July 21, 2010
rike jokanan

2 comments

OCEHANKU TENTANG KLAKSON

OCEHANKU TENTANG KLAKSON

Ini hari kedua di Jogja. Bukan untuk klenceran karena banyak uang melainkan untuk tugas justru nyari uang supaya bisa mbayar segala keperluan hidup. Ingat: keperluan bukan keinginan. Jadi ya seneng-senengnya ya dalam rangka menambah pengalaman bukan menambah pengeluaran. Pengeluaran kator tetep ada tetapi itu hitungannya berbeda.

Tetapi bukan itu yang ingin saya utarakan sekarang. Saya punya cerita sederhana yang mengingatkan saya betapa dulu saya pernah menjadi seseorang yang “bersih hati” tanpa pikiran buruk seburuk apapun perlakuan orang lain kepada saya. Itu artinya saya telah berubah menjadi manusia yang bersegera menangkap intensi buruk orang bahkan ketika orang tersebut tidak bermaksud buruk.

Hari pertama perjalanan ke kebun jagung kami disupiri oleh seorang management staff perusahaan client kami. Beliau bukan petinggi tetapi juga bukan perendah (ini kata yang saya pilih sendiri supaya agak nyambung secara gramatikal (eror) dengan kata petinggi he he he…). Beliau pernah tinggal di sebuah pulau kecil dan baru tiga tahun di Jogja. Kata beliau tinggal di Jawa (Jogja, menurut saya) membuat dia punya sedikit lebih banyak sopan santun daripada ketika beliau di pulau tertentu yang dia tinggali tersebut. Kata beliau dulu kalau disuguh ya langsung dia embat, sekarang dia menjadi orang yang penyabar walaupun perutnya sudah keroncongan; menanti dipersilakan oleh sang penyuguh makanan. Juga ketika di jalan, dia akan selalu mengklakson sambil tersenyum sebagai tanda permisi mau lewat.

Menglakson inilah yang menarik.

Selama perjalanan disupiri Pak supir, kami hanya mendengar satu kali bunyi klakson dari kendaraan lain yaitu sebuah motor. Tak ada bunyi klakson seperti yang saya dengan di Jabodetabek yang bersahutan menandakan ramainya keinginan penendara untuk sampai tujuan dengan cepat tanpa hambatan padahal kenyataannya memang mesti macet. Dan, Pak supir ini juga tak tertarik untuk membunyikan klakson kecuali satu kali.

Dari jauh saya sudah melihat seorang nenek tua sedang sibuk “ngorak-arik gabah” (membolak-balik padi) yang sedang dijemur di setengah ruas jalan desa. Begitu (mungkin) mendengaran deruman mobil, simbah segera berhenti ngorak-arik gabah, minggir sedikit memberikan jalan yang lebih lebar pada mobil kami.

Saya mengira Pak supir akan melenggang. Eh, ternyata beliau membunyikan klakson sambil mengangguk dan tersenyum pada simbah. Dan simbah itu dengan takzim tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Bagi seseorang yang punya sejarah jahat, itu biasa. Tetapi saya yang punya sejarah baik maka itu kelebihan simbah dan supir. Seandainya saya simbah, maka saya akan memandang masam kepada mobil yang tidak semestinya menggilas gabahnya. Tetapi dia tetap tersenyum – inilah reaksi yang akan saya rupakan jika ini terjadi tiga atau empat setengah tahun lalu – : mungkin dia prihatin kenapa tiba-tiba ada mobil lewat jalan yang biasanya hanya dilewati motor atau sepeda pancal. Dia menganggap klakson itu lebih sebagai ganti kata “Numpang lewat, Mbah…” daripada kalimat “Minggir lo!” Dan si supir menglakson juga ternyata sebagai ekspresi numpang lewat ketimbang sebagai pengingat bahwa simbah kudu minggir; padahal bukan salah pengendra karena memang itu jalan umum bukan halaman rumah (si supir mengatakannya kemudian bahwa itu sebagian dari unggah-ungguh berkendara.. Jogja gitu loooh).

Lihatlah, kelakuannya sama (membunyikan klakson) tetapi dengan takzim yang berbeda dan hati yang lembut maka hasilnya bebeda pula.

Itulah sekedar berbagi saya yang mulai hobi dan-din-dan-din dengan klakson saya sebagai dampak ikutan dari mendengar ekspresi emosi sesama pengendara berupa teriakan lewat klakson.

Ah, seharusnya aku diam saja… tersenyum saja, menunggu dalam diam saja daripada kudu ngedumel di dalam helm sambil mengurangi emosi dengan menekan tanda trompet di motor saya. Emosi memang perlu disalurkan tetapi dengan sedikit kelembutan emosi panas menjadi hangat dan bersahabat… dengan kelembutan.

Quality Hotel Jogja Lt 7 – 21 Juli 2010 – 9:53 malam

2 thoughts on “OCEHANKU TENTANG KLAKSON

  1. Oleh-oleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!

    Like

  2. smallnote said: Oleh-oleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!

    apaan, orang buku sama kaos aja baru dibungkus tapi belum juga nyampai kantor pos ha ha ha… baiklah tapi aku tidak bisa janji untuk yang selain buku dan kaos yak… 🙂

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: