January 18, 2010
rike jokanan

5 comments

TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU

TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU

Bicara tentang tuhan seakan bicara tentang “what is inside a storage room”. Gudang di rumah ibu saya remang-remang dan jendelanya menghadap ke gudang rumah sebelah. Ruang itu hanya terang ketika ibu atau kakak perempuan saya mengambil sesuatu. Selebihnya pitch black.

Kenapa saya bicara tuhan hari ini? Karena ingatan saya tiba-tiba terbang ke masa kecil yang ternyata cukup spiritual. Topik percakapan saya dengan teman kecil saya adalah mimpi dan pertemuan manusia dengan tuhan.

“Aku kemarin ketemu Gusti Allah, Mbak,” kata adik teman saya.

“Dimana, Dik?” tanya saya

“Di bawah pohon waru itu lho. Aku dijak ngomong tapi aku wegah.” (Aku diajak ngobrol tapi nggak mau: Bahasa Jawa)

“Apa dia bilang kalau dia Gusti Allah, Dik?” tanyaku penasaran.

“Gak, tapi aku tahu kalau dia itu Gusti Allah”.

“Warnanya apa, Dik?” Saya masih penasaran.

Abang.” (merah: bahasa Jawa)

Mosok rupane siji thok, Dik?” (masak warnanya cuma satu?; Bahasa Jawa)

“Ada hijaunya sedikit. Dan dia bawa tasbeh.” (tasbih, Bahasa Jawa)

“Kemarin pasiennya ibuku juga ada Gusti Allah-nya, dia teriak-teriak. Dia bilang katanya dia itu Gusti Allah. Sama ibuku dikasih makan terus dia bilang terima kasih terus pulang. Gusti Allah ki tibake gendheng yo, Dik…”. (Gusti Allah ternyata gila ya: Bahasa Jawa)

Begitu bebasnya kami bicara tentang tuhan saat itu tanpa ada yang menangkap walaupun kami ngobrol di hadapan seorang perwira yang sensitif SARA. Malahan beliau dan istrinya tergelak gembira melihat kami bertiga.

Indahnya masa itu ketika bicara ngawur tentang tuhan tidak membuat kami merasa berdosa dan juga tak membangkitkan amarah orang di sekitar kita. Kadang saya berpikir mengapa usia yang makin tua justru membuat manusia semakin pemarah dan tertutup.

Tuhan menjadi sangat ekslusif. Bahkan belum sempat bicara lebih lanjut pun sudah langsung ada plang besar dipasang “tak akan mampu memikirkan tuhan”. Kesantunan menjadi kriteria utama sebelum kemudian ada ilmu dan akhirnya kejujuran baru boleh diperankan. Jadi bicara jujur tentang tuhan sangat terbatas karena kalau tidak sesuai dengan kesantunan kepada tuhan dan keterbatasan ilmu tentangnya maka terlarang hukumnya.

Bagaimana kita bisa dekat dengan Tuhan jika berbicara tentangnya pun seakan diberangus? Bagaimana pikiran ini akan terbuka jika ternyata Tuhan hanya sebatas indoktrinasi.

Bukankah Tuhan ingin dikenal oleh ciptaan-Nya? Bagaimana kalau ternyata cara para ilmuwan mengenalkan Tuhan kurang tepat sehingga banyak manusia akhirnya mati kafir? Kafir dalam hal ini adalah “tertutup” dari pengetahuan tentang Tuhan yang sejatinya. Bagaimana kalau ternyata Tuhan telah dipolitisir untuk kepentingan golongan tertentu yang sedang berkuasa? Bagaimana aku bisa merasakan berwarnanya Tuhan jika tak kutemukan suasana yang tepat untuk ngobrol tentang Tuhan?

Alangkah lucunya ekspresi adik temanku yang mengatakan tuhan berwarna merah-hijau membawa tasbih. Dan alangkah lugunya aku yang menganggap orang yang mengaku tuhan adalah Tuhan padahal
dia adalah orang gila yang tiap pasaran Kliwon datang ke klinik orang tua kami karena tiap pasaran Kliwon orang-orang pedalaman “turun” ke pasar sekaligus suntik sehat atau berobat kepada bapak dan ibuku.

Oh, Tuhan… Engkau begitu berwarna bagi manusia mini yang matanya jujur. Engkau juga gila karena membiarkan dirimu dikenal secara tak benar sehingga banyak yang menyembah tuhan yang bukan sebenar-benarnya Tuhan.

Banyak orang bersaksi tentang Engkau, sedangkan mereka bersaksi palsu semata-mata karena begitu harusnya.

Duh Gusti Allah, yang pasti Engkau ini Mahasegala. Bagaimanapun orang yang mengenal-Mu pun hanya mampu berkata: tak ada yang menyerupai dia. Seorang Musa pun langsung semaput melihat gunung yang hancur melihat-Mu. Aku hanya bisa berkata: embuh lah (entah: Bahasa Jawa).

Banyak orang merindukan bicara tentang Tuhan karena kamarahannya sudah di ubun-ubun dan Tuhan masih disembunyikan oleh penguasa di gudang ilmu yang gelap gulita.

Keramat – 9:08 malam 17 Januari 2010

5 thoughts on “TUHAN BERWARNA DI MASA KECILKU

  1. warnanya seindah pelangi ya..? hehehe

    Like

  2. roebyarto said: warnanya seindah pelangi ya..? hehehe

    pelangi ciptaan tuhan he he he…

    Like

  3. roebyarto said: warnanya seindah pelangi ya..? hehehe

    Yg membedakan anak2 dng manusia dewasa adalah kemampuan utk berfantasi. Semakin tua, manusia semakin diharapkan utk mendewasakan dirinya dengan menjadi lbh realistis dan juga semakin berilmu. Mengenai mengenal Tuhan lbh dekat tentu akan lbh ‘sampai’ kalau sudah ada ilmunya. Jangankan Tuhan, hal2 sederhana lain dlm hidup tentu harus mulai dilihat dr kacamata yg berbeda dari kacamata polos yg dulu kita kenakan saat kita masih kecil. Bukan berarti kemudian terkungkung oleh indoktrinasi, sama sekali bukan. Kita masih punya kebebasan kok utk mengenalNya dng cara kita sendiri. Aku lbh nyaman mengenal Tuhan melalui ciptaanNya dan surat2 cintaNya. Rasa dan pikir biasanya jadi satu saat mendekatiNya.

    Like

  4. penuhcinta said: Yg membedakan anak2 dng manusia dewasa adalah kemampuan utk berfantasi. Semakin tua, manusia semakin diharapkan utk mendewasakan dirinya dengan menjadi lbh realistis dan juga semakin berilmu. Mengenai mengenal Tuhan lbh dekat tentu akan lbh ‘sampai’ kalau sudah ada ilmunya. Jangankan Tuhan, hal2 sederhana lain dlm hidup tentu harus mulai dilihat dr kacamata yg berbeda dari kacamata polos yg dulu kita kenakan saat kita masih kecil. Bukan berarti kemudian terkungkung oleh indoktrinasi, sama sekali bukan. Kita masih punya kebebasan kok utk mengenalNya dng cara kita sendiri. Aku lbh nyaman mengenal Tuhan melalui ciptaanNya dan surat2 cintaNya. Rasa dan pikir biasanya jadi satu saat mendekatiNya.

    iya, semua punya pilihan untuk mengambil jalan mana yang ditempuh untuk memahami kebenaran dan tidak ada yang berhak mengadili kecuali Pemilik Kebenaran itu sendiri. dan Pemilik Kebenaran juga tidak boleh di-klaim sebagai sebuah entitas milik sebuah kelompok yang meng-klaim dirinya benar.dalam pandanganku kepolosan anak-anak itu bukan untuk ditelan mentah tetapi keberanian dan kejujuran mereka dalam bertanya lah yang kujadikan patokanku untuk tidak malu-malu menanyakan hal yang menurut orang dewasa terkesan bodoh dan tidak ilmiah. ketika orang dewasa “menghindari” pertanyaan “aneh” (tidak ilmiah atau tidak relijius) karena mereka merasa “orang dewasa tidak boleh begitu” maka itu adalah awal dari kelengahan seseorang terhadap kejujuran pada dirinya sendiri.cara bertanya adalah kuncinya; bukan isi pertanyaannya.aku pribadi memilih untuk terbuka karena kebenaran bukan monopoli sekelompok orang atau kata-kata.semoga kita bertemu di lautan kebenaran yang hakiki ya, Mbak Irma… I love you…

    Like

  5. penuhcinta said: Yg membedakan anak2 dng manusia dewasa adalah kemampuan utk berfantasi. Semakin tua, manusia semakin diharapkan utk mendewasakan dirinya dengan menjadi lbh realistis dan juga semakin berilmu. Mengenai mengenal Tuhan lbh dekat tentu akan lbh ‘sampai’ kalau sudah ada ilmunya. Jangankan Tuhan, hal2 sederhana lain dlm hidup tentu harus mulai dilihat dr kacamata yg berbeda dari kacamata polos yg dulu kita kenakan saat kita masih kecil. Bukan berarti kemudian terkungkung oleh indoktrinasi, sama sekali bukan. Kita masih punya kebebasan kok utk mengenalNya dng cara kita sendiri. Aku lbh nyaman mengenal Tuhan melalui ciptaanNya dan surat2 cintaNya. Rasa dan pikir biasanya jadi satu saat mendekatiNya.

    Sepakat Ke. Ndak ada paksaan dlm agama, kan? Sebagai pendidik aku juga berpatokan bahwa gak ada yg namanya ‘pertanyaan bodoh’ apalagi yg didorong ketulusan mencari kebenaran.Aaamin…semoga ya Ke. I love you too…mhuaaah!

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: