February 17, 2010
rike jokanan

4 comments

LUPA

LUPA

Sepanjang jalan pulang tadi sebuah outline tulisan sudah siap tertuang begitu kelar pekerjaan rumah. Sepertinya ide sederhana itu cukup layak untuk mewakili sedebu pikiran saya.

Membersihkan pasir kucing

Membuang sampah

Mengepel lantai

Menyiapkan makan pagi

Merendam pakaian

Dll yang kecil-kecil

Beres.

Duduklah saya di depa
n laptop tersayang.

Siap mengetik.

Duh aku lupa!

Ide apa gerangan yang tadi siap diekspresikan? Topik apa yang tadi membuat saya tersenyum lebar antara Kebayoran dan Tangerang? Sekarang dimana terselipnya untaian kata yang tadinya berjejer seperti rantai karbon persenyawaan kimia alam raya?

Ah sungguh namanya lupa itu absolutnya tidak ingat.

Hanya dalam hitungan jam ide saya lenyap. Seperti ludesnya debu tipis di sapu lap basah.

Lhadalah! Kalau baru beberapa jam saja pikiran sudah tak mampu mengingat, apa tah lagi memoriku yang paling dahulu? Memoriku yang paling tua, berkerak di dasar gudang bawah sadarku. Ada jutaan ingatan yang bertumpuk kemudian lapuk menua/membusuk rusak dan merusak/mengeras dan mengerak/bertumpuk dan terjepit/menyepi: menjadi fosil yang hanya bisa dipindai dengan zat kimia mahal dalam proses fusi dan fisi berupa ketelatenan mengekspresikan keingintahuan tentang memori yang – mari kita namakan – khazanah yang tersembunyi.

Ada bagian paling purba dalam memoriku yang sangat berharga tapi belum juga kuingat. Mungkin karena tertutup jutaan kemuraman dan keceriaan hari-hari. Terabaikan…

Wow! Bagaimana aku bisa mengingatnya kembali ya? Dulu aku pernah hidup di alam jiwa dan mengenal kalian semua. Kalau sekarang ternyata saya lupa kita pernah saling mengenal, itu karena ingatan ini sudah menjadi batu tua. Tulang-belulang ingatanku lebih tua dari batubara. Lebih renta daripada prasasti tertua.

Ingatan: yang hilang dari manusia karena terlalu sibuk mengurus badan daripada yang dihantarkan badan.

Tak salah. Lupa adalah kewajaran yang dalam agama tidak dicatat dosa. Pemaklumannya disetarakan dengan tidak berdosanya orang gila.

Singkatnya, tak mengapa lupa karena yang pernah direkam pasti bisa diputar ulang jika dan hanya jika kasetnya bisa ditemukan diantara tumpukan data di perpustakaan jiwaku.

Maaf, ide yang tadi saya siapakan tak bisa saya sajikan. Karena LUPA. Insya Allah, saya akan mempersembahkannya pada Anda jika dan hanya jika sudah INGAT.

Wahai ingatan purbaku, kembalilah. Aku ingin mendengarkan kepingan album jiwaku. J

Keramat – 15 Februari 2010 – 9:42 malam

4 thoughts on “LUPA

  1. numpang lewat dulu mbakk, blm sempet baca. makasihhh..

    Like

  2. Ini bagian dari pengabadian juga tho bR… kalau lupa sejenis penyakit ia lalu menjadi tak tersembuhkan tepat ketika titik terakhir dibubuhkan di akhir tulisanmu.

    Like

  3. ohtrie said: numpang lewat dulu mbakk, blm sempet baca. makasihhh..

    sumonggo…

    Like

  4. ekosilatif said: Ini bagian dari pengabadian juga tho bR… kalau lupa sejenis penyakit ia lalu menjadi tak tersembuhkan tepat ketika titik terakhir dibubuhkan di akhir tulisanmu.

    yes, pE… lha ada hadits bilang bahwa semua penyakit bisa disembuhkan kecuali PIKUN.. semoga lupaku hanya sementara. amin… 🙂

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: