkan perjalanan.

Cemara juga menggumamkan tempat-tempat mereka yang tak mau lagi melanjutkan perjalanan dan memilih tidur selamanya.

Kurapatkan selimutku

Angin begitu akrab dengan cemara

Mereka bercengkerama seakan tak peduli getirnya rasa beku

Yang menusuki kulit, daging dan tulangku yang makin renta.

Kain ini tak cukup tebal untuk melindungi badanku

Tapi masih juga kurapatkan sehingga badanku meringkuk kaku.

Aku kedinginan.

Malam tiba

Diiringi bintang-bintang dan bulan yang bergabung bersama angin

Menambahkan intrumen musik dibelakang lagu cemara.

Kisah-kisahnya ternyata tak hanya tentang kami para pengembara

Melainkan juga tentang dewa-dewi yang tersesat di hutan ini.

Tawa Mars dan Venus membuat cemara semakin bersemangat.

Badanku membatu

Tapi telinga dan jantungku tetap berfungsi.

Cerita cemara menyelusup ke dalam cuping kupingku lalu menghidupkan jantungku.

Kadang detaknya cepat, kadang tak bergairah.

Hanya karena cemara perasaanku bisa seperti ini?

Andai malam tak datang, aku tak bakal bergelung kaku disini.

Oh, Matahari

Segeralah terbit. Aku tak tahan cerita cemara.

Kudengar bintang-bin
tang riuh rendah menertawakan sebuah kisah.

Bulan tertawa lembut seperti seorang putri.

Angin tertawa hingga tersedak.

Mars dan Venus saling meledek membumbui berita.

Cemara…

Kisah apakah itu? Yang panjang tak membuat pendengarmu jemu?

Kurapatkan telingaku pada angin.

Biar kudengar dengan baik runtutannya.

Mereka berbicara tentang kaki yang katanya seperti sebatang kayu.

Mereka berbicara tentang rambutku yang seperti ijuk.

Mereka berbicara tentang tanganku yang seperti dahan.

Mereka berbicara tentang bibirku yang seperti rekahan tanah kering.

Mereka bicara tentang mataku yang seperti danau keruh.

Mereka bicara tentang punggungku yang seperti batu gunung.

Mereka bicara tentang hidungku yang seperti buah pir.

Mereka bicara, mereka bicara hanya tentang aku.

Semalaman.

Dan hanya memburukiku.

Cemara…

Mengapa kuberhenti disini?

Mengapa?

Hanya karena aku takut berjalan di malam hari.

Hanya karena kusangka perjalanan harus ditempuh saat siang.

Hanya karena aku merasa sendiri.

Cemara…

Kutarik selimutku

Kutarik semua ototku,

Kuterbangun

Membangunkan kau dan teman-temanmu dari gelak-tawamu.

Bergegas

Kulanjutkan perjalanan.

Mengejar matahari

Hingga bumi jadi persegi!!!

Selamat tinggal, cemara.

Telinga dan jantung ini masih milikku.

Jl. Syekh Yusuf – 19 Desember 2009 – 11:00 pagi

9 thoughts on “BERTEDUH DIBAWAH CEMARA

  1. rikejokanan said: Jl. Syekh Yusuf – 19 Desember 2009 – 11:00 pagi

    tepatnya..?

    Like

  2. rikejokanan said: Jl. Syekh Yusuf – 19 Desember 2009 – 11:00 pagi

    kuwi kan kampus UNIS he he he

    Like

  3. rikejokanan said: Jl. Syekh Yusuf – 19 Desember 2009 – 11:00 pagi

    walah alahhhh…..nang mburi pasar mBabagan ta mbakk, hihihi

    Like

  4. ohtrie said: walah alahhhh…..nang mburi pasar mBabagan ta mbakk, hihihi

    lha iyo tooo…. mburine Pasar Babakan he he he… sampeyan ki kok apal tenan karo Tangerang…

    Like

  5. rikejokanan said: lha iyo tooo…. mburine Pasar Babakan he he he… sampeyan ki kok apal tenan karo Tangerang…

    hehehhee….piye nggak apal ta mBak, wong gaweane keliling ider sol sepatu kok….:))

    Like

  6. ohtrie said: hehehhee….piye nggak apal ta mBak, wong gaweane keliling ider sol sepatu kok….:))

    lhah… jebuleee… liyane angon njenengan ternyata nge-sel yo ha ha ha

    Like

  7. rikejokanan said: lhah… jebuleee… liyane angon njenengan ternyata nge-sel yo ha ha ha

    lah khan kudu pinter2 memqnfaatkan peluang taa…hihihi….sampean nduwe dagangan apa mbak….?Loh sik sik tak edhit sik mBak….jebule kuwi tulisane NGSEL ta mbak…bwaaaahhhhhhhh…. emange kon dadi siji karo Arthalytha paaaa….

    Like

  8. ohtrie said: lah khan kudu pinter2 memqnfaatkan peluang taa…hihihi….sampean nduwe dagangan apa mbak….?Loh sik sik tak edhit sik mBak….jebule kuwi tulisane NGSEL ta mbak…bwaaaahhhhhhhh…. emange kon dadi siji karo Arthalytha paaaa….

    ha ha ha ha….lha ning sel kan pueneeek… ono karaoke, arep facial yo kari ngundang. opo ora kepenak. mengko ternakmu kuwi gowo sisan mrono ben golek rambanan nang sel liyane ha ha ha…

    Like

  9. rikejokanan said: ha ha ha ha….lha ning sel kan pueneeek… ono karaoke, arep facial yo kari ngundang. opo ora kepenak. mengko ternakmu kuwi gowo sisan mrono ben golek rambanan nang sel liyane ha ha ha…

    good idea……paluk mBak Rikeee….:))

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: