February 16, 2010
rike jokanan

3 comments

SIMBOL ATAU MAKNA MANA YANG LEBIH PENTING (bagian 2)

SIMBOL ATAU MAKNA

Mana Yang Lebih Penting?

(Bagian 2)

Sekali simbol terungkap maka akan segera terbuka pulalah lapisan pembatas cakrawala kita. Seperti lapisan pelangi yang sebenarnya bukan mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu tak cukup mewakili warna yang ada di semesta raya ini.

Merah berarti berani? Benarkah? Itu hanya budaya kita. Menurut budaya lain, merah adalah simbol kegembiraan. Di budaya yang lain lagi, mereka menyebut merah berarti darah alias kematian. Budaya yang lain bisa saja menyebut kualitas lain. Hitam bisa saja berarti apa saja tergantung apa yang dilihat seseorang dibalik warna hitam. Alangkah jamaknya makna yang dapat ditangkap dari sebuah simbol.

Mana yang lebih penting?

Simbol atau makna?

Atau keduanya?

Tak bisa keduanya, harus ada salah satu mengalah pada yang lain. Lihatlah foto diatas judul tulisan saya ini. Apa yang Anda lihat? Simbol atau makna?

Bisa saja Anda segera berkesimpulan bahwa gambar diatas penuh makna. Artinya Anda menganggap bahwa lukisan tersebut merupakan simbol yang dibaliknya tersimpan lika-liku pelajaran yang membuat pemaknanya memahami sesuatu.

Mungkin juga Anda berkata “gambar diatas hanya simbol” maka Anda telah siap dengan kepelikan yang akan Anda buat sendiri untuk menjadikannya penuh makna.

Jadi ada saat kwtika Anda memahami sesuatu sebagai simbol; saat yang bersamaan orang lain menjadikannya makna. Sebaliknya, juga bisa.

Ada sebuah persyaratan mutlak supaya sesuatu menjadi simbol sekaligus makna pada saat yang bersamaan. Dan itulah ketika dua pandangan yang bertentangan mampu memahami simbol dan makna sebagai suatu kesatuan.

Contohnya:

Seorang istri menganggap anak adalah investasi yang nanti kalau si anak udah gede mereka bisa menjadi tempat mereka berteduh sambil menunggu Pengelana menjemputnya. Sang suami menganggap anak itu sebagai beban yang harus segera dibebaskan dengan kerja keras sehingga disaat sang ayah tua dia sudah tak harus dibebani urusan anak lagi. Apakah keduanya memandang dengan persepsi yang sama? Tidak!

Sang ibu memahami anak sebagai sebuah makna yang apabila diselami akan menjadikannya bahagia: makna yang mendalam bisa membuat sang ibu bertahan menghadapi kesakitan batin “disakiti” anak. Sang ayah memahami keberadaan anak sebagai simbol perjuangan jika sudah tuntas akan menjadi penuh makna dengan datangnya: kemenangan.

Apakah Anda ingin berpikir sebaliknya? Tak mengapa. Saya terima. Karena seumpama mengupas bawang, Anda berhak menguliti apa yang baru saja saya kuliti. Jika mata Anda telah pedih Anda boleh juga berhenti atau tak berhenti.

Ukuran simbol dan makna: sekuat Anda, batas keletihan tak terukur karena Pemilik simbol dan makna sungguh tak berbatas apa-apa.

Keramat – Februari 2010 – 9:53 malam

3 thoughts on “SIMBOL ATAU MAKNA MANA YANG LEBIH PENTING (bagian 2)

  1. aaccchhhh……pertanyaan yang hamoir serupa antara “duluan mana, telur atau anak ayam…?”Hal yang tak cukup bisa dimengerti sebagai sebuah bahan perdebatan, serupa dengan satu keadaan badan sebagai simbul berujudnya kita manusia berbadani…. tak bisa dikatakan manusia bila tanpa simbul itu. Namun tak cukup dimaknai hanya sebagai wujud manusia… lebih dari itu adalah pemaknaan dari kita dilahirkan sebagai manusia ini. Banyak makna disana tergantung pribadi kita….Dan kejernihan berpikr dengan menggunakan otak adalah pintunya, serta berrasa diri dengan hati adalah kuncinyaDan anda pun bebas memaknainya….

    Like

  2. ohtrie said: aaccchhhh……pertanyaan yang hamoir serupa antara “duluan mana, telur atau anak ayam…?”Hal yang tak cukup bisa dimengerti sebagai sebuah bahan perdebatan, serupa dengan satu keadaan badan sebagai simbul berujudnya kita manusia berbadani…. tak bisa dikatakan manusia bila tanpa simbul itu. Namun tak cukup dimaknai hanya sebagai wujud manusia… lebih dari itu adalah pemaknaan dari kita dilahirkan sebagai manusia ini. Banyak makna disana tergantung pribadi kita….Dan kejernihan berpikr dengan menggunakan otak adalah pintunya, serta berrasa diri dengan hati adalah kuncinyaDan anda pun bebas memaknainya….

    prikitiwwwwww ha ha ha

    Like

  3. rikejokanan said: prikitiwwwwww ha ha ha

    bweheheheheeeee………sip sip mBakk….

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: