October 25, 2010
rike jokanan

15 comments

Tulisan Nggak Jelas Tentang Connecting Door

TULISAN NGGAK JELAS TENTANG CONNECTING DOOR

(semoga Tuhan ampuni dosa orang yang tidak mau menutup telinganya ini)

J

Pernah menjadi penghuni tetap selama 2 bulan di sebuah hotel dekat bandara Adi Sucipto, Jogja membuat saya membayang-bayangkan kegiatan apa saja yang biasa dilakukan oleh para tamu utamanya ketika di dalam kamar. Kalau saya sih udah jelas selain makan, internetan (yang lambatnya alamakjan), bikin report kerjaan, ngemil gratis tiap jam 5 sampai jam 7 petang. Tamu-tamu ada yang kalau jam segitu ndengerin gamelan di lobi, karaokean di pub, pijitan di basement, renang di pool, makan di restoran, ngelayap atau apalah. Entahlah tak jelas… yang lebih nggak jelas adalah kegiatan tamu kamar sebelah.

Saya tergolong kurang beruntung karena tinggal di kamar yang ada connecting door-nya. Jadi… kalau tamu sebelah ngorok, saya denger. Kalau bawa anak-anak, ya ramenya naudzubillah. Kalau nonton TV, ya saya ikutan ndengerin acaranya apa. Kalau mereka membicarakan rahasia negara, saya juga pernah dengar ha ha ha…

Tapi yang paling menarik adalah kalau mereka bawa “teman”, saya juga grisenen (bukan bahasa Belanda, ini adalah kata dalam bahasa jawa yang artinya terganggu). Ya bagaimana tidak… wong tamunya itu tamu spesial… pakai cekikikan, merayu-rayu, trus pakai mengeluarkan suara-suara misteri yang kalau saya belum dewasa maka saya pasti penasaran ngintip.

Nah… ada satu yang jadi bahan diskusi saya dan teman ngobrol. Kok suara misteri itu seperti dihasilkan oleh satu orang yang sama. Nada suara dan pitch-control-nya sama buanget… Padahal tamu di kamar sebelah itu ganti-ganti lho… (maaf tidak menerima protes karena kami udah konfirmasi dengan kru hotel tentang itu).

Dalam seminggu saya bisa mendengar suara misteri itu 1 – 3 kali. Bayangkan gimana nggak hapal.

Saya heran:

  1. Kenapa hotel sebesar itu dindingnya tidak kedap suara?
  2. Kenapa kamar itu apes disewakan pada orang-orang yang mengeluarkan suara misteri?
  3. Kenapa mesti ada connecting door?
  4. Dll keheranan yang hanya akan memperpanjang tulisan nggak jelas ini…

Ya sudahlah…

Tapi kenapa hari ini saya mampir di hotel yang sama? Dan ditempatkan di kamar yang sama? Dan… sedang ada suara misteri dari nada dan pitch-control yang sama? Teman sekamar saya kali ini bukan yang dulu lagi. Tanpa basa-basi dia hidupkan televisi dengan volume yang cukup tinggi untuk bisa membangunkan orang budheg tidur. Lalu kami tertawa bersama.

Oalah… connecting door… Barusan saya menikmati cemilan gratis dan konfirmasi apakah “orang itu” adalah orang yang sama. Mereka bilang “iya, udah biasa disini, Mbak. Kalau nggak di lantai tujuh ya di lantai lapan”. Pantesan…

Jogja, 25 Oktober 2010 – 7:07 sore

15 thoughts on “Tulisan Nggak Jelas Tentang Connecting Door

  1. bwahaha.. parah amat ;)) hihi.. jangan kepengen ya mba 😛

    Like

  2. musimbunga said: bwahaha.. parah amat ;)) hihi.. jangan kepengen ya mba 😛

    untungnya aku kok ada teman ngobrol jadi kan nggak fokus banget sama suara misteri itu. malahan ngakak habis… that’s what friends are for. lho? =))

    Like

  3. rikejokanan said: untungnya aku kok ada teman ngobrol jadi kan nggak fokus banget sama suara misteri itu. malahan ngakak habis… that’s what friends are for. lho? =))

    kalo aku ada di sana mungkin langsung latihan puisi mba 🙂 bwahahaa biar mereka bengong

    Like

  4. musimbunga said: kalo aku ada di sana mungkin langsung latihan puisi mba 🙂 bwahahaa biar mereka bengong

    bener deh, Teh Nia… aku sama temenku tuh ngakak sampai kalau dibikin kartun jadi guling-guling dan keluar air mancur dari mata… mirisnya: kayaknya cowoknya pejabat hi hi hi

    Like

  5. musimbunga said: kalo aku ada di sana mungkin langsung latihan puisi mba 🙂 bwahahaa biar mereka bengong

    wakakakka…aish embuhhh, bosen aku nek kudu crita ngene ikii….

    Like

  6. ohtrie said: wakakakka…aish embuhhh, bosen aku nek kudu crita ngene ikii….

    weleeeehhhhhhhhhhhh… opo nate dijak mlebu karo kebone to, mbah? hua ha ha ha…

    Like

  7. ohtrie said: wakakakka…aish embuhhh, bosen aku nek kudu crita ngene ikii….

    wakakakka, embuh ahhh….. Jkaarta banjir kii, iye aku njaga mbengi jee.. hiks 😦

    Like

  8. ohtrie said: wakakakka, embuh ahhh….. Jkaarta banjir kii, iye aku njaga mbengi jee.. hiks 😦

    gara-garane kan karena kurang pepohonan… jajal to kabeh dipenuhi kumis seperti Bang Foke pasti lak Jakarta rimbun karena airnya diserap kumis eh akar pepohonan hi hi hi…jaga mbengi? awassssss… suara misteri *kuntilanak*

    Like

  9. ohtrie said: wakakakka, embuh ahhh….. Jkaarta banjir kii, iye aku njaga mbengi jee.. hiks 😦

    maksute… rimbun dan tidak banjir ha ha ha

    Like

  10. rikejokanan said: kayaknya cowoknya pejabat hi hi hi

    ooh duniaaa

    Like

  11. rikejokanan said: maksute… rimbun dan tidak banjir ha ha ha

    tiwasna mau tak kon memperjelas je mbakkk.. :p

    Like

  12. musimbunga said: ooh duniaaa

    hi hi hi… Teh Nia… aku tahunya juga dari pegawai2 hotel yang sama aku udah kayak saudara he he he

    Like

  13. ohtrie said: tiwasna mau tak kon memperjelas je mbakkk.. :p

    wis jelas to saiki ne… he he he

    Like

  14. ohtrie said: tiwasna mau tak kon memperjelas je mbakkk.. :p

    Syukuri saja…. atau sukurin aja? :p

    Like

  15. smallnote said: Syukuri saja…. atau sukurin aja? :p

    iye…sukurin… kelamaan nge-hotel…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: